Restorasi Gumuk Pasir Jadi Fokus Penataan Kawasan Pantai Selatan

1 hour ago 1

Restorasi Gumuk Pasir Jadi Fokus Penataan Kawasan Pantai Selatan

Gumuk pasir di Pantai Parangtritis./IST-Humas Pemkab Bantul

BANTUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menjadikan restorasi Gumuk Pasir Parangtritis sebagai salah satu fokus utama dalam penataan kawasan wisata pantai selatan. Upaya percepatan restorasi mulai dilakukan pada 2026 meskipun pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan anggaran.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan keberadaan Gumuk Pasir Parangtritis memiliki nilai ekologis, geologis, sekaligus pariwisata yang sangat penting. Karena itu, kawasan tersebut harus dijaga agar tetap lestari dan tidak kehilangan karakter alamiahnya.

“Restorasi Gumuk Pasir menjadi salah satu program unggulan dalam penataan kawasan wisata pantai selatan. Tahun ini kami mulai melakukan percepatan, meskipun memang ada keterbatasan anggaran,” ujar Aris, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan gumuk pasir terbentuk melalui proses alam yang berlangsung secara berkelanjutan. Material pasir berasal dari material vulkanik yang terbawa aliran sungai menuju pantai, kemudian mengering dan dihembuskan angin laut ke daratan hingga membentuk gundukan pasir.

Proses pembentukan gumuk pasir umumnya melibatkan tiga tahapan utama, yakni penyediaan material vulkanik oleh aliran sungai, proses pengeringan material pasir, serta dorongan angin laut yang mengangkut pasir ke area tertentu. Ketika aliran angin terhambat, pasir akan terakumulasi dan membentuk gundukan.

Menurut Aris, Gumuk Pasir Parangtritis merupakan fenomena alam yang langka. Kawasan ini disebut sebagai satu-satunya gumuk pasir bertipe barkhan di Asia Tenggara.

“Gumuk Pasir Parangtritis di Bantul merupakan fenomena alam yang langka. Ini satu-satunya di Asia Tenggara, bahkan termasuk yang sangat sedikit di dunia,” katanya.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta

Berdasarkan berbagai kajian, keberadaan gumuk pasir saat ini menghadapi ancaman degradasi hingga kepunahan apabila tidak dilakukan langkah konservasi secara serius. Salah satu faktor yang menghambat proses alami pembentukan gumuk pasir adalah adanya vegetasi dan bangunan yang menghalangi jalur angin dari pantai menuju area gumuk pasir.

Karena itu, salah satu langkah yang telah dilakukan pemerintah ialah pemangkasan pohon-pohon yang dinilai menghambat arus angin.

“Yang mengganggu arus angin dari pantai menuju gumuk pasir salah satunya pohon, sehingga dilakukan pemangkasan secara selektif,” ujarnya.

Selain vegetasi, keberadaan lapak milik masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah lapak dinilai menghambat pergerakan pasir yang terbawa angin laut ke kawasan gumuk pasir.

Pemkab Bantul berencana menata ulang keberadaan lapak tersebut agar tetap mendukung pelestarian kawasan tanpa menghilangkan aktivitas ekonomi warga.

Aris yang juga mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul memastikan masyarakat setempat tetap dapat beraktivitas ekonomi setelah penataan dilakukan.

“Kami tetap mengakomodasi masyarakat agar bisa beraktivitas ekonomi, tetapi dengan tata kelola yang lebih tertib dan tidak mengganggu kawasan inti gumuk pasir,” katanya.

Selain itu, jalur wisata jip juga akan diatur ulang. Kendaraan wisata nantinya tidak diperbolehkan melintas di kawasan inti Gumuk Pasir demi menjaga bentang alam tetap terjaga.

Penataan ini diharapkan mampu menjaga kelestarian Gumuk Pasir Parangtritis sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata edukasi unggulan di Kabupaten Bantul. (Adv)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |