Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Iran secara resmi menyatakan kesiapannya untuk mendukung segala bentuk inisiatif regional yang bertujuan menyelesaikan konflik di Timur Tengah secara adil dan bermartabat. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di kawasan pasca-serangan militer besar-besaran yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir bulan lalu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa meskipun saat ini belum ada usulan perdamaian yang spesifik di atas meja, Teheran tetap membuka pintu bagi upaya diplomasi. Ia menekankan bahwa prioritas utama dari inisiatif tersebut haruslah penghentian perang yang selaras dengan prinsip keadilan bagi semua pihak yang terdampak.
"Saat ini belum ada inisiatif khusus untuk mengakhiri perang. Kami akan menyambut baik inisiatif regional apa pun yang mengarah pada berakhirnya perang secara adil," ungkap Araghchi dalam wawancara eksklusif bersama surat kabar Al-Araby Al-Jadeed, Minggu (15/3/2026).
Sikap senada sebelumnya juga telah ditegaskan oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang berkomitmen untuk mempertimbangkan upaya penguatan persatuan di kawasan. Pezeshkian memandang bahwa pemulihan stabilitas, keamanan, dan perdamaian di Timur Tengah hanya dapat dicapai melalui solidaritas negara-negara tetangga tanpa intervensi eksternal yang merusak.
Krisis ini memuncak sejak 28 Februari 2026, ketika jet tempur AS dan Israel menghantam berbagai target strategis di Teheran yang memicu jatuhnya korban sipil dan kerusakan infrastruktur. Sebagai bentuk perlawanan, Iran merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel serta menyasar fasilitas militer Washington yang tersebar di wilayah Timur Tengah.
Meskipun awalnya dalih serangan tersebut adalah tindakan "pencegahan" terhadap program nuklir, otoritas AS dan Israel akhirnya mengakui adanya agenda terselubung. Pengakuan tersebut mengarah pada upaya penggulingan kekuasaan di Iran, yang memicu kecaman luas karena dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional.
Dengan terbukanya peluang diplomasi dari pihak Teheran, komunitas internasional kini menanti langkah konkret dari para pemimpin regional untuk menengahi ketegangan ini. Inisiatif damai yang mandiri dan berfokus pada stabilitas kawasan diharapkan mampu meredam eskalasi lebih lanjut yang berisiko menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































