Harianjogja.com, MAGELANG—Udara sejuk menyambut pengunjung yang berjalan menuju sebuah bangunan unik di perbukitan Menoreh, Karangrejo, Magelang, Jawa Tengah.
Dari kejauhan, bangunan tersebut terlihat seperti seekor ayam raksasa berwarna putih yang berdiri di atas bukit. Bentuknya yang tidak biasa membuat masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Gereja Ayam.
Namun, nama tersebut sebenarnya bukan identitas resmi bangunan yang kini menjadi salah satu destinasi wisata di kawasan Borobudur. Bangunan itu bernama Rumah Doa Bukit Rhema.
Sesuai namanya, tempat tersebut dirancang sebagai rumah doa yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan.
Pemandu Wisata Rumah Doa Bukit Rhema, Aris, menjelaskan kepada pengunjung bahwa bangunan itu bukan gereja dan tidak digunakan untuk misa, kebaktian mingguan, maupun ibadah rutin.
Konsep keberagaman justru menjadi salah satu bagian penting dari keberadaan Rumah Doa Bukit Rhema.
Di dalam bangunan terdapat sejumlah ruang yang dapat digunakan untuk berdoa secara pribadi. Tersedia pula ruang doa bagi umat Kristiani serta ruang yang disiapkan untuk umat Hindu dan Buddha.
Kawasan di sekitar bangunan juga dilengkapi kapel Katolik, Jalan Salib, Goa Bunda Maria, dan mushala.
Menulis Harapan di Atas Bukit
Pengalaman berkunjung ke Rumah Doa Bukit Rhema tidak hanya menawarkan pemandangan dan bentuk bangunan yang unik.
Di lantai dua, misalnya, pengunjung akan menemukan suasana yang teduh. Dinding batu alam menjadi bagian dari interior bangunan. Sirkulasi udara alami membuat ruangan tetap terasa nyaman meskipun penggunaan pendingin udara maupun kipas angin tidak dominan.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah Dinding Harapan.
Di tempat tersebut, pengunjung dapat menuliskan doa, harapan, maupun pesan positif pada kertas yang telah disediakan. Tulisan itu menjadi bagian dari pengalaman personal setiap orang yang datang.
Ada pula Pohon Kehidupan yang dipenuhi wadah-wadah kecil berisi pesan positif.
Pengunjung dapat membaca pesan tersebut dan memilih salah satunya untuk dibawa pulang. Pesan yang tersedia dapat disesuaikan dengan suasana hati maupun perjalanan masing-masing orang, baik ketika datang bersama keluarga, pasangan, maupun seorang diri.
Ruang-ruang tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan destinasi wisata pada umumnya.
Pengunjung tidak hanya diajak menikmati bangunan dan panorama alam, tetapi juga diberi ruang untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, berdoa, dan membawa pulang pesan tentang kebaikan.
Bermula dari Doa pada 1988
Kisah Rumah Doa Bukit Rhema ternyata bermula jauh sebelum bangunan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata.
Pada 1988, Daniel Alamsjah, pendiri Rumah Doa Bukit Rhema, dikisahkan melakukan doa semalaman di kawasan yang saat itu masih berupa hutan.
Dalam sebuah perjalanan kerja ke Borobudur, Daniel bertemu seorang anak bernama Wardito yang sedang mencari rumput di kawasan perbukitan.
Pertemuan tersebut kemudian membawa Daniel menuju bukit yang kini menjadi lokasi Rumah Doa Bukit Rhema.
Menurut kisah yang disampaikan pemandu, Daniel merasa lokasi tersebut memiliki keterkaitan dengan pengalaman spiritual yang sebelumnya ia rasakan dalam sebuah mimpi.
Empat tahun berselang, tepatnya pada 1992, pembangunan bangunan mulai dilakukan.
Daniel membangun tempat tersebut menggunakan biaya pribadi dengan melibatkan masyarakat sekitar.
Pembangunan sempat terhenti pada 1998 ketika Indonesia dilanda krisis moneter. Bangunan yang saat itu terdiri atas enam lantai dan belum sepenuhnya selesai justru memunculkan nama yang kemudian begitu melekat di masyarakat.
Dari sudut tertentu, bangunan tersebut terlihat menyerupai seekor ayam dengan bagian seperti jengger di atas kepalanya.
Ditambah lagi, Daniel diketahui merupakan seorang Kristen, sementara mayoritas masyarakat di sekitar lokasi beragama Islam. Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa bangunan itu merupakan sebuah gereja berbentuk ayam.
