Liga Inggris Masuki Babak Baru, Sponsor Judi Digantikan Fintech

1 hour ago 3


Harianjogja.com, JOGJA—Era dominasi perusahaan judi di seragam klub-klub Liga Premier Inggris resmi memasuki babak akhir. Mulai musim 2026-2027, sponsor taruhan tidak lagi menghiasi bagian depan kaus pertandingan setelah klub-klub Premier League menerapkan larangan kolektif secara sukarela. Kekosongan tersebut kini mulai diisi perusahaan teknologi, fintech, hingga lembaga investasi yang melihat sepak bola sebagai sarana membangun reputasi global.

Perubahan besar ini terungkap dalam laporan terbaru Nielsen Sports yang dirilis Kamis (6/8/2026). Analisis tersebut menunjukkan bahwa ekosistem komersial Liga Premier tengah bergerak menuju model kemitraan yang lebih beragam dibanding satu dekade terakhir yang didominasi industri perjudian.

“Dengan diberlakukannya larangan kolektif sukarela terhadap kemitraan sponsor judi di bagian depan kaus, lanskap yang telah mendominasi satu dekade terakhir kini mengalami perubahan mendasar,” tulis Nielsen dalam laporannya yang dikutip Reuters.

Keputusan menghapus sponsor judi sebenarnya telah disepakati klub-klub Liga Premier sejak 2023. Namun, implementasinya baru berlaku penuh pada musim kompetisi 2026-2027.

Bagi sebagian klub, kebijakan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran terkait potensi berkurangnya pemasukan sponsor. Pasalnya, perusahaan taruhan selama bertahun-tahun menjadi salah satu penyokong pendapatan komersial terbesar bagi klub-klub Inggris.

Namun, laporan Nielsen menunjukkan kekhawatiran itu mulai terjawab. Sejumlah sektor baru justru melihat peluang besar untuk memanfaatkan eksposur global Liga Premier yang menjangkau ratusan negara.

Tiga sektor yang kini paling agresif masuk ke dunia sepak bola Inggris adalah perusahaan teknologi perangkat lunak, industri fintech, dan lembaga investasi yang didukung negara.

Salah satu contoh paling mencolok datang dari Crystal Palace. Klub asal London tersebut menjadikan perusahaan teknologi Temporal sebagai sponsor utama di bagian depan kaus untuk musim 2026-2027.

Temporal dikenal sebagai pengembang platform perangkat lunak sumber terbuka yang digunakan berbagai perusahaan teknologi besar dunia. Perusahaan ini disebut telah dipercaya oleh sejumlah organisasi global, termasuk OpenAI, Netflix, JPMorgan Chase, dan Vodafone.

Tak hanya memasang logo di seragam pertandingan, kerja sama tersebut juga mencakup program pendidikan teknologi dan kecerdasan buatan bagi generasi muda melalui yayasan sosial klub, Palace for Life Foundation.

Perubahan arah sponsor juga terlihat di Aston Villa. Klub yang tampil impresif dalam beberapa musim terakhir itu menggandeng Visit Rwanda sebagai mitra utama dalam salah satu kesepakatan komersial terbesar sepanjang sejarah klub.

Melalui kerja sama tersebut, Aston Villa akan membantu mempromosikan Rwanda sebagai destinasi wisata, investasi, bisnis, dan olahraga internasional. Logo Visit Rwanda bakal tampil di seragam tim utama, tim putri, hingga akademi.

Sementara itu, Everton memilih jalur sektor jasa keuangan dengan menunjuk CMC Markets sebagai sponsor utama untuk musim 2026-2027.

Perusahaan layanan keuangan global tersebut tidak hanya memperoleh hak branding di seragam pertandingan, tetapi juga terlibat dalam program literasi keuangan bersama Everton in the Community yang menyasar masyarakat Liverpool.

Pemimpin pasar olahraga Nielsen untuk Inggris dan Irlandia, Andy Milnes, menilai perubahan ini menunjukkan semakin banyak perusahaan teknologi dan fintech yang menggunakan sepak bola sebagai instrumen membangun kredibilitas internasional.

“Bagi organisasi penantang, khususnya di bidang fintech dan AI, sponsor digunakan untuk membangun kredibilitas global dalam skala besar,” ujarnya.

Menurut Milnes, klub-klub Liga Premier kini menghadapi tantangan baru. Jika sebelumnya fokus utama adalah mengejar nilai kontrak sponsor tertinggi, kini mereka harus mampu menawarkan nilai strategis yang menarik bagi perusahaan teknologi dan sektor ekonomi masa depan.

Meski sponsor judi di bagian depan kaus telah dilarang, regulasi tersebut belum mencakup area lengan baju maupun perlengkapan latihan. Karena itu, sejumlah klub masih mempertahankan kerja sama dengan perusahaan taruhan pada ruang komersial lain yang masih diperbolehkan.

Di sisi lain, pemerintah Inggris disebut tengah mengkaji aturan tambahan yang dapat membatasi keterlibatan perusahaan perjudian yang tidak berizin dalam seluruh aktivitas sponsorship olahraga.

Nielsen memprediksi transformasi sponsor di Liga Premier belum akan berhenti dalam waktu dekat. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, perusahaan teknologi infrastruktur, kecerdasan buatan, dan layanan keuangan digital diperkirakan akan menjadi kategori sponsor paling dominan.

Perubahan tersebut menandai pergeseran penting dalam industri sepak bola modern. Jika satu dekade lalu logo perusahaan taruhan menjadi pemandangan umum di hampir setiap pertandingan Liga Premier, kini panggung yang sama mulai diisi perusahaan teknologi dan keuangan yang berlomba memanfaatkan daya tarik global kompetisi sepak bola paling populer di dunia itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |