Iming Kerja Luar Negeri Berujung TPPO, Disnakertrans Ingatkan Warga

4 hours ago 1

Harianjogja.com, BANTUL— Risiko tindak pidana perdagangan orang (TPPO) masih mengintai warga Bantul yang tergiur bekerja ke luar negeri tanpa melalui jalur resmi. Pemerintah daerah mengingatkan agar masyarakat lebih waspada terhadap tawaran kerja yang tidak jelas sumbernya.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul mencatat masih ada calon pekerja migran yang berangkat melalui jalur ilegal. Kondisi ini membuka peluang terjadinya penipuan hingga eksploitasi di luar negeri.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bantul, Agus Yuli Herwanta, menjelaskan bahwa pendaftaran melalui jalur resmi akan memberikan perlindungan lebih bagi calon pekerja migran. Mereka akan diarahkan ke penyalur resmi setelah memenuhi persyaratan.

"Kadang masih ada yang lewat jalur tidak resmi karena dapat dari kenalan atau informasi teman. Harusnya dijanjikan ke mana, Korea, ternyata ke Malaysia. Tapi Malaysia itu hanya transit saja, langsung ke Kamboja. Nah di Kamboja itulah terjadi TPPO," katanya, Rabu (6/5/2026).

Kasus ini menunjukkan bagaimana modus penipuan kerap menggunakan jalur berlapis untuk mengelabui korban. Negara tujuan awal bisa berubah di tengah perjalanan tanpa sepengetahuan pekerja.

Agus menegaskan pentingnya mencari informasi yang valid sebelum memutuskan bekerja ke luar negeri. Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya pada tawaran yang tidak memiliki kejelasan legalitas.

"Kalau mau bekerja ke luar negeri, carilah informasi yang benar. Carilah informasi yang legal. Itu dulu yang pertama," ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Bantul berencana meningkatkan sosialisasi untuk menekan kasus serupa. Edukasi ini ditujukan agar masyarakat memahami risiko jalur ilegal dan pentingnya prosedur resmi.

Ia juga mengungkapkan bahwa baru-baru ini ada warga Bantul yang menjadi korban TPPO di Kamboja, meskipun akhirnya berhasil dipulangkan.

"Kalau tidak lewat jalur resmi itu dikhawatirkan terjadi kembali," jelasnya.

Di sisi lain, minat masyarakat Bantul untuk menjadi pekerja migran tetap tinggi karena faktor ekonomi. Peluang penghasilan yang lebih besar menjadi daya tarik utama bagi warga.

Pengantar Kerja Ahli Pertama Disnakertrans Bantul, Umi Kadar Utami, menyebut setiap tahun ada sekitar 300 hingga 350 pekerja yang diberangkatkan ke berbagai negara tujuan.

"Bidang kerjanya juga beragam ada perhotelan, merawat lansia, bengkel, pengemudi dan yang lain," ungkapnya.

Negara tujuan meliputi Hongkong, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, hingga Turki dengan berbagai jenis pekerjaan sesuai keahlian.

Namun, ia menegaskan bahwa calon pekerja migran harus memenuhi sejumlah syarat, termasuk kemampuan bahasa asing selain keterampilan teknis.

"Banyak yang tertarik karena dari segi gaji atau bayaran sangat layak, sehingga setiap tahun peminatnya selalu membludak," pungkas dia.

Dengan tingginya minat dan risiko yang menyertainya, masyarakat diharapkan lebih selektif dalam memilih jalur keberangkatan agar tidak menjadi korban penipuan atau perdagangan orang yang merugikan secara finansial maupun keselamatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |