Kementerian ESDM Pastikan Impor Minyak Rusia Tetap Berjalan

10 hours ago 4

Kementerian ESDM Pastikan Impor Minyak Rusia Tetap Berjalan

Ilustrasi BBM/Ist. dok. Pertamina Patra Niaga

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah memastikan rencana impor minyak Rusia masih terus berlanjut sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah tersebut ditempuh untuk meningkatkan cadangan minyak dalam negeri sekaligus memperluas sumber pasokan energi di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi pasar energi dunia.

Di saat yang sama, pemerintah juga menegaskan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, tetap akan mengikuti perkembangan harga minyak mentah dunia. Apabila harga minyak global turun, harga BBM non-subsidi di dalam negeri berpeluang mengalami penyesuaian ke bawah.

Juru Bicara sekaligus Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, mengatakan arahan pemerintah terkait penguatan cadangan energi nasional menjadi dasar dilanjutkannya proses impor minyak dari Rusia.

"Arahan Presiden jelas untuk memperkuat cadangan minyak kita. Salah satunya impor dari Rusia, ini masih akan tetap berjalan dan tetap berproses," ujar Dwi dalam keterangan pers di Gedung Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Rabu (17/6/2026).

Diversifikasi Pasokan Energi di Tengah Geopolitik Global

Menurut Dwi, pemerintah tidak hanya mengandalkan pasokan minyak dari Rusia. Diversifikasi impor energi juga dilakukan dengan membuka akses pasokan dari sejumlah negara lain guna mengurangi ketergantungan terhadap kawasan tertentu.

Kebijakan tersebut menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pasokan energi dunia.

Ia menjelaskan Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 yang mengatur pengadaan bahan bakar minyak (BBM), termasuk pemberian kewenangan kepada badan usaha dan Lemigas untuk melakukan impor dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional.

Selain Rusia, pemerintah juga memperoleh pasokan minyak dari sejumlah negara lain di luar kawasan Timur Tengah.

"Diversifikasi impor sudah dilakukan. Kita ambil juga dari Afrika seperti Nigeria dan Angola, serta dari Amerika," katanya.

Pertalite dan Solar Subsidi Dipastikan Tidak Naik

Dalam kesempatan tersebut, Dwi juga menegaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan mekanisme harga antara BBM subsidi dan BBM non-subsidi. Pemerintah memastikan Pertalite dan Solar subsidi tetap mendapat perlindungan sehingga tidak mengalami kenaikan harga.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi kelompok berpenghasilan rendah dari dampak fluktuasi harga energi global.

"BBM subsidi itu Pertalite dan Solar subsidi, ini sudah dipastikan tidak akan mengalami kenaikan untuk melindungi masyarakat rentan, melindungi wong cilik," ujarnya.

Harga Pertamax Mengikuti Harga Minyak Dunia

Berbeda dengan BBM subsidi, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax dan produk sejenis lainnya akan mengikuti mekanisme harga pasar serta harga keekonomian yang berlaku.

Menurut Dwi, perubahan harga minyak mentah dunia secara langsung akan memengaruhi harga jual BBM non-subsidi yang dipasarkan oleh badan usaha energi.

"Minyak mentah dunia naik atau turun, mau tidak mau BBM non-subsidi akan mengikuti harga keekonomiannya. Ada aturannya di Kepmen," kata Dwi.

Ia memastikan peluang penurunan harga Pertamax tetap terbuka apabila harga minyak mentah dunia mengalami penurunan dalam periode mendatang.

"Ketika harga minyak dunia turun, sudah dipastikan harga BBM non-subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau dia akan menyesuaikan harga keekonomiannya," jelasnya.

Pemerintah Pernah Menahan Kenaikan BBM Non-Subsidi

Dwi mengungkapkan pemerintah sebelumnya sempat berupaya menjaga stabilitas harga BBM non-subsidi dengan menahan penyesuaian harga demi mendukung stabilitas ekonomi nasional dan menjaga daya beli masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan badan usaha milik negara maupun perusahaan swasta yang bergerak di sektor energi.

"April kemarin sesuai arahan Presiden, pemerintah masih mencoba menjaga kestabilan ekonomi dan daya beli masyarakat. Ada diskusi dengan badan usaha pelat merah dan badan usaha swasta untuk mempertahankan harga BBM," ujarnya.

Namun, perkembangan harga minyak mentah dunia yang terus berfluktuasi membuat penyesuaian harga pada akhirnya dilakukan sesuai kondisi pasar dan harga keekonomian yang berlaku.

Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga energi global sebagai dasar evaluasi harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Jika harga minyak mentah dunia kembali mengalami penurunan, maka penyesuaian harga BBM non-subsidi juga akan mengikuti tren tersebut.

"Kalau ditanya harga minyak dunia akan turun atau tidak, ketika nanti turun pasti akan ada penyesuaian juga pada harga BBM non-subsidi," katanya.

Kebijakan impor minyak Rusia dan diversifikasi sumber pasokan energi diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah tetap berupaya menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat melalui BBM subsidi dan keberlanjutan sektor energi nasional di tengah dinamika pasar energi global yang terus berubah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |