Gerhana Matahari Total 2026: Momen untuk Mengungkap Misteri Korona

1 hour ago 4

Jumali

Jumali Jum'at, 07 Agustus 2026 20:27 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Fenomena Gerhana Matahari Total yang dijadwalkan terjadi pada 12 Agustus 2026 menjadi momentum krusial bagi dunia sains. Peristiwa langka ini memberikan kesempatan emas bagi para ilmuwan untuk mempelajari korona Matahari, lapisan atmosfer terluar yang biasanya tersembunyi oleh cahaya silau permukaan Matahari .

Korona hanya dapat diamati secara langsung dari Bumi ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari dalam fase totalitas. Cahaya putih lembut yang berpendar di sekeliling siluet hitam Bulan menjadi objek penelitian utama untuk memahami struktur suhu dan hubungannya dengan angin surya (solar wind) .

Uji Teori dan Cuaca Antariksa

Dilansir dari National Geographic, Profesor Fisika dan Astronomi dari University of Nevada, Jason Steffen, menekankan nilai historis fenomena ini. Pada awal abad ke-20, gerhana matahari digunakan untuk menguji teori relativitas umum Einstein. Kini, meskipun teknologi satelit sudah maju, observasi langsung saat gerhana tetap tak tergantikan untuk mendalami cuaca antariksa .

Aktivitas di korona Matahari diketahui berdampak langsung pada kehidupan modern di Bumi. Badai geomagnetik yang dipicu oleh lontaran massa korona dapat mengganggu sistem komunikasi, satelit navigasi, hingga stabilitas jaringan kelistrikan global. Data yang diperoleh ilmuwan saat gerhana sangat penting untuk memitigasi dampak tersebut .

Pengalaman Visual dan Perilaku Satwa

Selain aspek ilmiah, fase totalitas menawarkan pengalaman visual yang dramatis. Astrofisikawan Emily Watson menyebutkan bahwa suasana siang hari akan berubah seketika menjadi senja, dengan suhu udara yang turun dan bintang-bintang mulai terlihat. Perubahan cahaya yang mendadak ini bahkan dilaporkan dapat memengaruhi perilaku satwa, seperti burung yang berhenti berkicau karena mengira malam telah tiba .

Badan Antariksa Eropa (ESA) dan NASA akan menyiarkan langsung peristiwa ini dari berbagai lokasi di jalur totalitas, termasuk dari Observatorium Astrofisika Javalambre di Spanyol . Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan siaran langsung tersebut melalui laman resmi NASA Live mulai pukul 00.15 WIB dini hari, Kamis 13 Agustus 2026 .

Jalur dan Durasi Totalitas

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 akan melintasi wilayah Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Spanyol bagian utara, hingga sebagian kecil Portugal . Fenomena ini tidak dapat disaksikan dari Indonesia karena jalur totalitas berada di belahan Bumi utara .

Durasi fase totalitas tergolong sangat singkat, dengan maksimal hanya berlangsung selama 2 menit 18 detik di jalur tengah, tepatnya di lepas pantai barat Islandia . Saat memasuki wilayah Spanyol dan Portugal menjelang matahari terbenam, durasi totalitas diperkirakan sekitar satu menit .

Sementara itu, gerhana matahari sebagian akan terlihat di wilayah yang lebih luas, meliputi sebagian besar Eropa, Kanada, bagian utara Amerika Serikat, serta Afrika barat laut .

Keselamatan Pengamatan

Masyarakat dan peneliti yang berencana melakukan pengamatan diimbau untuk menggunakan pelindung mata khusus seperti kacamata gerhana yang memenuhi standar ISO 12312-2 atau solar viewer . Penggunaan kacamata hitam biasa sangat dilarang karena tidak mampu melindungi mata dari radiasi berbahaya .

Pengamatan melalui kamera, teleskop, atau teropong juga harus dilengkapi dengan filter matahari khusus untuk mencegah cedera mata serius . Satu-satunya momen aman untuk melihat tanpa pelindung adalah saat Matahari telah tertutup sepenuhnya oleh Bulan dalam fase totalitas .

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |