Kasus Campak Bantul Naik 17 Kasus, Banguntapan Tertinggi

2 hours ago 3

Kasus Campak Bantul Naik 17 Kasus, Banguntapan Tertinggi Foto ilustrasi campak. / Antara

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus campak di Kabupaten Bantul menunjukkan peningkatan pada awal 2026. Dinas Kesehatan Bantul mencatat hingga pertengahan Maret terdapat 17 kasus campak, lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2025 yang tercatat 14 kasus.

Dinas Kesehatan Bantul menyebut Kapanewon Banguntapan menjadi wilayah dengan jumlah kasus campak tertinggi di kabupaten tersebut. Dari total 17 kasus yang tercatat, lima di antaranya berasal dari wilayah Banguntapan.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Samsu Aryanto, mengatakan peningkatan kasus penyakit yang disebabkan virus Morbillivirus ini dimungkinkan karena tingkat penularannya yang cukup tinggi.

"Sekarang semuanya sudah sembuh dan tidak ada yang sampai meninggal dunia," ujarnya, Sabtu (14/3).

Samsu menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas di berbagai wilayah untuk menggencarkan program imunisasi campak bagi anak usia sembilan hingga 59 bulan sebagai langkah pencegahan.

Dalam program tersebut, Puskesmas di masing-masing wilayah akan menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan imunisasi dengan target sasaran sebanyak 1.116 anak.

"Untuk campak ini kalau memang ada gejala seperti demam, batuk, pilek, mata kemerahan, segera saja diobati. Kemudian sebaiknya tidak kontak dulu dengan orang-orang karena penularannya memang cepat," ungkap Samsu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara, mengungkapkan masih terdapat sejumlah wilayah di Bantul yang menolak imunisasi campak. Penolakan tersebut disebut berkaitan dengan pandangan budaya di sebagian masyarakat.

Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi upaya peningkatan cakupan imunisasi sekaligus berdampak pada naiknya jumlah kasus campak di wilayah Bantul.

"Idealnya kami menargetkan minimal 95 persen anak itu sudah bisa diimunisasi campak. Namun memang masih ada beberapa tempat yang agak sulit untuk dijangkau karena ada persepsi yang berbeda dari sekelompok masyarakat di Kabupaten Bantul soal imunisasi," jelasnya.

Agus menambahkan imunisasi masih menjadi langkah paling efektif untuk mencegah penyebaran campak. Oleh karena itu Dinkes Bantul akan terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi agar kasus penyakit tersebut tidak semakin meluas di masyarakat.

"Kami akan coba sosialisasi pelan-pelan untuk masyarakat yang masih belum mau, mudah-mudahan ada jalan keluar," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |