Skema Murur Haji 2026 Disiapkan, Lansia Tak Turun di Muzdalifah

6 hours ago 3

Harianjogja.com, MAKKAH—Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji 2026 di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memfinalisasi penerapan skema murur yang ditujukan khusus bagi jemaah lanjut usia, risiko tinggi (risti), serta para pendampingnya. Skema ini dirancang untuk memperlancar arus mobilitas jemaah sekaligus menjaga kondisi kesehatan kelompok rentan di tengah padatnya pergerakan ibadah haji.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Puji Raharjo, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan langkah antisipatif atas keterbatasan kapasitas di Muzdalifah. Dengan skema ini, jemaah yang masuk kategori tertentu tidak lagi diwajibkan turun dan mabit di lokasi tersebut.

“Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” ujar Puji di Makkah, Jumat (16/5/2026).

Ia menegaskan, jemaah dalam skema murur tetap menjalankan wukuf di Arafah sebagaimana rukun haji, namun setelah itu langsung melanjutkan perjalanan ke Mina menggunakan bus tanpa berhenti di Muzdalifah. “Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah,” katanya.

Sementara itu, jemaah dengan kondisi kesehatan yang lebih stabil tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum diberangkatkan ke Mina setelah melewati tengah malam sesuai skema reguler. Untuk memastikan implementasi berjalan sesuai rencana, Satgas Armuzna bersama PPIH masih menyempurnakan mekanisme teknis pelaksanaan di lapangan.

Puji yang juga menjabat Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi menyebutkan, koordinasi intensif terus dilakukan dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, hingga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Langkah ini dilakukan agar seluruh proses pergerakan jemaah dapat berlangsung tertib dan aman.

“Kita berharap semua jemaah bisa mengikuti puncak ibadah haji secara normal, sehat, dan tanpa terkendala hal-hal yang menghambat ibadah,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan jemaah terhadap arahan petugas, mengingat kepadatan ekstrem pada fase Armuzna masih menjadi tantangan utama dalam penyelenggaraan haji. Pemerintah tidak ingin kejadian keterlambatan atau jemaah tersesat seperti pada musim sebelumnya kembali terulang.

“Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan,” katanya.

Selain skema murur, PPIH Arab Saudi juga menyiapkan penempatan petugas lebih awal di Arafah dan Mina untuk membantu pengaturan kedatangan jemaah. Sebagian petugas bahkan sudah disiagakan sebelum puncak haji dimulai guna memastikan jemaah dapat menempati tenda sesuai kloter tanpa hambatan.

“Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jemaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” ujar Puji.

Menurutnya, penugasan tersebut diisi oleh petugas berpengalaman yang telah beberapa kali terlibat dalam operasional haji, dengan prioritas tugas pelayanan dibandingkan pelaksanaan ibadah pribadi. Di sisi lain, layanan safari wukuf bagi jemaah lansia dan disabilitas juga tetap disiapkan, meski jumlah pesertanya tahun ini dikurangi menjadi sekitar 300 hingga 400 orang, dari sebelumnya sekitar 525 orang.

Puji menilai penurunan jumlah peserta safari wukuf mencerminkan meningkatnya pengawasan kesehatan jemaah sejak dari tanah air hingga Arab Saudi. Menjelang wukuf di Arafah, ia kembali mengingatkan agar jemaah menjaga stamina dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas yang menguras tenaga.

Puncak ibadah haji 2026 dijadwalkan dimulai pada 8 Zulhijah 1447 Hijriah atau 25 Mei 2026, saat jemaah mulai bergerak dari Makkah menuju Arafah untuk menjalani wukuf pada 9 Zulhijah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |