
Ilustrasi masyarakat Prancis antisipasi gelombang panas. /ANTARA/Anadolu/py
Harianjogja.com, ISTANBUL — Pemerintah Prancis mempercepat langkah antisipasi menghadapi gelombang panas susulan dengan mendistribusikan ribuan unit pendingin ruangan (air conditioner/AC) ke berbagai rumah sakit, khususnya di wilayah Paris.
Sekitar 1.000 unit AC ditargetkan terpasang hingga akhir pekan ini di sejumlah fasilitas kesehatan ibu kota. Langkah ini menjadi bagian dari program nasional yang lebih besar, yakni pengadaan 30.000 unit AC untuk rumah sakit di seluruh Prancis.
Kebijakan tersebut diambil setelah gelombang panas ekstrem pada akhir Juni 2026 memicu tekanan besar pada sistem layanan kesehatan. Suhu tinggi bahkan tercatat mencapai 32 derajat Celsius di dalam beberapa ruang perawatan rumah sakit, kondisi yang dinilai berbahaya bagi pasien.
Kepala Departemen Hematologi Rumah Sakit Saint-Louis, Emmanuel Raffoux, menilai keberadaan AC menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk menghadapi potensi gelombang panas kedua.
“Sangat penting untuk mengantisipasi kondisi berikutnya. Tubuh pasien belum sepenuhnya pulih dari tekanan panas sebelumnya, sementara mereka berisiko menghadapi gelombang panas baru dalam waktu dekat,” ujarnya dikutip Jumat (3/7/2026)
Sambil menunggu distribusi dari pemerintah, sejumlah rumah sakit di Paris telah bergerak cepat dengan membeli unit AC tambahan secara mandiri. Jaringan Rumah Sakit Umum Paris (AP-HP) bahkan telah memasang sekitar 800 unit AC sejak akhir musim panas 2025 hingga pertengahan 2026, serta menambah 1.000 unit hanya dalam waktu kurang dari sepekan terakhir.
AP-HP berharap biaya pengadaan tersebut dapat diganti melalui program nasional pemerintah.
Meski suhu mulai menunjukkan tren penurunan setelah badai petir melanda, dampak kesehatan akibat gelombang panas masih terus dirasakan. Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengingatkan bahwa angka kematian akibat suhu ekstrem masih lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Rumah sakit dan layanan darurat pun masih dibanjiri pasien dengan berbagai keluhan terkait cuaca panas, mulai dari dehidrasi hingga komplikasi penyakit kronis.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengungkapkan bahwa petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122.000 operasi selama periode gelombang panas, mencerminkan lonjakan signifikan insiden darurat.
“Meski suhu mulai turun, aktivitas layanan darurat masih sangat tinggi. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat beraktivitas fisik di luar ruangan,” katanya.
Di sisi lain, badai petir yang membantu menurunkan suhu juga membawa dampak lanjutan. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan mengalami luka ringan, sementara sekitar 63.000 rumah tangga sempat mengalami pemadaman listrik.
Hingga kini, sebagian wilayah Prancis masih berada dalam status siaga. Dua departemen di timur laut bahkan masih berstatus peringatan merah gelombang panas, sementara puluhan wilayah lain berada dalam peringatan oranye akibat kombinasi suhu tinggi dan cuaca ekstrem.
Situasi ini menegaskan bahwa gelombang panas tidak hanya menjadi ancaman sesaat, tetapi krisis kesehatan yang membutuhkan respons cepat dan kesiapan infrastruktur jangka panjang di seluruh Eropa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































