Kondisi Taman Khusus Parkir (TKP) Senopati nampak sepi pada Kamis (9/4/2026). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melalui Dinas Perhubungan (Dishub) bergerak cepat melakukan penataan baru di kawasan Tempat Khusus Parkir (TKP) Senopati. Langkah ini diambil menyusul kebijakan larangan masuk dan parkir bagi bus pariwisata di area tersebut. Sebagai gantinya, Pemkot akan mengoptimalkan TKP Senopati sebagai pangkalan resmi moda transportasi tradisional seperti andong dan becak.
Guna memperkuat aspek estetika dan citra pariwisata, seusai arahan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, para kusir andong dan pengemudi becak diwajibkan mengenakan pakaian khas Jogja saat bertugas.
Solusi Transportasi Menuju Jeron Beteng
Kepala Dinas Perhubungan Kota Jogja, Agus Arif Nugroho, Minggu (3/5/2026), menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan respons atas tingginya minat wisatawan menuju kawasan Jeron Beteng. Destinasi seperti Malioboro, Kraton Jogja, hingga Kawasan Ngasem kini semakin populer di mata pelancong.
“Setelah tidak ada aktivitas parkir bus pariwisata, TKP Senopati tetap dimanfaatkan oleh wisatawan dan kini banyak diakses kendaraan pribadi maupun Elf. Karena daya dukung parkir di dalam Jeron Beteng terbatas, maka kami siapkan TKP Senopati untuk pemberhentian becak dan andong sebagai moda lanjutan,” jelas Agus.
Area pangkalan transportasi tradisional ini ditempatkan secara strategis, yakni di sebelah utara dan selatan bangunan toilet kaca bawah tanah, serta di antara area parkir tengah dan barat. Lokasi tersebut akan dilengkapi dengan marka khusus dan papan informasi bertuliskan 'order here' untuk memudahkan wisatawan melakukan pemesanan.
Berdasarkan hitungan Satuan Ruang Parkir (SRP), TKP Senopati secara statis mampu menampung sekitar 10 andong dan 30 becak secara bersamaan. Dengan sistem perputaran selama 12 jam operasional, kapasitas hariannya diproyeksikan mencapai 60 andong (asumsi turnover 2 jam) dan lebih dari 200 becak (rata-rata waktu tunggu 1 jam).
Menjaga Kebersihan dan Estetika Budaya
Langkah ini juga diharapkan dapat memecah kepadatan antrean becak dan andong yang selama ini menumpuk di seputaran kawasan Malioboro. Untuk menjaga kenyamanan, para pengemudi moda transportasi tradisional ini diarahkan menggunakan pakaian khas seperti lurik.
Terkait pengelolaan limbah kuda dan teknis titik mangkal, Dishub tengah berkoordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP). Koordinasi ini bertujuan memastikan fasilitas pembuangan limbah tersedia sehingga kawasan wisata tetap bersih dan nyaman bagi pengunjung.
“Prinsipnya kita siapkan dulu tempatnya. Moda transportasi tradisional kita perkuat agar memiliki nilai lebih bagi wisatawan yang ingin menjelajah kawasan Jeron Beteng,” pungkas Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