Padahal, rancangan awal bangunan tersebut menggambarkan seekor burung merpati putih dengan mahkota.
Burung merpati dipilih sebagai simbol ketulusan, cinta kasih, dan kedamaian.
Meski demikian, sebutan Gereja Ayam telanjur populer. Nama tersebut bahkan hingga kini masih digunakan masyarakat dalam berbagai informasi mengenai lokasi wisata tersebut.
Makin Populer setelah Ada AADC 2
Popularitas Rumah Doa Bukit Rhema semakin meningkat setelah kawasan tersebut digunakan sebagai salah satu lokasi pengambilan gambar film Ada Apa dengan Cinta? 2 pada 2014.
Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra itu membuat bangunan di atas perbukitan Menoreh tersebut semakin dikenal masyarakat luas.
Salah satu lokasi yang menarik perhatian adalah bagian puncak bangunan. Tempat tersebut menjadi lokasi adegan kedua pemeran utama dalam film drama romantis tersebut.
Dari puncak bangunan, pengunjung dapat menikmati panorama kawasan Candi Borobudur.
Ketika cuaca cerah, sejumlah gunung juga dapat terlihat dari ketinggian, di antaranya Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu alasan perjalanan menuju puncak terasa sepadan dengan langkah yang harus ditempuh pengunjung.
Wisata yang Melibatkan Warga
Meningkatnya popularitas Rumah Doa Bukit Rhema juga membawa dampak bagi masyarakat sekitar.
Pengelola melibatkan warga dalam aktivitas wisata, salah satunya melalui penyediaan singkong goreng yang diolah oleh ibu-ibu setempat.
Makanan tersebut dapat ditukarkan dengan tiket pengunjung. Dengan demikian, aktivitas wisata tidak hanya memberikan pengalaman kepada wisatawan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk memperoleh manfaat ekonomi.
Pengelola juga terus melakukan pembenahan fasilitas dan memperhatikan aspek keselamatan pengunjung.
Salah satunya dengan menyediakan ruang tunggu bagi wisatawan yang hendak menuju puncak bangunan.
Kapasitas puncak dibatasi maksimal tujuh orang dalam satu waktu. Pembatasan tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan, terutama ketika jumlah wisatawan sedang meningkat.
Ribuan Pengunjung Saat Musim Liburan
Daya tarik Rumah Doa Bukit Rhema terlihat dari jumlah pengunjung yang datang.
Pada hari biasa, jumlah wisatawan berkisar 200 hingga 300 orang per hari. Saat musim liburan, jumlah tersebut dapat meningkat hingga mendekati 1.000 orang dalam sehari.
Lonjakan kunjungan biasanya terjadi pada periode Natal, Tahun Baru, Lebaran, maupun libur sekolah.
Yang menarik, pengunjung Rumah Doa Bukit Rhema datang dari latar belakang yang beragam.
Wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Jakarta, Surabaya hingga Kalimantan, datang untuk melihat bangunan unik tersebut.
Wisatawan mancanegara juga turut berkunjung. Beberapa di antaranya berasal dari Spanyol, China, dan Inggris.
Mereka datang bukan hanya untuk mengabadikan bentuk bangunan yang ikonik, tetapi juga menikmati suasana ruang doa dan panorama perbukitan Menoreh.
Pada akhirnya, daya tarik Rumah Doa Bukit Rhema tidak berhenti pada bentuk bangunannya yang menyerupai ayam.
Di balik bangunan tersebut terdapat perjalanan panjang tentang doa, perjumpaan, keyakinan, keberagaman, dan upaya menghadirkan ruang yang dapat digunakan oleh siapa saja.
Lorong-lorong bangunan, panorama pegunungan, Dinding Harapan, Pohon Kehidupan, serta kisah pembangunannya menjadi bagian dari pengalaman yang membuat tempat tersebut memiliki cerita tersendiri.
Pengunjung mungkin datang sebagai wisatawan untuk melihat bangunan yang selama ini dikenal sebagai Gereja Ayam. Namun, ketika meninggalkan Bukit Rhema, mereka dapat membawa pulang sesuatu yang lebih personal: sebuah harapan, doa, atau pesan sederhana tentang cinta kasih dan kedamaian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara










































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4855687/original/012825900_1717681637-20240606IQ_Timnas_Indonesia_vs_Irak__15_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)





