BMKG Sebut Kemarau 2026 Lebih Kering, Wilayah Jateng Diminta Siaga

2 hours ago 3

Harianjogja.com, CILACAP—Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dari kondisi normal sehingga pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah rawan kekeringan diminta meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini.

Peringatan BMKG terkait kemarau 2026 tersebut disampaikan karena curah hujan pada periode kemarau diperkirakan berada di bawah normal di sejumlah wilayah.

Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo menjelaskan awal musim kemarau 2026 di Jawa Tengah diprakirakan tidak terjadi secara bersamaan, melainkan berbeda-beda di setiap wilayah. Hal ini terlihat dari prakiraan awal kemarau di sejumlah kabupaten seperti Cilacap, Banyumas, dan Purbalingga.

Ia mencontohkan awal musim kemarau 2026 di Kabupaten Cilacap secara umum diprakirakan terjadi pada Mei dasarian kedua. Sementara itu, wilayah pesisir tenggara Cilacap seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu diprediksi memasuki awal musim kemarau lebih cepat, yakni pada Mei dasarian pertama.

Ia mengatakan durasi musim kemarau di Kabupaten Cilacap diperkirakan berlangsung sekitar 14 hingga 18 dasarian atau sekitar 140 sampai 180 hari dengan sifat musim kemarau di bawah normal.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan curah hujan selama kemarau 2026 diprakirakan lebih rendah dibandingkan kondisi normalnya sehingga potensi kekeringan perlu diantisipasi sejak dini oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.

Untuk wilayah Kabupaten Banyumas, awal musim kemarau diprakirakan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah. Pada Mei dasarian pertama, awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi di Banyumas bagian tenggara. Selanjutnya pada Mei dasarian kedua diprakirakan meluas ke wilayah barat daya dan selatan, sedangkan wilayah utara dan tengah diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Juni dasarian kedua.

Ia menyebut durasi musim kemarau di Kabupaten Banyumas berkisar antara 11 hingga 18 dasarian atau sekitar 110 hingga 180 hari dengan sifat musim kemarau di bawah normal. Adapun puncak kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2026.

Sementara itu, awal musim kemarau di Kabupaten Purbalingga diprakirakan terjadi pada Juni dasarian pertama di wilayah utara serta Juni dasarian kedua di wilayah barat laut dan selatan.

Ia menyebut durasi musim kemarau di Purbalingga diperkirakan berlangsung sekitar 12 dasarian atau kurang lebih 120 hari dengan sifat musim kemarau di bawah normal. Puncak kemarau di wilayah tersebut juga diprediksi terjadi pada Agustus 2026.

Teguh mengatakan karakter musim kemarau 2026 diprakirakan berbeda dengan kondisi pada 2025 yang justru memiliki sifat hujan di atas normal. Pada tahun tersebut, sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas bahkan mengalami hujan hampir sepanjang tahun sehingga tidak terjadi musim kemarau secara jelas.

“Untuk tahun 2026, sifat curah hujan diprakirakan di bawah normal sehingga musim kemarau diprakirakan lebih kering dibandingkan kondisi normalnya,” kata dia menjelaskan.

Selain itu, BMKG juga memprakirakan masa pancaroba atau masa peralihan dari musim hujan menuju kemarau akan terjadi pada April hingga Mei 2026.

“Pada masa tersebut masyarakat diimbau mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, termasuk kemungkinan angin puting beliung serta kondisi cuaca yang terasa cukup panas,” kata Teguh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |