Harianjogja.com, JOGJA— Nama PO ALS kembali menjadi sorotan publik di tengah kabar kecelakaan maut di Musi Rawas Utara yang menewaskan 16 orang. Di balik peristiwa tersebut, ALS dikenal sebagai salah satu perusahaan otobus legendaris dengan sejarah panjang dalam menghubungkan berbagai kota di Sumatera hingga Pulau Jawa.
Dilansir dari berbagai sumber, PO ALS atau Antar Lintas Sumatera resmi berdiri pada 29 September 1966 di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, diprakarsai H. Sati Lubis bersama enam saudagar bersaudara lainnya. Awalnya, usaha ini berangkat dari penggunaan truk untuk mengangkut hasil bumi sebelum akhirnya berkembang menjadi layanan transportasi penumpang.
Pada masa awal operasional, ALS membuka trayek Kotanopan–Medan menggunakan armada Chevrolet C50. Seiring berkembangnya usaha, pusat operasional dipindahkan ke Medan yang kemudian menjadi basis utama perusahaan hingga saat ini.
Ekspansi ALS mulai terlihat sejak awal 1970-an dengan pembukaan berbagai rute antarkota di Sumatera seperti Medan–Bukittinggi, Medan–Padang, hingga ke Banda Aceh dan Pekanbaru. Pada periode tersebut, ALS menjadi salah satu pelopor transportasi darat jarak jauh di wilayah Sumatera.
Namun, hingga akhir 1970-an, jangkauan operasional ALS masih terbatas di Pulau Sumatera dengan titik terjauh di Bakauheni. Keterbatasan fasilitas penyeberangan saat itu membuat armada bus belum dapat melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.
Memasuki dekade 1980-an, perkembangan kapal feri jenis Roro membuka peluang baru bagi ekspansi antarpulau. ALS memanfaatkan momentum ini untuk memperluas trayek hingga ke Pulau Jawa, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Jember. Bahkan, pada periode tertentu, ALS juga sempat melayani rute hingga Pulau Bali.
Dengan jumlah armada yang mencapai sekitar 400 unit, ALS dikenal sebagai penguasa rute panjang lintas Sumatera. Salah satu trayek terpanjangnya adalah Medan hingga Jember, yang menjadi salah satu perjalanan bus terjauh di Indonesia.
Selain jaringan trayeknya, ALS juga memiliki ciri khas yang mudah dikenali. Salah satunya adalah barang bawaan penumpang yang kerap ditempatkan di bagian atas bus, menjadi pemandangan ikonik di jalur lintas Sumatera.
Keunikan lain terdapat pada sistem nomor pintu atau “Nopin” yang menunjukkan kepemilikan armada. Angka terakhir pada nomor pintu menjadi penanda pemilik atau keluarga yang mengelola unit bus tersebut. Sistem ini mencerminkan model bisnis ALS yang berbasis keluarga besar.
Beberapa nomor pintu memiliki arti khusus, seperti angka 1 milik keluarga almarhum Haji Sati Lubis, angka 3 milik almarhum Haji Rasyad Nasution, angka 5 milik Japarkayo Hasibuan, hingga angka 7 milik keluarga almarhum Haji M. Arief Lubis. Kepemilikan ini kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya hingga saat ini.
Di tengah dinamika transportasi modern, ALS tetap menjadi salah satu ikon perjalanan darat jarak jauh di Indonesia. Jaringan trayek yang luas dan sejarah panjang membuat perusahaan ini tetap diminati masyarakat, terutama untuk perjalanan lintas provinsi di Sumatera dan Jawa.
Peristiwa kecelakaan di Muratara menjadi pengingat penting akan keselamatan transportasi. Di sisi lain, perjalanan panjang ALS tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan angkutan darat di Indonesia yang terus beradaptasi hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































