Jumali Rabu, 17 Juni 2026 03:27 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— Piala Dunia 2026 menghadirkan persoalan tak terduga bagi Timnas Iran. Bukan soal taktik maupun kondisi pemain, melainkan masalah administrasi yang kini mengancam partisipasi gelandang berpengalaman Mehdi Torabi pada sisa fase grup.
Pemain berusia 31 tahun itu terancam gagal memperkuat Iran saat menghadapi Belgia setelah visa masuk Amerika Serikat yang dimilikinya dinyatakan tidak berlaku lagi.
Media pemerintah Iran, IRNA, melaporkan visa Torabi hanya berlaku untuk satu kali masuk ke wilayah Amerika Serikat. Kondisi tersebut berbeda dengan sebagian besar anggota skuad Iran yang memperoleh visa multiple-entry selama mengikuti turnamen.
Masalah muncul setelah Iran menjalani pertandingan pembuka melawan Selandia Baru di Los Angeles. Ketika skuad kemudian berpindah ke Meksiko untuk kembali ke markas tim, visa Torabi otomatis tidak dapat digunakan lagi untuk memasuki Amerika Serikat.
Akibatnya, Torabi kini berada di Meksiko sambil menunggu proses pengurusan visa baru yang sedang diupayakan Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI).
Menurut laporan IRNA, federasi telah mengambil langkah-langkah administratif agar sang pemain dapat kembali bergabung dengan skuad sebelum pertandingan berikutnya.
Iran Hadapi Kendala Beruntun
Kasus yang menimpa Torabi menjadi bagian dari sejumlah hambatan yang dialami delegasi Iran sepanjang turnamen.
Iran memilih menjadikan Kota Tijuana, Meksiko, sebagai basis operasional selama Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut diambil karena pertimbangan keamanan dan situasi hubungan diplomatik yang masih sensitif antara Iran dan Amerika Serikat.
Konsekuensinya, setiap kali menjalani pertandingan di Amerika Serikat, seluruh anggota tim harus melintasi perbatasan dan kembali memasuki wilayah AS.
Situasi ini membuat persoalan dokumen perjalanan menjadi sangat krusial.
Sebelumnya, sekitar 15 anggota delegasi Iran, termasuk Ketua Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj, dilaporkan mengalami kendala visa. Sejumlah pejabat bahkan disebut tidak memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat.
Masalah serupa juga sempat dialami kapten Iran Mehdi Taremi dan seorang anggota staf saat proses perjalanan menuju Los Angeles.
Sebelum turnamen dimulai, Iran bahkan dikabarkan sempat mempertimbangkan untuk tidak berpartisipasi karena kekhawatiran terkait aspek keamanan. Namun setelah memperoleh jaminan dari FIFA, mereka akhirnya memutuskan tetap ambil bagian dalam ajang tersebut.
Berpacu dengan Waktu Jelang Lawan Belgia
Iran dijadwalkan menghadapi Belgia pada laga kedua Grup G yang berlangsung 22 Juni 2026 di Los Angeles. Setelah itu, Tim Melli masih harus menghadapi Mesir pada 26 Juni di Seattle.
Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan persoalan visa Torabi pun semakin sempit.
Jika proses administrasi tidak selesai tepat waktu, Iran berpotensi kehilangan salah satu pemain seniornya pada fase yang sangat menentukan peluang lolos ke babak berikutnya.
Bagi Torabi sendiri, situasi ini terasa semakin berat karena Piala Dunia 2026 bisa menjadi kesempatan terakhirnya tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia. Di usia 31 tahun, peluang tampil pada edisi berikutnya belum tentu datang kembali.
Kasus yang dialami Torabi menunjukkan bahwa perjalanan sebuah tim di Piala Dunia tidak hanya ditentukan oleh kualitas permainan di lapangan. Faktor administratif, regulasi imigrasi, hingga dinamika geopolitik juga dapat memengaruhi nasib pemain dan tim dalam hitungan hari.
Kini Iran hanya bisa menunggu hasil proses pengurusan visa sambil berharap Torabi dapat kembali bergabung sebelum laga krusial melawan Belgia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































