UMKM Sleman Serap 366 Ribu Pekerja, Depok Jadi Penyumbang Terbesar

3 hours ago 2

Harianjogja.com, SLEMAN—Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sleman terus menunjukkan perannya sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Hingga 19 Mei 2026, sektor ini tercatat menyerap 366.378 tenaga kerja yang tersebar di berbagai kapanewon.

Data Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop-UKM) Sleman menunjukkan jumlah tersebut terdiri atas 190.398 tenaga kerja laki-laki dan 175.980 tenaga kerja perempuan. Artinya, tenaga kerja laki-laki menyumbang sekitar 52% dari total pekerja UMKM, sedangkan perempuan mencapai sekitar 48%.

Kepala Dinkop-UKM Sleman, Sutiasih, mengatakan selisih tenaga kerja laki-laki dan perempuan mencapai 14.418 orang. Meski demikian, keterlibatan perempuan dalam sektor UMKM masih tergolong tinggi dan menunjukkan peran penting mereka dalam aktivitas ekonomi daerah.

Sebaran tenaga kerja UMKM di Sleman tidak merata. Kapanewon Depok menjadi wilayah dengan jumlah pekerja terbanyak, yakni mencapai 112.669 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 65.036 tenaga kerja laki-laki dan 47.633 tenaga kerja perempuan.

Di posisi berikutnya terdapat Kapanewon Mlati dengan 31.739 tenaga kerja dan Kalasan yang menyerap 28.964 pekerja.

Sebaliknya, wilayah dengan jumlah tenaga kerja UMKM paling sedikit berada di Kapanewon Cangkringan yang hanya mencatatkan 2.631 pekerja. Setelah itu terdapat Turi dengan 2.824 pekerja dan Pakem sebanyak 4.082 pekerja.

Tingginya serapan tenaga kerja di sejumlah wilayah ternyata sejalan dengan banyaknya unit usaha yang beroperasi. Salah satu sektor yang mendominasi adalah perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor yang menjadi sektor usaha terbesar kedua di Kabupaten Sleman dengan total 29.176 unit usaha.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.292 unit usaha berada di Kapanewon Depok dan 2.126 unit berada di Mlati.

Jika dilihat dari seluruh sektor usaha yang ada, Depok juga menjadi wilayah dengan jumlah unit usaha terbanyak. Dari 17 sektor usaha yang tercatat di Sleman, Depok memiliki 10.769 unit usaha dan menempati posisi pertama.

Besarnya aktivitas ekonomi di Depok tidak lepas dari tingginya jumlah penduduk dan keberadaan pusat pendidikan. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk sekitar 127.918 jiwa serta menjadi lokasi sekitar 30 akademi dan perguruan tinggi.

Keberadaan ribuan mahasiswa, pekerja, dan pendatang dari berbagai daerah menciptakan permintaan yang tinggi terhadap beragam produk dan jasa. Kondisi tersebut memunculkan efek domino yang mendorong tumbuhnya berbagai sektor usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Sleman, H. Surana, menegaskan pemerintah daerah perlu terus memperkuat dukungan terhadap pelaku UMKM karena sektor ini terbukti menjadi salah satu pilar utama perekonomian daerah.

“Tentu pemerintah daerah tetap support pada UMKM, karena UMKM itu pilar utama pertumbuhan ekonomi. UMKM adalah yang paling siap bertahan menghadapi gejolak perekonomian,” kata Surana, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, ketahanan UMKM dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi menjadi alasan penting mengapa sektor tersebut harus terus mendapatkan perhatian melalui program pendampingan, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Mikro Dinkop-UKM Sleman, Sri Wara Nusandari, menjelaskan terdapat perbedaan karakteristik yang cukup signifikan antara UMKM di kawasan perkotaan dan perdesaan.

Menurut dia, aktivitas ekonomi di wilayah perkotaan berkembang lebih cepat karena memiliki tingkat diversifikasi usaha yang lebih tinggi dibandingkan kawasan perdesaan yang masih banyak bertumpu pada sektor pertanian dan pemanfaatan sumber daya lokal.

Selain itu, pasar di wilayah perkotaan juga lebih terbuka dengan jumlah konsumen yang lebih besar. Keberadaan mahasiswa, penghuni kos, pekerja, wisatawan, hingga pendatang dari berbagai daerah menciptakan peluang usaha yang lebih luas bagi pelaku UMKM.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa wilayah seperti Depok dan Mlati mampu mencatat jumlah unit usaha serta serapan tenaga kerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan kapanewon lain di Kabupaten Sleman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |