
Foto ilustrasi rudal atau peluru kendali. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Sebuah draf kesepakatan Iran-AS yang berisi 14 poin utama mencuat ke publik dan memunculkan harapan baru bagi berakhirnya ketegangan di Timur Tengah. Dokumen yang dipublikasikan media Iran itu memuat rencana penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), hingga negosiasi nuklir yang menjadi isu paling sensitif antara kedua negara.
Dokumen tersebut diterbitkan pada Senin oleh kantor berita semi-resmi Mehr. Dalam draf nota kesepahaman itu, Iran dan AS disebut tengah menyiapkan kerangka menuju kesepakatan final yang akan mengatur berbagai aspek strategis, mulai dari keamanan regional, ekonomi, hingga program nuklir Iran.
Publikasi draf ini muncul setelah pemerintah Iran menyatakan nota kesepahaman telah rampung dan dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Jenewa pada Jumat mendatang. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga menyebut kesepakatan dengan Iran telah selesai serta mengumumkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz dan "pencabutan segera" blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran.
Penghentian Perang dan Komitmen Baru AS
Menurut laporan Mehr, poin pertama dalam draf kesepakatan Iran-AS menegaskan penghentian perang secara segera dan permanen di seluruh front konflik, termasuk yang berkaitan dengan Lebanon.
Selain itu, AS disebut akan memberikan komitmen untuk tidak mencampuri urusan domestik Iran serta menghormati kedaulatan Republik Islam Iran.
Dalam rancangan tersebut, Washington juga diwajibkan menarik pasukan yang berada di sekitar wilayah Iran dan menahan diri dari pengerahan kekuatan militer tambahan selama masa negosiasi berlangsung. AS juga tidak diperkenankan menjatuhkan sanksi baru selama proses pembicaraan berlangsung.
Selat Hormuz Dibuka Kembali dalam 30 Hari
Salah satu poin paling penting dalam draf kesepakatan Iran-AS adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Dokumen tersebut mengatur pencabutan penuh blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran dalam kurun waktu 30 hari sejak kesepakatan mulai berlaku.
Dalam periode yang sama, Selat Hormuz juga akan dibuka kembali dengan pengelolaan berada di bawah otoritas Iran.
Mehr melaporkan bahwa mekanisme pemantauan khusus turut disiapkan untuk memastikan seluruh ketentuan dalam perjanjian dijalankan sesuai kesepakatan kedua pihak.
Aset Iran Rp427 Triliun dan Penangguhan Sanksi
Draf kesepakatan juga memuat rencana penangguhan sanksi terhadap sejumlah komoditas utama Iran, termasuk minyak, produk petrokimia, dan berbagai turunannya. Kebijakan tersebut akan memberikan akses lebih luas bagi Teheran terhadap sistem keuangan internasional.
Selain itu, aset Iran yang selama ini dibekukan dengan nilai mencapai US$24 miliar atau sekitar Rp427 triliun akan mulai dicairkan selama masa negosiasi 60 hari.
Setengah dari total aset tersebut disebut dapat diakses Iran sebelum pembicaraan final dimulai.
Menurut dokumen yang dilaporkan Mehr, kesepakatan akhir nantinya juga akan mencakup pencabutan penuh sanksi primer dan sekunder AS serta penghentian sejumlah resolusi terkait Iran yang selama ini berlaku di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional.
Negosiasi Nuklir Hanya Fokus pada Pengayaan Uranium
Draf kesepakatan Iran-AS menetapkan masa negosiasi selama 60 hari untuk menyusun perjanjian final yang berfokus pada isu nuklir dan pencabutan sanksi.
Iran dalam dokumen tersebut ditegaskan akan kembali menyatakan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tidak akan memproduksi senjata nuklir.
Mehr menyebut pembahasan pada tahap akhir hanya akan mencakup material nuklir yang telah diperkaya, aktivitas pengayaan uranium, pencabutan sanksi, serta agenda rekonstruksi ekonomi Iran.
Sementara itu, program rudal Iran dan dukungan terhadap kelompok-kelompok perlawanan secara tegas dikeluarkan dari agenda perundingan final.
AS Diminta Siapkan Dana Rekonstruksi Rp5.318 Triliun
Draf tersebut juga mengharuskan AS dan negara-negara sekutunya menyiapkan program rekonstruksi ekonomi untuk Iran dengan nilai minimal US$300 miliar atau setara sekitar Rp5.318 triliun.
Kesepakatan final nantinya direncanakan memperoleh legitimasi internasional melalui pengesahan dalam bentuk resolusi Dewan Keamanan PBB.
Mehr melaporkan proses negosiasi akhir baru dapat dimulai setelah sebagian aset Iran yang dibekukan dicairkan, sanksi terhadap ekspor minyak Iran ditangguhkan, dan blokade Angkatan Laut AS resmi dicabut.
Perubahan Menit Terakhir Warnai Draf Kesepakatan
Secara terpisah, Kantor Berita Tasnim mengutip sumber yang mengetahui proses negosiasi dan menyebut adanya sejumlah perubahan yang dimasukkan pada menit-menit terakhir sebelum draf disepakati.
Perubahan tersebut mencakup ketentuan mengenai tata kelola Selat Hormuz serta jaminan terkait kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon.
Sumber tersebut juga menyebut klausul mengenai Lebanon menjadi faktor penting yang berkontribusi terhadap batalnya rencana serangan balasan Iran atas serangan Israel di kawasan pinggiran selatan Beirut, sehingga perkembangan draf kesepakatan Iran-AS ini masih akan terus menjadi perhatian dunia menjelang proses penandatanganan resmi yang direncanakan berlangsung di Jenewa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
















































