Ilustrasi BBM - Ist. dok. Pertamina Patra Niaga
Harianjogja.com, JAKARTA—Pasokan energi nasional dipastikan tetap aman meski situasi geopolitik di Timur Tengah memanas. PT Pertamina Patra Niaga menyebut sebagian besar pengadaan energi sudah diamankan lebih awal melalui kontrak jangka panjang sebelum muncul isu konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menjelaskan mayoritas pengadaan energi perusahaan dilakukan melalui skema kontrak jangka panjang sehingga tidak terlalu bergantung pada pasar spot yang rentan fluktuasi.
“Untuk Patra Niaga melakukan kontrak pengadaan itu sifatnya ada dua, ada yang jangka panjang (long term) dan pasar spot,” ujar Mars Ega Legowo Putra saat ditemui di Rest Area KM57 Tol Jakarta–Cikampek di Jawa Barat, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, porsi kontrak jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan pembelian di pasar spot. Sekitar 90 hingga 95 persen pengadaan energi telah dikunci melalui kontrak jangka panjang.
“Kebanyakan yang long term daripada yang spot, hampir 90 sampai 95 persen itu sudah long-term. Sudah lock sebetulnya. Sebelum kejadian terjadi geopolitik di Timur Tengah, kita sudah lock pengadaan tersebut,” katanya.
Pertamina Patra Niaga juga terus memonitor proses pengiriman energi dari kontrak tersebut sebagai bagian dari langkah mitigasi risiko yang telah disiapkan.
Mars Ega menjelaskan perencanaan pengadaan energi sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum bulan berjalan. Kebutuhan energi untuk Maret misalnya, telah dipersiapkan sejak Januari.
“Bulan Maret ini sudah kami persiapkan sejak Januari. Jadi sejak Januari itu Pertamina Patra Niaga sudah menyiapkan perencanaan produk untuk Maret, baik yang diproduksi oleh kilang maupun yang kita harus melakukan importasi,” ujarnya.
Dengan sistem perencanaan tersebut, pengadaan energi tidak dilakukan secara mendadak saat kebutuhan meningkat.
Selain itu, pengadaan yang disusun pada Januari juga kembali ditinjau pada Februari sebagai bagian dari evaluasi perencanaan.
“Nanti Maret kami pengadaan lagi, isi lagi. Jadi kalau kita sampaikan hari ini stok itu di atas 21 hari, itu sebetulnya akan rolling terus ada top-up pengisian,” kata Mars Ega.
Indonesia Tidak Impor BBM dari Timur Tengah
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa Indonesia tidak mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan Timur Tengah.
Menurut Bahlil, impor dari wilayah tersebut hanya berupa minyak mentah (crude oil) dengan porsi sekitar 20 persen dari total impor nasional.
Adapun pasokan BBM jadi untuk kebutuhan domestik didatangkan dari beberapa wilayah lain seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara.
Ia juga menyebut kebutuhan BBM jenis solar saat ini sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri.
Kondisi tersebut didukung oleh program pencampuran biodiesel serta mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Meski demikian, Indonesia masih mengimpor salah satu jenis BBM, yakni bensin. “Produk BBM Indonesia yang masih mengimpor dari negara lain hanya berjenis bensin,” kata Bahlil.
Pasokan bensin tersebut sebagian besar didatangkan dari Malaysia dan Singapura untuk memenuhi kebutuhan konsumsi energi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































