Warga Sitimulyo Geruduk Rumah Lurah Usai Ucapan Dinilai Menyinggung

3 hours ago 1

Warga Sitimulyo Geruduk Rumah Lurah Usai Ucapan Dinilai Menyinggung

Warga Dusun Banyakan 1 menggerudug rumah Lurah Juweni, Senin (18/5) malam. Istimewa

Harianjogja.com, BANTUL— Puluhan warga Dusun Banyakan 1, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul mendatangi rumah Lurah Sitimulyo, Juweni, pada Senin (18/5/2026) malam untuk meminta klarifikasi terkait ucapan yang dinilai menyinggung Dukuh Banyakan 1, Munawir.

Kedatangan warga dipicu oleh pernyataan lurah yang disebut-sebut menyamakan dukuh dengan bahasa yang dianggap tidak pantas saat kegiatan perabasan pohon jati sehari sebelumnya. Situasi tersebut memicu reaksi keras dari warga yang merasa tidak terima dengan ucapan tersebut.

Pertemuan antara warga dan pihak lurah yang digelar di rumah jabatan wilayah Ngablak sempat berlangsung tegang. Warga datang dengan tujuan meminta penjelasan sekaligus menuntut permintaan maaf secara langsung kepada dukuh dan masyarakat Banyakan 1.

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan warga merasa kecewa atas ucapan tersebut.

“Kedatangan kami untuk meminta penjelasan kenapa pak dukuh kami yang orangnya alim bisa ‘diunek-uneke’ dengan kalimat binatang. Kami tidak terima,” ujarnya, Senin malam.

Peristiwa ini bermula dari kegiatan kerja bakti warga yang melakukan pemangkasan ranting dan dahan pohon jati milik lurah yang menjulur ke jalan kampung. Selain mengganggu akses jalan, ranting pohon tersebut juga dikhawatirkan mengenai jaringan kabel listrik di sekitar lokasi.

Sebelum melakukan pemangkasan, warga mengaku telah meminta izin kepada keluarga lurah dan mendapat persetujuan. Atas dasar itu, warga kemudian melaksanakan kerja bakti pada Minggu (17/5/2026).

“Kami sudah izin ke anaknya pak lurah dan dibolehkan, makanya kami kerja bakti rabas-rabas pohon itu,” katanya.

Namun situasi berubah saat lurah datang ke lokasi ketika kegiatan berlangsung. Warga menyebut terjadi adu argumen setelah lurah mempertanyakan pemangkasan pohon yang dilakukan, hingga akhirnya muncul ucapan yang dinilai menyinggung dukuh setempat.

Dukuh Banyakan 1, Munawir, dalam forum pertemuan juga meminta klarifikasi langsung kepada lurah terkait ucapan tersebut. Ia menegaskan bahwa pernyataan seperti itu tidak seharusnya disampaikan oleh seorang pemimpin kalurahan kepada perangkat di bawahnya.

“Ya kami meminta penjelasan kepada yang bersangkutan terkait perkataannya itu. Karena itu tidak seharusnya disampaikan oleh seorang Lurah,” katanya.

Meski sempat berlangsung panas, suasana pertemuan akhirnya dapat diredam oleh tokoh masyarakat dan warga yang hadir. Setelah dialog berlangsung, Lurah Sitimulyo, Juweni, menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada warga.

Warga kemudian meminta agar kejadian serupa tidak terulang kembali agar hubungan antara pemerintah kalurahan dan masyarakat tetap terjaga dengan baik di wilayah Sitimulyo.

Lurah Sitimulyo, Juweni, mengakui ucapannya muncul secara spontan karena emosi sesaat. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa berlanjut ke persoalan yang lebih luas.

“Saya emosi sesaat dan saya minta maaf, semoga dengan kejadian ini semuanya bisa selesai secara kekeluargaan dan semoga tidak berlanjut. Sekali lagi saya minta maaf,” katanya.

Peristiwa ini menjadi perhatian warga setempat karena melibatkan aktivitas kerja bakti yang sejatinya bertujuan menjaga lingkungan, namun berujung pada ketegangan antara warga dan pemerintah kalurahan di Sitimulyo, Bantul.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |