Bantul Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan, Warga Diminta Hemat Air

4 hours ago 5

Bantul Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan, Warga Diminta Hemat Air

Kekeringan - Ilustrasi StockCake

Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan menyusul mulai dirasakannya dampak musim kemarau di sejumlah wilayah. Status tersebut berlaku sejak 25 Juni 2026 dan akan berlangsung hingga 25 September mendatang.

Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait fenomena El Nino yang diperkirakan cukup kuat tahun ini.

Selain itu, tanda-tanda kekeringan mulai terlihat dari munculnya permintaan bantuan air bersih dari masyarakat. Salah satunya terjadi di wilayah Dlingo yang telah mengajukan permohonan bantuan pada pekan lalu.

“Penetapan ini juga hasil koordinasi dengan berbagai instansi. Dampaknya tidak hanya kekeringan, tetapi juga mulai muncul potensi kebakaran serta penurunan curah hujan,” ujar Antoni, Selasa (30/6/2026).

Ia menegaskan, masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam menggunakan air selama masa siaga darurat ini. Terlebih, jika bantuan air bersih mulai didistribusikan, penggunaannya harus diprioritaskan untuk kebutuhan pokok.

“Kalau nanti ada droping air, harap digunakan untuk kebutuhan utama seperti minum, mandi, dan mencuci, bukan untuk hal yang tidak mendesak,” tegasnya.

Antoni juga mendorong warga untuk mulai mencari sumber air alternatif apabila sumur mulai mengering. Selain itu, air hujan yang masih turun di beberapa wilayah disarankan untuk ditampung sebagai cadangan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menyebut fenomena El Nino yang kerap disebut sebagai El Nino kuat atau “Godzilla” diprediksi berlangsung cukup panjang, mulai Juli hingga Oktober 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan memiliki kemiripan dengan musim kemarau panjang yang terjadi pada 2023 lalu. Meski demikian, ia tetap berharap dampaknya tidak terlalu parah.

“Kami tetap waspada karena cuaca bisa berubah, tetapi prediksi sementara memang akan berlangsung cukup lama,” ujarnya.

Menurut Mujahid, ada dua potensi utama yang menjadi fokus perhatian selama masa kemarau, yakni kekeringan dan kebakaran lahan. Kedua risiko tersebut dinilai meningkat seiring kondisi cuaca yang kian kering.

BPBD Bantul, lanjutnya, telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat hingga penyediaan bantuan air bersih bagi wilayah terdampak.

Jika kebutuhan air bersih meningkat dan anggaran tidak mencukupi, pihaknya akan menggandeng instansi lain serta pihak swasta untuk membantu distribusi air.

“Hingga saat ini baru ada satu permintaan bantuan air bersih dari Dlingo sebanyak 15.000 liter,” jelasnya.

Terkait potensi kebakaran, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan membakar sampah, terutama saat kondisi lahan kering. Aktivitas tersebut dinilai berisiko tinggi memicu kebakaran jika tidak diawasi.

“Kalau terpaksa membakar, harus ditunggu dan dijaga. Jangan ditinggal karena bisa membahayakan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |