Sopan ke ChatGPT Bikin Jawaban Lebih Baik? Begini Faktanya

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Rabu, 17 Juni 2026 18:47 WIB

Sopan ke ChatGPT Bikin Jawaban Lebih Baik? Begini Faktanya

Cara menggunakan chatGPT/tangkapan layar/Bisnis-Novita S. Simamora

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 70 persen pengguna AI di seluruh dunia secara konsisten menggunakan kata "tolong" dan "terima kasih" saat berinteraksi dengan chatbot seperti ChatGPT, Alexa, dan asisten virtual lainnya.

Temuan survei terbaru yang dilakukan Future pada Desember 2024 yang dikutip dari Techradar, Rabu (17/6/2026) mengungkap fenomena menarik. Di mana, meski sadar bahwa di balik layar hanya ada algoritma, mayoritas manusia tetap memperlakukan AI layaknya lawan bicara sungguhan.

Dari 1.000 responden di Amerika Serikat dan Inggris, 67 persen pengguna AI di AS dan 71 persen di Inggris mengaku selalu bersikap sopan. Sebanyak 82 persen di antaranya mengatakan hal itu dilakukan karena memang terasa sebagai sikap yang sepatutnya, sementara 12 persen lainnya mengaku khawatir akan "robot uprising" di masa depan.

Riset awal menunjukkan prompt yang sopan cenderung menghasilkan jawaban yang lebih cermat, rinci, dan seimbang. Sebaliknya, prompt yang kasar atau ketus terkadang menghasilkan jawaban yang lebih pendek dan kurang bermanfaat. Microsoft bahkan secara resmi menyarankan pengguna bersikap sopan kepada Copilot untuk mendapat hasil yang lebih kolaboratif.

"Ketika kita sopan, kita memicu pola dalam AI yang terhubung dengan komunikasi manusia yang membantu dan detail. Prompt yang sopan dapat meningkatkan performa AI hingga 30 persen," kata A.J. Ghergich, Global Vice President di Botify.

Namun, argumen sebaliknya juga sama kuatnya. AI pada dasarnya adalah alat yang memproses data dan menghasilkan teks. Ia tidak memahami kesopanan dalam pengertian manusiawi, tidak merasa dihormati maupun tersinggung. CEO OpenAI, Sam Altman, berseloroh bahwa biaya operasional dari kata "tolong" dan "terima kasih" bisa mencapai puluhan juta dolar AS per tahun, meski menurutnya "uang yang dikeluarkan sepadan".

Di sisi lain, banyak pakar berpendapat bahwa AI pada dasarnya hanyalah perangkat lunak yang memproses data dan menghasilkan teks berdasarkan pola yang dipelajari.

AI tidak merasa dihormati ketika diberi ucapan terima kasih dan tidak pula tersinggung ketika menerima perintah yang singkat. Karena itu, sebagian orang menilai tidak ada alasan khusus untuk memperlakukan chatbot seperti manusia.

Argumen lain berkaitan dengan efisiensi. Setiap kata yang diketik akan diproses sebagai token dan membutuhkan sumber daya komputasi. Meski satu atau dua kata tambahan terlihat sepele, penggunaan dalam skala miliaran percakapan membuat konsumsi sumber daya menjadi lebih besar.

Namun, perkembangan teknologi AI membuat faktor kesopanan semakin tidak menentukan dibanding kejelasan instruksi. Model terbaru umumnya lebih fokus memahami tujuan pengguna daripada sekadar nada bahasa yang digunakan.

Sebagai contoh, perintah "Buatkan email kepada klien yang menjelaskan keterlambatan pengiriman dan menawarkan jadwal baru" sering kali lebih efektif dibanding prompt panjang yang dipenuhi basa-basi tetapi kurang spesifik.

Respons Tiap AI Tidak Selalu Sama

Menariknya, efek kesopanan juga dapat berbeda pada setiap sistem AI.

Masing-masing chatbot dikembangkan dengan pendekatan, data pelatihan, dan pengaturan yang berbeda. Karena itu, respons terhadap gaya komunikasi pengguna tidak selalu sama antara satu platform dan platform lainnya.

Perbedaan tersebut bahkan dapat terjadi dalam satu produk yang sama karena model AI terus diperbarui dan disesuaikan oleh pengembangnya.

Selain itu, beberapa layanan AI kini memiliki kemampuan personalisasi yang memungkinkan sistem mengingat preferensi dan gaya komunikasi pengguna. Walaupun AI tidak memiliki emosi, pola interaksi yang berulang dapat memengaruhi pengalaman penggunaan dari waktu ke waktu.

Mana yang Lebih Baik?

Pada akhirnya, tidak ada aturan baku mengenai perlu atau tidaknya mengucapkan "tolong" dan "terima kasih" kepada AI.

Jika tujuan Anda adalah memperoleh respons yang lebih rinci dan bernuansa kolaboratif, menggunakan bahasa yang sopan dan jelas bisa menjadi pilihan. Sebaliknya, jika mengutamakan kecepatan dan efisiensi, instruksi yang singkat namun spesifik juga tetap efektif.

Yang terpenting bukanlah apakah AI merasa dihargai, melainkan apakah cara berkomunikasi tersebut membantu Anda mendapatkan hasil yang diinginkan. Di tengah semakin dekatnya interaksi manusia dengan teknologi, menjaga kebiasaan berkomunikasi secara santun tetap menjadi nilai yang relevan, baik saat berbicara dengan AI maupun dengan sesama manusia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |