Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel saat ditemui usai sesi latihan di Mandala Krida, Senin (16/3/2026) sore. - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Pelatih PSIM Jogja, Jean-Paul Van Gastel, memberikan peringatan keras kepada anak asuhnya untuk tidak terbuai meski Laskar Mataram kini berada di papan tengah klasemen Super League 2025/2026.
Meski memiliki margin poin yang cukup lebar dari zona merah, Van Gastel menilai posisi tim secara matematis belum sepenuhnya terlepas dari ancaman degradasi.
Saat ini, Laskar Mataram bertengger di peringkat kedelapan dengan raihan 38 poin dari 25 laga, unggul 18 angka atas Madura United di zona degradasi.
Di sisi lain, peluang menembus lima besar pun masih terbuka lebar mengingat selisih yang hanya terpaut tiga poin dari Persita Tangerang, namun Van Gastel tetap memprioritaskan keamanan posisi tim di kasta tertinggi.
“Ya, kami belum aman. Ketika saya datang ke sini ada dua hal yang harus saya lakukan: pertama tidak terdegradasi dan kedua meningkatkan standar bagi semua orang di organisasi ini.
Proses itu berjalan lebih lambat dari yang saya inginkan,” tegas Van Gastel usai memimpin latihan di Stadion Mandala Krida, Senin (16/3/2026).
Pelatih asal Belanda tersebut mencermati bahwa transformasi standar klub memerlukan waktu ekstra karena PSIM sempat terjebak di kasta kedua dalam kurun waktu yang sangat lama.
“Klub ini 18 tahun berada di liga kedua. Jadi saya pikir selama 18 tahun mereka seperti tertidur,” ujarnya menyentil sejarah panjang tim sebelum kembali ke level elite.
Van Gastel pun menyayangkan sikap para pemain yang sempat tampil terlalu rileks dalam beberapa laga terakhir, sehingga kehilangan poin-poin krusial yang seharusnya bisa memastikan posisi bertahan lebih awal.
Ia enggan mematok target poin spesifik, melainkan hanya ingin membawa PSIM finis di urutan setinggi mungkin tanpa mengabaikan kewaspadaan di setiap pertandingan sisa.
“Saya tidak punya target poin. Satu-satunya yang saya inginkan adalah mengakhiri musim setinggi mungkin di klasemen. Tujuan pertama tentu saja tidak terdegradasi dan kami berada di jalur yang benar, tetapi kami belum aman,” katanya.
Senada dengan sang pelatih, bek asing asal Argentina, Franco Ramos Mingo, mengakui adanya rasa nyaman dalam skuad namun tetap berjanji untuk tetap fokus.
“Tentu saja, ya. Ketika kami mencapai tujuan kami rasanya akan jauh lebih baik bagi kami. Tetapi sekarang kami belum sepenuhnya aman,” kata Franco.
Punggawa Laskar Mataram baru akan merasa puas sepenuhnya jika misi bertahan di kasta tertinggi musim depan benar-benar telah terkunci secara definitif di akhir musim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































