
Ilustrasi uang rupiah - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026) sore, didorong kombinasi sentimen global yang mulai mereda serta data ekonomi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi.
Rupiah ditutup menguat 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp17.963 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.995 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan rupiah dipengaruhi perkembangan positif dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang memberi harapan meredanya ketegangan geopolitik.
“Investor mencermati pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran hampir menyetujui sejumlah poin penting dalam negosiasi. Ini memberi sinyal bahwa diskusi bergerak ke arah yang konstruktif,” ujarnya.
Meski demikian, pasar tetap berhati-hati setelah muncul laporan bahwa Iran menolak proposal terkait pelepasan klaim atas Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan.
Situasi tersebut membuat risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda, meski kekhawatiran gangguan pasokan minyak global mulai berkurang.
“Pasar masih menunggu arah yang lebih jelas dari negosiasi AS-Iran, termasuk dampaknya terhadap distribusi minyak dan permintaan global,” kata Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, sentimen lain datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang cenderung melemah. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penambahan tenaga kerja (nonfarm payrolls) hanya 57.000 pada Juni 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 110.000.
Data bulan sebelumnya juga direvisi turun menjadi 129.000 dari sebelumnya 172.000, menandakan perlambatan di pasar tenaga kerja AS.
Sementara itu, tingkat pengangguran sedikit membaik menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen. Adapun pendapatan rata-rata per jam naik 0,3 persen secara bulanan dan 3,5 persen secara tahunan, sesuai dengan perkiraan.
Data tenaga kerja yang lebih lemah ini mendorong spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), tidak akan agresif menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada September 2026 turun menjadi sekitar 51 persen dari sebelumnya 63 persen.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat terhadap dolar AS.
Di sisi lain, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat di level Rp17.960 per dolar AS, juga menguat dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.994 per dolar AS.
Dengan kombinasi sentimen global yang mulai kondusif dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar, rupiah diperkirakan masih memiliki peluang untuk bergerak stabil dalam jangka pendek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































