Project Freedom Dimulai, Trump Tekan Iran dari Militer hingga Ekonomi

9 hours ago 4

Project Freedom Dimulai, Trump Tekan Iran dari Militer hingga Ekonomi Kapal induk USS George HW Bush telah tiba di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS. Bush bergabung dengan Ford dan Lincoln saat Washington mempertahankan kehadiran angkatan laut yang besar di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata dengan Iran. /ANTARA/Anadolu Ajensi - pri.

Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) meluncurkan operasi militer bertajuk Project Freedom di Selat Hormuz. Operasi ini ditujukan untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintas di jalur vital distribusi energi dunia tersebut.

Sebelum operasi dimulai, Washington diketahui mengirimkan pesan tertutup kepada Iran agar tidak mengganggu jalannya misi tersebut. Laporan Axios menyebutkan bahwa Gedung Putih berupaya menahan eskalasi konflik, meski situasi di lapangan justru menunjukkan ketegangan yang terus meningkat.

Namun demikian, laporan itu juga mengindikasikan adanya dugaan serangan dari Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS yang tengah beroperasi di kawasan tersebut.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa komunikasi dengan Teheran dilakukan secara terbuka maupun tertutup untuk memastikan operasi berjalan tanpa hambatan.

Ia juga mengingatkan bahwa Presiden Donald Trump tetap membuka opsi militer jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Operasi Project Freedom sendiri diumumkan Trump pada 3 Mei dan mulai berjalan pada Senin pagi. Dukungan militer dalam operasi ini terbilang besar, melibatkan armada kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, sistem nirawak multi-domain, hingga sekitar 15.000 personel militer di bawah komando CENTCOM.

Langkah ini merupakan bagian dari respons atas eskalasi konflik sejak 28 Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil.

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata pada 7 April. Namun, perundingan lanjutan antara kedua negara di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.

Trump bahkan memperpanjang masa penghentian serangan untuk memberi ruang bagi Iran menyusun apa yang disebut sebagai “proposal terpadu.”

Dalam perkembangan terbaru, Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait Iran, khususnya soal tekanan ekonomi.

“Saya kira begitu, karena kami membuatnya gagal… Saya harap gagal. Anda tahu kenapa? Karena saya ingin menang.”

Pernyataan tersebut merespons pertanyaan mengenai kemungkinan runtuhnya sistem keuangan Iran akibat tekanan dari AS. Sebelumnya, Washington telah meluncurkan operasi ekonomi bertajuk Economic Fury pada 16 April melalui Departemen Keuangan.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa strategi tekanan maksimal akan terus diterapkan guna melemahkan Iran secara ekonomi.

Situasi yang terus memanas ini berdampak langsung pada stabilitas global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari Teluk Persia, sempat mengalami gangguan signifikan.

Akibatnya, harga energi dunia melonjak tajam dan menambah tekanan terhadap perekonomian global yang tengah berusaha pulih.

Dengan eskalasi militer dan tekanan ekonomi yang berjalan bersamaan, masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah kini semakin tidak menentu, sekaligus menjadi perhatian serius bagi pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |