
Foto ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA—Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi desa sekaligus pencipta lapangan kerja baru. Jika target pembangunan 80.000 unit koperasi tercapai pada 2029, program ini berpotensi menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja di berbagai daerah di Indonesia.
Potensi tersebut diungkapkan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari. Menurutnya, setiap unit KDKMP akan melibatkan satu manajer hasil rekrutmen nasional serta 17 tenaga kerja lokal yang diprioritaskan berasal dari desa tempat koperasi beroperasi.
“Setiap gerai KDKMP melibatkan satu manajer yang telah mengikuti rekrutmen nasional, serta 17 pekerja lokal yang seluruhnya diprioritaskan berasal dari desa setempat,” kata Qodari dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Dengan skema tersebut, KDKMP tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga desa dalam jangka panjang.
Qodari menjelaskan, program Koperasi Merah Putih dirancang sebagai investasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi desa sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan baru di seluruh Indonesia.
Selain memperluas kesempatan kerja, penguatan aktivitas ekonomi berbasis koperasi juga dinilai mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap berbagai kebutuhan barang dan jasa dengan harga yang lebih terjangkau. Kondisi tersebut diharapkan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa program KDKMP tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung sehingga tidak tepat jika disamakan dengan program lain yang bergantung pada pembiayaan pemerintah pusat.
“Enggak, yang perlu dievaluasi apanya begitu lho? Koperasi Desa Merah Putih ini kan mekanismenya bukan APBN. Jadi enggak ada kaitannya dengan APBN,” ujar Misbakhun seusai menghadiri peluncuran buku Estafet Ideologi Sumitro ke Prabowo di Universitas Paramadina, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Misbakhun, pembiayaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berasal dari berbagai sumber pendanaan yang dirancang untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
“Pembiayaan itu melalui Agrinas, melalui kredit di Bank Himbara, kemudian di-empowerment sebagian dengan Dana Desa,” katanya.
Ia menambahkan, program KDKMP yang mulai dijalankan pada tahun ini masih berfokus pada penguatan kualitas operasional agar manfaat yang diberikan benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Karena itu, pengoperasian koperasi dilakukan secara bertahap meski pembangunan unit telah berjalan cukup masif.
Misbakhun mengungkapkan, hingga saat ini ribuan unit KDKMP telah dibangun. Namun, proses operasionalisasi dilakukan secara selektif guna memastikan keberlanjutan usaha dan efektivitas pelayanan kepada masyarakat.
“Kan ini baru berjalan, baru tahun ini KDMP itu dijalankan. Pak Ferry (Menteri Koperasi Ferry Juliantono) mengatakan ada 11.000 yang sudah dibangun, kemudian dioperasionalkannya baru 1.000 dan ini kan harus kualitatif bukan kuantitatif,” kata Misbakhun.
Lebih lanjut, ia menilai Koperasi Merah Putih menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat peran negara untuk melindungi ekonomi rakyat, khususnya dalam menciptakan sistem distribusi barang dan jasa yang lebih adil dan berpihak kepada masyarakat luas.
“Koperasi itu sebagai bentuk badan usaha yang menjalankan aktivitas ekonomi kemasyarakatan. KDMP menjadi sebuah kebijakan negara, dioperasionalkan bagaimana barang dan jasa itu didistribusikan oleh negara tapi untuk kepentingan masyarakat yang luas,” tuturnya. Dengan perluasan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di berbagai wilayah, pemerintah berharap manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat semakin dirasakan masyarakat desa sekaligus memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan di tingkat lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































