Sejumlah peserta menerbangkan pesawat tanpa awak saat Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025 yang diikuti 28 kampus di Indonesia, Padang, Sumatera Barat, Senin (20/10/2025). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU - aa.
Harianjogja.com, JAKARTA — Pemerintah Indonesia kian agresif memperluas diplomasi pendidikan di kawasan Asia Tenggara hingga Pasifik Barat. Strategi ini dijalankan melalui penguatan program beasiswa, pelatihan, serta kolaborasi riset guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia lintas negara.
Langkah tersebut digerakkan oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Dili dan KBRI Manila, yang memaparkan perkembangan terbaru dalam forum internasional bersama UNESCO.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Tasrifin Tahara, menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dengan Timor Leste kini difokuskan pada program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu terobosan yang tengah dijalankan adalah pembukaan kelas khusus Fakultas Kedokteran bagi mahasiswa Timor-Leste di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Selain itu, program Vocational Sister School juga dikembangkan untuk memperkuat keterampilan vokasi generasi muda Timor-Leste. Program ini dinilai krusial dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis kompetensi.
Minat pelajar Timor-Leste untuk menempuh pendidikan di Indonesia pun terus meningkat. Melalui skema beasiswa seperti Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan Indonesian AID, Indonesia menjadi destinasi utama. Pada 2025, tercatat sekitar 350 mahasiswa menerima beasiswa untuk belajar di Indonesia, sementara total mahasiswa asal Timor-Leste mencapai sekitar 1.800 orang yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
“Hubungan personal menjadi kunci keberhasilan kerja sama internasional. Diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang formal, tetapi juga melalui interaksi keseharian,” kata Tasrifin.
Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Nina Yulianti, mengungkapkan Indonesia mulai membidik kawasan Pasifik sebagai mitra strategis baru. Negara seperti Palau dan Kepulauan Marshall tengah dipetakan untuk kerja sama pendidikan dan peningkatan kapasitas SDM.
Indonesia menawarkan program Indonesian AID Scholarship sebagai pintu masuk, sekaligus membuka peluang kerja sama lain seperti pertukaran budaya, studi di perguruan tinggi Indonesia, hingga pelestarian bahasa Austronesia yang menjadi warisan bersama kawasan.
Data UNESCO menunjukkan sekitar 59.000 pelajar Indonesia menempuh pendidikan di luar negeri pada 2024. Di sisi lain, Indonesia juga semakin dilirik sebagai tujuan studi oleh negara-negara berkembang, terutama di Asia Pasifik.
Tren ini menegaskan posisi Indonesia yang tidak hanya aktif mengirim pelajar ke luar negeri, tetapi juga tumbuh sebagai pusat pendidikan regional yang kompetitif. Diplomasi berbasis pendidikan pun menjadi instrumen strategis untuk memperkuat pengaruh Indonesia di tingkat global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































