PHRI DIY Soroti Wisatawan Jogja Singkat Menginap meski Long Weekend

14 hours ago 6

Harianjogja.com, JOGJA—Momentum long weekend pertengahan Juni 2026 belum mampu mendongkrak lama tinggal wisatawan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Meski tingkat okupansi hotel sempat menembus lebih dari 70 persen, mayoritas pelancong masih memilih menghabiskan waktu liburan hanya satu hingga dua malam di Kota Pelajar.

Kondisi tersebut mendorong Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mengusulkan strategi baru pengembangan pariwisata. Alih-alih hanya mengejar jumlah kunjungan, pelaku industri kini menilai peningkatan lama tinggal wisatawan dan belanja selama berada di Jogja menjadi faktor yang lebih penting bagi pertumbuhan sektor pariwisata daerah.

Wakil Sekretaris PHRI DIY, Wahyu Wikan Trispratiwi, mengatakan tingkat hunian hotel selama libur panjang akhir pekan memang mengalami kenaikan, namun hanya terjadi pada dua hari pertama.

Berdasarkan catatan PHRI DIY, okupansi hotel pada 13-14 Juni 2026 berada di atas 70 persen. Namun, tingkat hunian kembali mengalami penurunan pada Minggu malam karena sebagian besar wisatawan memilih pulang lebih awal.

"Okupansi yang cukup baik hanya terjadi pada 13-14 Juni, di atas 70%. Setelah itu sudah mulai turun lagi. Wisatawan tampaknya belum memilih untuk memperpanjang masa tinggal hingga Senin karena memang tidak ada cuti bersama," ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Lama Tinggal Wisatawan Jogja Masih Rendah

Menurut Wikan, belum bertambahnya lama tinggal wisatawan dipengaruhi sejumlah faktor. Selain tidak adanya cuti bersama, banyak keluarga masih fokus pada kebutuhan pendidikan anak setelah masa ujian sekolah dan menjelang tahun ajaran baru.

Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan rekreasi dan perjalanan wisata.

Meski demikian, jumlah kunjungan wisatawan ke DIY tetap menunjukkan peningkatan dibandingkan hari-hari biasa. Hanya saja, daya beli masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri di tengah berbagai penyesuaian biaya perjalanan, transportasi, hingga akomodasi.

PHRI DIY juga mencermati perubahan perilaku wisatawan dalam melakukan pemesanan kamar hotel.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren pemesanan mendadak atau last minute booking semakin dominan. Kemudahan akses transportasi menuju Yogyakarta menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan pola tersebut.

"Transportasi menuju Jogja sekarang semakin mudah, pilihan moda juga semakin banyak. Karena itu wisatawan sering baru melakukan pemesanan dua atau tiga hari sebelum keberangkatan," katanya.

Pasar Wisatawan Domestik Masih Mendominasi

Mayoritas wisatawan yang berkunjung ke DIY hingga saat ini masih berasal dari pasar domestik. Kawasan Jabodetabek dan Surabaya menjadi penyumbang wisatawan terbesar yang datang ke Yogyakarta saat musim liburan maupun akhir pekan panjang.

Dengan jarak yang relatif dekat dan akses transportasi yang semakin mudah, sebagian besar wisatawan memilih perjalanan singkat.

Akibatnya, rata-rata lama tinggal wisatawan di DIY masih berkisar antara 1,8 hingga 1,9 malam. Angka tersebut relatif stagnan dan telah menjadi tantangan sektor pariwisata Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir.

Wikan menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena DIY sebenarnya memiliki banyak pilihan destinasi wisata, atraksi budaya, serta akomodasi yang mampu menunjang kunjungan lebih panjang.

"Yang perlu didorong sekarang adalah bagaimana wisatawan bisa tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya lebih banyak di Jogja. Jadi bukan semata-mata mengejar jumlah kunjungan," ujarnya.

PHRI DIY Dorong Sinergi Event Pariwisata

Untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Jogja, PHRI DIY mendorong pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan pariwisata memperkuat kolaborasi berbagai agenda dan event yang berlangsung sepanjang tahun.

Menurut Wikan, event berskala besar seperti ARTJOG maupun berbagai ajang marathon yang dijadwalkan berlangsung pada awal Juli memiliki potensi besar menarik wisatawan untuk menginap lebih lama.

Potensi tersebut akan semakin optimal apabila event utama dipadukan dengan pertunjukan seni, paket wisata budaya, wisata kuliner, hingga aktivitas rekreasi lain yang tersebar di berbagai wilayah DIY.

"Kalau ada event besar di hari Minggu, misalnya hari Sabtunya ada pertunjukan atau kegiatan lain yang menarik. Semua event perlu disinergikan sehingga wisatawan punya lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di Jogja," katanya.

Hotel Mulai Tawarkan Paket Bundling Event

Sejumlah hotel anggota PHRI DIY kini mulai mengembangkan strategi promosi yang lebih terintegrasi. Salah satunya dengan menawarkan paket bundling yang menggabungkan akomodasi hotel dan tiket masuk berbagai event wisata maupun seni yang berlangsung di Yogyakarta.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata sekaligus memperluas dampak ekonomi bagi sektor pariwisata.

Menurut Wikan, promosi terintegrasi menjadi kunci agar manfaat penyelenggaraan event tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara kegiatan, tetapi juga oleh hotel, restoran, pelaku UMKM, transportasi wisata, hingga destinasi yang tersebar di berbagai daerah di DIY.

"Promosi yang terintegrasi sangat penting. Event-event yang ada harus saling mendukung sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan lebih luas oleh sektor pariwisata di DIY," ujarnya.

Di tengah tingginya persaingan destinasi wisata nasional, sinergi antara event, atraksi wisata, dan pelaku industri pariwisata dinilai menjadi peluang strategis untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan Jogja sekaligus memperbesar perputaran ekonomi daerah dari sektor pariwisata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |