Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mulai memasuki tahap pengobatan dalam pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2026. Hasil sementara menunjukkan sebagian peserta yang sebelumnya terdiagnosis hipertensi dan diabetes melitus kini telah menjalani pemeriksaan ulang dengan tingkat pengendalian penyakit yang mulai terlihat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan sekitar 35,4 persen pasien hipertensi yang terdiagnosis melalui CKG 2025 kembali menjalani pemeriksaan pada 2026. Dari jumlah tersebut, 46,9 persen berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
"Sementara pada pasien diabetes melitus, sekitar 33,1 persen telah kembali melakukan pemeriksaan, dan 69,4 persen diantaranya berhasil mencapai pengendalian kadar gula darah," kata Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis.
CKG Kini Masuk Tahap Pengobatan
Budi menjelaskan sejak 2026 Program CKG tidak lagi hanya berfokus pada skrining atau pemeriksaan kesehatan, tetapi juga memasuki tahap tata laksana atau pengobatan bagi peserta yang telah terdiagnosis penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes melitus.
Menurutnya, keberhasilan mengendalikan kedua penyakit tersebut berperan penting dalam menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung maupun stroke.
Pemerintah menargetkan sedikitnya 50 persen penderita hipertensi dan diabetes menjalani pengobatan rutin sepanjang 2026. Dari jumlah tersebut, separuhnya diharapkan mampu mencapai kondisi penyakit yang terkendali atau sekitar seperempat dari seluruh penderita yang ditemukan melalui Program CKG.
Indonesia Bangun Pendekatan Triple 80
Budi menilai pengalaman sejumlah negara menunjukkan skrining kesehatan harus diikuti dengan pengobatan yang berkelanjutan agar memberikan hasil yang optimal.
"Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa skrining harus diikuti dengan pengobatan yang rutin dan pengendalian penyakit. Negara seperti Korea berhasil menurunkan kematian akibat penyakit kardiovaskular melalui pendekatan yang dikenal sebagai Triple 80," ujarnya.
Ia menjelaskan konsep Triple 80 mencakup tiga target utama, yakni 80 persen masyarakat menjalani skrining, 80 persen penderita memperoleh pengobatan, dan 80 persen pasien yang diobati berhasil mengendalikan penyakitnya.
"Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia."
Perkuat Layanan hingga Fasilitas Kesehatan Primer
Kemenkes menyatakan akan terus memperluas cakupan Program CKG sekaligus memperkuat tindak lanjut hasil pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan primer.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat yang telah didiagnosis menderita penyakit kronis memperoleh pengobatan dan pendampingan secara berkelanjutan.
Dengan pendekatan itu, Program CKG diharapkan tidak hanya meningkatkan deteksi dini penyakit, tetapi juga mampu mengurangi beban penyakit tidak menular sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Peserta CKG Capai 59,6 Juta Orang
Budi mengungkapkan hingga 5 Juli 2026, jumlah peserta Program CKG telah mencapai 59,6 juta orang, melampaui target mingguan yang telah ditetapkan pemerintah.
Dengan dimulainya tahun ajaran baru di berbagai daerah, Kemenkes optimistis jumlah peserta akan terus bertambah sehingga target 130 juta peserta pada akhir 2026 tetap berada pada jalur pencapaian.
Menurut Budi, CKG menjadi program skrining kesehatan terbesar yang pernah dilaksanakan di Indonesia sekaligus menjadi langkah mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari pengobatan menjadi pencegahan.
"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif. Karena itu, CKG menjadi investasi kesehatan bangsa dalam jangka panjang," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































