Jelajah Lintas Selatan, Kelok 23 Pangkas Waktu Tempuh hingga Separuh

1 hour ago 3

Jelajah Lintas Selatan, Kelok 23 Pangkas Waktu Tempuh hingga Separuh Pemandangan pantai selatan dari proyek Kelok 23 yang saat ini tengah dikerjakan, Selasa (17/3/2026).Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

GUNUNGKIDUL-Jalan Lintas Selatan (Jasela) di DIY semakin menunjukkan perannya sebagai jalur strategis bagi pemudik, terutama dengan hadirnya Kelok 23 yang segera dibuka. Infrastruktur ini bukan hanya alternatif, tetapi mulai menjadi andalan baru untuk perjalanan yang lebih cepat, aman, dan nyaman.

Koordinator Lapangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Satuan Kerja DIY, Sukiswandi, menjelaskan Kelok 23 memiliki panjang sekitar 5 kilometer dan menghubungkan dua kabupaten, yakni Bantul dan Gunungkidul. Proyek ini ditargetkan rampung pada Agustus 2026 dan mulai dibuka pada September 2026.

Menurut Sukiswandi, kehadiran jalur ini akan memangkas waktu tempuh secara signifikan. Ia mencontohkan perjalanan dari kawasan Bantul menuju Wonogiri yang sebelumnya bisa mencapai 4 jam–5 jam melalui jalur lama, kini dapat ditempuh hanya dalam 1,5 jam–2 jam melalui Kelok 23 dan Jasela. “Ini sangat efektif, terutama untuk mendukung mobilitas masyarakat,” ujarnya.

Selain lebih cepat, jalur ini juga dirancang lebih aman. Supervisor Proyek Kelok 23, Elang Supriyadi, menjelaskan tingkat kemiringan jalan dibuat lebih landai, sekitar 10%, dibandingkan jalur lama yang mencapai 20%. “Setiap 10 meter panjang jalan hanya naik satu meter, jadi tidak terlalu curam,” jelasnya. Dengan lebar jalan 7 meter dan bahu jalan di kedua sisi, jalur ini dinilai lebih nyaman dilalui, termasuk saat arus mudik padat.

Konektivitas Jasela juga semakin penting karena mempermudah akses menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Sukiswandi menyebut warga Wonogiri dan sekitarnya kini banyak yang memilih YIA dibandingkan harus ke Surabaya, sehingga jalur ini menjadi sangat vital.

Bagi pemudik, aspek kenyamanan perjalanan juga didukung dengan kehadiran rest area di sepanjang Jasela, seperti di Jeruk Wudel dan kawasan Kelok 23. Fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari toilet, kamar mandi, musala, hingga area parkir luas.

Keberadaan rest area ini sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga lokal. Widodo Rahmat Untoro, pedagang di Rest Area Swanayasa Nglindur, Girisubo, Gunungkidul, mengungkapkan terdapat sekitar 15 lapak yang didominasi pelaku UMKM. Ia sendiri telah berjualan sejak awal rest area dibuka sekitar empat tahun lalu. “Kalau musim mudik, terutama sepekan sebelum dan sesudah Lebaran, pengunjung bisa naik sampai 100 persen,” katanya.

Dari Rest Area Swanayasa, ada kuliner khas yang menarik pemudik untuk singgah. Salah satunya adalah Ayam Mbok Tumbu di Semanu yang dikelola oleh Suyatno, generasi ketiga penerus usaha keluarga sejak dirintis pada 1963. Ia menyajikan menu ayam opor dan goreng dengan bumbu rempah lengkap serta proses memasak tradisional menggunakan tungku.

Menurut Suyatno, warungnya kerap ramai saat akhir pekan dan musim Lebaran, bahkan didatangi wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara. “Banyak yang mampir setelah dari pantai,” ujarnya.

Salah satu pengunjung, Resa, pemudik asal Malang yang berasal dari Playen, Gunungkidul, mengaku mengetahui Ayam Mbok Tumbu dari media sosial. Ia menyebut cita rasanya sangat memuaskan. “Ayamnya empuk dan enak banget,” katanya.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, Jasela semakin menegaskan posisinya sebagai jalur andalan pemudik di selatan Jawa. Tidak hanya mempercepat perjalanan, tetapi juga menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan penuh potensi ekonomi bagi masyarakat sekitar. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |