Ditinggal Son Heung-min, Tottenham Hotspur Terpuruk di Zona Degradasi

1 hour ago 2

Harianjogja.com, LONDON— Situasi mengejutkan datang dari kompetisi Premier League yang melibatkan Tottenham Hotspur. Klub asal London Utara itu dilaporkan terpuruk di zona degradasi menyusul rentetan hasil buruk yang terus berlanjut dalam beberapa pertandingan terakhir.

Hingga pekan ke-32 Tottenham hanya mampu mengoleksi 30 poin dan berada di urutan ke-18. Spurs bahkan tidak pernah menang dalam lima laga terakhir dan empat kali menelan kekalahan dan sekali seri.

Kondisi ini menjadi sorotan besar di Inggris karena Tottenham sebelumnya termasuk dalam jajaran “Big Six” dan dikenal sebagai salah satu tim dengan nilai skuad tinggi di Eropa. Berdasarkan data Transfermarkt, nilai pasar skuad mereka bahkan masih berada di peringkat atas secara global.

Namun, performa di lapangan justru berbanding terbalik dengan kekuatan finansial dan kedalaman skuad yang dimiliki. Inkonsistensi permainan membuat posisi Tottenham terus merosot hingga berada di papan bawah klasemen sementara.

Sorotan publik juga mengarah pada perubahan besar dalam komposisi tim setelah kepergian ikon klub, Son Heung-min. Absennya pemain asal Korea Selatan itu disebut meninggalkan dampak signifikan terhadap ritme dan karakter permainan Tottenham di lapangan.

Sejumlah laporan menyebutkan, sejak ditinggal Son, Tottenham kesulitan menemukan sosok pemimpin di dalam tim yang mampu menjaga stabilitas permainan pada momen krusial.

Kondisi semakin sulit setelah manajemen klub melakukan pergantian pelatih hingga tiga kali dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Namun, upaya tersebut belum mampu mengangkat performa tim secara konsisten.

Meski sempat meraih gelar UEFA Europa League pada 2025 yang memicu euforia besar suporter, performa Tottenham di kompetisi domestik justru mengalami penurunan drastis.

Kombinasi masalah taktik, inkonsistensi pemain, serta tekanan kompetisi membuat Tottenham kini berada dalam situasi genting untuk keluar dari zona bawah klasemen.

Para pendukung menilai kondisi ini sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah klub modern, mengingat ekspektasi tinggi yang sempat terbentuk dari kekuatan skuad dan prestasi sebelumnya.

Kini, Tottenham dihadapkan pada tantangan besar untuk segera bangkit demi menghindari risiko degradasi yang akan menjadi pukulan serius bagi reputasi klub di kancah sepak bola Inggris.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |