Newswire Jum'at, 07 Agustus 2026 11:07 WIB

Senjata nuklir memiliki daya ledak ribuan kalilipat dibandingkan dengan bom berbahan baku TNT./8pmprimetimenews.com\r\n\r\n
Harianjogja.com, WASHINGTON—Rencana Amerika Serikat (AS) memperluas penggunaan senjata nuklir taktis dalam skenario konflik dinilai berpotensi meningkatkan risiko perang nuklir. Selain memperbesar kemungkinan eskalasi konflik, kebijakan tersebut disebut dapat memperumit hubungan pencegahan nuklir antara AS dan negara-negara lain yang memiliki senjata nuklir.
Penilaian tersebut disampaikan Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA) pada Kamis (6/8), menyusul laporan NBC News yang menyebut Departemen Pertahanan AS tengah menyusun strategi nuklir baru.
Strategi tersebut dikabarkan berfokus pada kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis jarak pendek apabila terjadi konflik dengan Rusia atau China.
ACA Nilai Risiko Konflik Bisa Meningkat
Dalam pernyataannya, ACA menilai perubahan strategi itu memang berpotensi mengurangi sejumlah risiko apabila persyaratan "pembatasan kerusakan" dihapuskan.
Namun, organisasi tersebut mengingatkan bahwa penambahan opsi serangan nuklir taktis justru dapat memperumit keseimbangan pencegahan nuklir yang selama ini terjalin.
"Kami meyakini perubahan strategi yang diusulkan tersebut, jika menghapuskan persyaratan 'pembatasan kerusakan', maka dapat mengurangi risiko-risiko tertentu. Namun, penambahan opsi 'serangan nuklir taktis' akan memperumit hubungan pencegahan nuklir yang rapuh antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain dengan senjata nuklir, serta meningkatkan risiko perang nuklir," kata ACA dalam sebuah pernyataan.
Menurut ACA, apabila Amerika Serikat menolak konsep tersebut, langkah itu dapat menghilangkan dasar bagi perluasan persenjataan sebagai respons terhadap meningkatnya kekuatan militer Rusia maupun China.
Organisasi tersebut juga menilai kebijakan tersebut dapat membuka peluang bagi negosiasi pengurangan senjata nuklir.
ACA juga menegaskan penolakannya terhadap upaya memperbesar peran senjata nuklir taktis dalam strategi pertahanan Amerika Serikat.
Menurut organisasi itu, pengembangan senjata baru berpotensi dipersepsikan sebagai kesiapan untuk melancarkan serangan pertama, sehingga meningkatkan ketegangan di antara negara-negara pemilik senjata nuklir.
Putin Sebut Rusia Tak Berniat Serang NATO
Dalam konteks hubungan dengan negara-negara Barat, Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan Rusia tidak memiliki niat menyerang negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Pernyataan itu disampaikan Putin kepada jurnalis Amerika Serikat Tucker Carlson dalam wawancara pada 2024.
Menurut Putin, langkah tersebut tidak masuk akal.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia berulang kali menyoroti peningkatan aktivitas militer NATO di wilayah yang berdekatan dengan perbatasan baratnya.
Pemerintah Rusia melalui Kremlin juga menegaskan negaranya tidak mengancam pihak mana pun. Meski demikian, Kremlin menyatakan Rusia tidak akan mengabaikan tindakan yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingan nasionalnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)




