Kisah Riski dan Arif Berburu Kerja di Job Fair Disabilitas

4 hours ago 2

Kisah Riski dan Arif Berburu Kerja di Job Fair Disabilitas

Job Fair disabilitas diselenggarakan Disnaker Kulonprogo di Balai Latihan Kerja (BLK) Wates, Kamis (27/8/2026) diserbu para pencaker. Harian Jogja/Khairul Ma'arif.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak membawa puluhan penyandang disabilitas ke Balai Latihan Kerja (BLK) Wates, Kamis (27/8/2026). Mereka mengikuti job fair khusus penyandang disabilitas yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kulonprogo.

Peserta datang dengan latar belakang dan kondisi yang beragam. Ada penyandang tunanetra, tunadaksa, tuli, hingga tunarungu dan wicara. Usia mereka juga beragam, mulai dari anak muda hingga orang yang lebih dewasa.

Sejumlah peserta muda bahkan datang bersama orang tua. Salah satunya Juminten, warga Tawangsari, Pengasih, yang mengantar putra sulungnya, Riski, ke job fair tersebut.

Riski merupakan lulusan SMA LB yang mengalami disabilitas netra sejak lahir. Bersama ibunya, ia mendatangi job fair untuk mencari peluang kerja yang setara sekaligus sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Juminten, 46, mengatakan dirinya ingin melihat anaknya memiliki pekerjaan dan mampu hidup mandiri. Menurutnya, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas penting untuk menunjang masa depan mereka.

"Harapan saya sebagai orang tua, anak saya bisa mendapatkan hak dan kesempatan kerja yang setara dengan masyarakat umum. Kemandirian ini sangat penting bagi masa depannya. Kami berharap perusahaan maupun instansi penyedia kerja dapat memberikan wadah pelatihan serta kesempatan karir yang sesuai dengan keterampilan anak-anak disabilitas," tutur Juminten saat ditemui di BLK Wates, Kamis (27/8/2026).

Sementara itu, Riski telah memiliki kemampuan mengoperasikan komputer atau PC. Keahlian tersebut menjadi salah satu modal yang dibawanya ketika mencari pekerjaan.

Ia berharap perusahaan semakin terbuka terhadap tenaga kerja penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

"Saya ingin mencari pengalaman kerja dan mengincar posisi di bidang teknologi komputer. Harapannya ke depan, semakin banyak perusahaan yang mau membuka lowongan kerja dan menerima tenaga kerja disabilitas netra secara lebih luas," ujar Riski saat ditemui di sela-sela penelusuran lowongan pekerjaan.

Pasangan Tuli Ikut Berburu Lowongan

Cerita lain datang dari pasangan suami istri penyandang disabilitas tuli, tunarungu dan wicara, Arif Setyawan, 33, dan Restiyanti, 28. Pasangan yang berdomisili di Kapanewon Nanggulan tersebut juga hadir dalam job fair dengan membawa anak mereka yang masih berusia tiga tahun.

Arif merupakan lulusan S1 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Meski telah mengantongi ijazah sarjana, ia masih menghadapi tantangan untuk mendapatkan pekerjaan formal sebagai penyandang disabilitas pendengaran.

Dalam job fair tersebut, Arif mencoba mencari peluang dari sejumlah perusahaan. Ia mengaku telah mengirimkan lamaran ke beberapa perusahaan dari berbagai sektor.

"Saya sudah mendaftar ke beberapa tempat, mulai dari Alfa Mart, PT Wings Sukses, hingga PT Mega Innovation Agrainti," ungkap Arif melalui penerjemah bahasa isyarat.

Dalam keluarganya, Arif menjadi satu-satunya yang aktif bekerja untuk mencari nafkah. Sementara Restiyanti yang juga merupakan Teman Tuli tidak bekerja karena fokus mengasuh anak mereka.

Arif mengatakan latar belakang pendidikan belum otomatis membuat penyandang disabilitas pendengaran mudah masuk ke pasar kerja formal. Ia masih sering menemui kendala ketika proses melamar pekerjaan.

Menurutnya, komunikasi menjadi salah satu hambatan utama. Sebagian perusahaan masih memiliki kekhawatiran ketika harus berkomunikasi dengan pekerja penyandang disabilitas pendengaran.

"Tantangannya memang ada di komunikasi. Terkadang ketika sudah mendaftar, teman-teman tidak diterima karena perusahaan khawatir dengan kendala komunikasi tersebut," jelasnya.

Jadi Driver untuk Penuhi Kebutuhan Keluarga

Sambil terus mencari pekerjaan tetap, Arif memilih bekerja sebagai pengemudi freelance untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak selalu sama setiap hari. Ia terkadang mendapatkan Rp50.000 hingga Rp100.000 sehari, tetapi pada hari tertentu tidak memperoleh penghasilan sama sekali.

"Pendapatan tidak tentu, kalau dapat Rp100 ribu itu cukup jarang. Kalau untuk kebutuhan pokok yang substansial seperti biaya makan sehari-hari, cukup sulit jika hanya mengandalkan pendapatan sebagai driver. Tapi yang penting kita tetap berhemat dan mengatur pengeluaran untuk sewa tempat tinggal hingga kuota internet," tuturnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan, Arif memilih untuk terus berusaha. Ia percaya peluang kerja tetap dapat ditemukan selama tidak berhenti mencari dan mencoba.

Ia juga mengajak penyandang disabilitas lainnya, khususnya Teman Tuli, agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi penolakan dari perusahaan.

"Life must go on, jalani saja dulu. Yang penting kita terus berikhtiar melamar apa yang bisa kita upayakan sekarang. Kalau di perusahaan A belum diterima, kita coba perusahaan lain. Semoga jika sudah diupayakan dan memang rezeki kita, pasti akan ada jalan," pungkas Arif penuh harapan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |