Transaksi Berjalan RI Defisit US$12,5 Miliar, Terburuk dalam Data BI

5 hours ago 6

Newswire

Newswire Jum'at, 21 Agustus 2026 18:37 WIB

Transaksi Berjalan RI Defisit US$12,5 Miliar, Terburuk dalam Data BI

Kantor Bank Indonesia Jakarta. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai US$12,5 miliar (setara Rp221,02 triliun dengan kurs Rp17.682 per US$) atau 3,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II/2026. Angka tersebut melonjak dibandingkan defisit pada kuartal sebelumnya yang sebesar US$3,6 miliar atau 1% dari PDB.

Defisit transaksi berjalan sebesar US$12,5 miliar itu juga menjadi yang terburuk dalam catatan historis yang dipublikasikan BI. Data perkembangan transaksi berjalan tercantum dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diterbitkan setiap kuartal.

Laporan tersebut pertama kali memuat data transaksi berjalan pada kuartal I/2004 atau sekitar 22 tahun lalu. Sejak periode tersebut, defisit transaksi berjalan Indonesia belum pernah menembus US$12,5 miliar, dengan angka terdekat sebelumnya sebesar US$10,1 miliar pada kuartal II/2013.

Defisit Dipengaruhi Perdagangan Migas dan Nonmigas

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan pelebaran defisit transaksi berjalan dipengaruhi sejumlah faktor yang diperkirakan bersifat temporer.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas," ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Ia menjelaskan defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak yang terjadi seiring tingginya harga minyak dunia. Di sisi lain, surplus neraca perdagangan nonmigas menurun karena impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri masih tinggi.

Defisit juga terjadi pada neraca pendapatan primer. Kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya pembayaran pendapatan primer, sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada kuartal I/2026.

Transaksi Modal dan Finansial Justru Surplus

Berbeda dengan transaksi berjalan, neraca transaksi modal dan finansial pada kuartal II/2026 mencatat surplus US$12 miliar. Capaian tersebut berbalik dari periode sebelumnya yang mencatat defisit sebesar US$4,8 miliar.

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio.

Perbaikan pada transaksi modal dan finansial turut memengaruhi posisi keseluruhan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II/2026.

Defisit Neraca Pembayaran Menyempit

BI mencatat neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit US$0,9 miliar pada kuartal II/2026. Defisit tersebut membaik dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai US$9,1 miliar.

Pada periode yang sama, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$145,6 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Bank sentral menyebut posisi cadangan devisa tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

BI meyakini perkembangan neraca pembayaran masih dapat mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Salah satu pertimbangannya adalah defisit transaksi berjalan yang diprakirakan lebih rendah, didukung perbaikan prospek ekspor seiring kenaikan harga komoditas global.

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap mencatat surplus. Kondisi tersebut ditopang imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik serta prospek ekonomi Indonesia yang diharapkan tetap mampu menarik aliran modal asing masuk ke Tanah Air.

"Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI [neraca pembayaran Indonesia] 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," ujar Denny.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |