Dari Marbot Masjid ke Juara SUCI 12, Kisah Inspiratif Chairul Mukmin

11 hours ago 4

Harianjogja.com, BANTUL—Nama Chairul Mukmin mendadak menjadi sorotan publik setelah berhasil meraih gelar juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) 12 Kompas TV. Komika yang dikenal dengan sapaan Pak Guru tersebut sukses menuntaskan perjalanan panjang penuh tantangan hingga akhirnya berdiri di podium tertinggi kompetisi komedi nasional pada 6 Juni 2026.

Di balik pencapaian itu, tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan Chairul Mukmin menuju panggung nasional bermula dari lingkungan kampus. Alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2012 tersebut membangun kariernya secara bertahap dari komunitas lokal hingga akhirnya dikenal luas sebagai salah satu komika terbaik Indonesia.

Komedi Bukan Sekadar Mengundang Tawa

Ketertarikan Mukmin terhadap dunia stand up comedy tumbuh sejak lama. Kegemarannya menyaksikan pertunjukan komedi dan bergaul dengan teman-teman yang memiliki minat serupa membuatnya semakin serius mendalami seni melawak tunggal tersebut.

Bagi pria yang pernah menjadi marbot masjid itu, komedi memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan. Ia memandang panggung stand up sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik sosial, sekaligus pesan-pesan positif yang dapat diterima masyarakat dengan cara yang lebih ringan.

"Fokus utama dari stand up comedy itu memang memancing tawa. Namun, saya pribadi berkomitmen bahwa komedi yang dibawakan juga wajib menyelipkan muatan yang edukatif dan membawa manfaat, jadi tidak cuma sekadar membuat penonton terbahak-bahak," urai Mukmin saat diwawancarai secara daring, Senin (15/6/2026).

Keseriusannya meniti karier di industri kreatif mulai terlihat pada 2015 ketika dirinya berada di penghujung masa perkuliahan di UMY. Berbagai pengalaman selama aktif berorganisasi, berinteraksi dengan beragam kalangan masyarakat, hingga dinamika kehidupan mahasiswa menjadi sumber inspirasi utama yang kemudian banyak mewarnai materi komedinya di atas panggung.

UMY Menjadi Bagian Penting Perjalanan Hidupnya

Mukmin mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kampus tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan juga ruang yang ikut membentuk karakter serta cara pandangnya terhadap kehidupan.

Latar belakang keluarga dan pengalaman pendidikan yang dimilikinya turut memperkuat ikatan tersebut. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan tradisi Muhammadiyah dan juga pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

"Silsilah keluarga saya sebenarnya cukup unik karena ibu saya dari kalangan Muhammadiyah sedangkan bapak berlatar belakang NU. Makanya, begitu memutuskan kuliah di kampus Muhammadiyah seperti UMY, suasananya langsung terasa akrab seperti pulang ke rumah sendiri. Rasa nyaman dan ikatan emosionalnya benar-benar melekat kuat," kenang sosok komika religius ini.

Kemampuan komedinya terus berkembang melalui aktivitas di komunitas Stand Up UMY sebelum kemudian bergabung dengan Standupindo Jogja. Dari komunitas-komunitas tersebut, Mukmin memperoleh banyak pengalaman tampil sekaligus mengasah kemampuan menulis materi dan berinteraksi dengan penonton.

Konsistensinya juga diuji ketika berulang kali mengikuti audisi SUCI sejak musim keenam. Meski berkali-kali gagal menembus kompetisi utama, pengalaman tersebut justru membentuk mental yang lebih kuat dan memperkaya kualitas penampilannya sebagai komika.

Sempat Menghilang dari Dunia Stand Up

Perjalanan karier Mukmin tidak selalu berjalan mulus. Pada satu fase, ia mengaku mengalami kejenuhan dan berbagai hambatan yang membuatnya memilih berhenti dari dunia stand up comedy selama kurang lebih dua tahun.

Masa vakum tersebut sempat membuatnya menjauh dari panggung. Namun kecintaan terhadap dunia komedi ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Keinginan untuk kembali berkarya akhirnya mendorongnya mencoba tampil lagi dari titik awal.

Mukmin kemudian membangun kembali kepercayaan dirinya bersama sahabatnya, Fatihdjun. Mereka tampil dalam berbagai pertunjukan kecil yang perlahan mengembalikan semangatnya untuk terus berkarya di industri komedi.

"Saat memutuskan untuk naik panggung lagi kala itu, ternyata saya mendapati fakta kalau banyolan saya masih bisa membuat orang terhibur dan tertawa lepas. Momentum itulah yang membuat saya tersadar bahwa ruang bagi saya di industri ini sepertinya memang masih terbuka lebar," tutur dia mengingat masa-masa sulitnya.

Momentum kebangkitan tersebut menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya. Setelah berhasil lolos ke SUCI musim ke-12, Mukmin mampu menunjukkan performa konsisten hingga mengungguli para peserta lain dari berbagai daerah di Indonesia dan keluar sebagai juara.

Cara Chairul Mukmin Mengatasi Kebuntuan Ide

Di balik penampilan yang menghibur di atas panggung, Mukmin mengakui bahwa proses kreatif seorang komika sering kali tidak berjalan mudah. Ada saat-saat ketika ide terasa buntu dan materi komedi sulit berkembang.

"Jika sedang mengalami fase macet ide, formula saya adalah memperbanyak interaksi, nongkrong sambil bercanda, menonton referensi video komedi, hingga memperluas wawasan dengan rajin mengonsumsi berita aktual serta membaca buku. Lewat aktivitas itu biasanya muncul sudut pandang baru yang segar untuk digodok jadi premis materi," jelasnya berbagi tips kreatif.

Menurut Mukmin, memperluas wawasan dan membuka ruang interaksi menjadi salah satu cara efektif untuk menemukan perspektif baru yang dapat diolah menjadi materi komedi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pesan Husnuzan dari Juara SUCI 12

Menoleh ke belakang, Mukmin menilai setiap kegagalan yang pernah dialaminya memiliki peran penting dalam membentuk mental dan karakter yang dimilikinya saat ini. Berbagai penolakan, masa vakum, hingga kekecewaan yang pernah dirasakan justru menjadi bekal berharga menuju keberhasilannya di SUCI 12.

"Kuncinya jangan pernah memilih menyerah dan tetap jaga sikap husnuzan kepada Allah. Apa saja hal yang belum berhasil kita raih hari ini, yakini bahwa Allah sedang merancang sesuatu yang jauh lebih indah di masa depan. Saya pribadi pernah merasakan kecewa berat, tapi ternyata indahnya rencana Allah itu baru dibuka lewat jalan juara di SUCI 12 ini," pungkasnya.

Di tengah aktivitasnya yang kini semakin padat sebagai komika profesional di ibu kota, Chairul Mukmin menegaskan bahwa UMY tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Kampus tersebut, menurutnya, telah memberikan fondasi yang kuat dalam membentuk karakter, pola pikir kritis, serta keberanian untuk terus memperjuangkan mimpi. Kisah Chairul Mukmin, dari seorang mahasiswa, marbot masjid, hingga menjadi juara SUCI 12 Kompas TV, kini menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang sedang berjuang mewujudkan cita-cita mereka melalui proses panjang yang tidak selalu mudah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |