Harianjogja.com, BANTUL—Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Kabupaten Bantul menunjukkan tren penurunan hingga Mei 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat jumlah kasus yang terjadi pada tahun ini lebih rendah dibandingkan periode sepanjang 2025, sehingga membuka peluang tercapainya target penurunan kematian ibu dan bayi secara lebih optimal.
Berdasarkan data Dinkes Bantul, hingga akhir Mei 2026 tercatat empat kasus kematian ibu dan 31 kasus kematian bayi. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan sepanjang 2025 yang mencatat sembilan kasus kematian ibu serta 67 kasus kematian bayi. Meski demikian, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah faktor risiko masih berpotensi memicu komplikasi serius pada ibu hamil maupun bayi.
Kepala Seksi Gizi, Kesehatan Keluarga, dan Kesehatan Jiwa Dinkes Bantul, Siti Marlina, mengatakan penurunan angka kematian ibu dan bayi menjadi indikator positif terhadap berbagai upaya pencegahan yang telah dijalankan.
"Per Mei 2026 terdapat empat kasus kematian ibu dan 31 kasus kematian bayi. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan tahun 2025 yang mencatat sembilan kematian ibu dan 67 kematian bayi," ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Komplikasi Kehamilan Masih Jadi Ancaman
Meski angka kematian ibu di Bantul mengalami penurunan, kasus tersebut masih menjadi perhatian serius Dinkes karena mayoritas dipicu komplikasi yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Beberapa penyebab kematian ibu yang tercatat meliputi perdarahan, emboli air ketuban, syok sepsis, hingga cardiac arrhythmia atau gangguan irama jantung.
Menurut Siti, kondisi tersebut menuntut tenaga kesehatan untuk memperkuat deteksi dini terhadap ibu hamil yang memiliki risiko tinggi agar komplikasi dapat dicegah sebelum berkembang menjadi kondisi yang membahayakan.
"Sejumlah faktor risiko tersebut mengharuskan tenaga kesehatan melakukan deteksi dini terhadap ibu hamil berisiko tinggi agar komplikasi dapat dicegah sedini mungkin," paparnya.
Dinkes Bantul Perkuat Pemantauan Kehamilan Berisiko
Untuk menekan angka kematian ibu dan bayi di Bantul, Dinkes terus memperkuat berbagai program intervensi dan pemantauan kesehatan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui Diskusi Kasus Maternal Mingguan (Diskas Mami), yang rutin digelar setiap Rabu untuk membahas perkembangan kasus kehamilan berisiko.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Bantul, Abednego Dani Nugroho, menjelaskan forum tersebut menjadi sarana koordinasi bagi tenaga kesehatan untuk mempercepat langkah penanganan maupun proses rujukan apabila ditemukan potensi komplikasi.
"Melalui Diskas Mami, kasus maternal berisiko dapat dipantau secara berkala sehingga langkah penanganan maupun rujukan bisa dilakukan lebih cepat," katanya.
Selain Diskas Mami, Dinkes Bantul juga melakukan peninjauan manual terhadap sistem rujukan pasien, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta monitoring dan evaluasi ke sejumlah rumah sakit. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kesehatan ibu dan anak berjalan sesuai standar dan mampu memberikan respons cepat terhadap kondisi darurat.
Edukasi Ibu Hamil dan Skrining Prakonsepsi Diperluas
Penguatan edukasi kesehatan bagi ibu hamil dan keluarga juga menjadi bagian dari strategi menekan angka kematian ibu dan bayi di Bantul. Dinkes memperluas pelaksanaan kelas ibu hamil dan program Madu Hati yang dilakukan secara daring agar menjangkau lebih banyak peserta.
Program tersebut menyasar ibu hamil, kader kesehatan, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum guna meningkatkan pemahaman mengenai kehamilan sehat serta tanda-tanda bahaya yang perlu segera mendapatkan penanganan medis.
"Penguatan skrining prakonsepsi juga terus dilakukan untuk mengidentifikasi faktor risiko sejak sebelum kehamilan," pungkasnya.
Selain mendukung kesehatan ibu selama masa kehamilan, skrining prakonsepsi diharapkan mampu mendeteksi berbagai faktor risiko lebih awal sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sebelum kehamilan terjadi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi berkelanjutan Dinkes Bantul dalam menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi secara bertahap melalui pendekatan promotif, preventif, dan kuratif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































