Jumali Kamis, 09 Juli 2026 21:37 WIB

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA
Harianjogja.com, JOGJA— Seorang YouTuber virtual atau VTuber bernama Essie, dengan nama pengguna essie_ch, tengah menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah setiap tim Piala Dunia 2026 yang didukungnya selalu berakhir dengan kekalahan di babak gugur.
Fenomena "kutukan" ini kini membuat para penggemar dan pendukung tim nasional yang masih bertahan di Piala Dunia 2026 ketakutan, bahkan secara terang-terangan memintanya untuk berhenti mendukung tim kesayangan mereka.
Bagi masyarakat awam yang mungkin akrab dengan dunia media sosial, kisah Essie ini menjadi hiburan tersendiri di tengah hiruk-pikuk pertandingan, sekaligus pengingat betapa kuatnya kepercayaan penggemar pada hal-hal mistis di dunia olahraga.
Rentetan kekalahan ini dimulai dengan Brasil yang kalah 2-1 dari Norwegia, sebelum Meksiko tumbang 3-2 dari Inggris. Portugal kemudian kalah 1-0 dari Spanyol, sementara Amerika Serikat tersingkir oleh Belgia dengan kekalahan telak 4-1. Kutukan itu kemudian tampaknya akan menimpa Argentina pada 7 Juli, ketika Essie mendukung tim yang dimotori Lionel Messi itu dalam pertandingan melawan Mesir.
Pada pertandingan tersebut, Mesir sempat unggul 2-0 melalui gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Zico, membuat Argentina berada di ambang kekalahan besar di babak 16 besar. Essie, yang berusaha membalikkan tren "kutukannya" tersebut, kemudian berganti mendukung Mesir saat The Pharaohs (julukan Mesir) unggul.
"SAYA TIDAK INGIN MENGUTUK MESIR TETAPI SAYA INGIN MEREKA MENANG," tulis Essie dalam unggahannya di platform X, sebagaimana dilansir Dexerto. Dia kemudian menambahkan: "hati saya yang murni akan membalikkan kutukan ini."
Namun, seakan membuktikan kutukan itu nyata, Argentina kemudian memperkecil kedudukan melalui Cristian Romero pada menit ke-79, lalu Messi menyamakan kedudukan pada menit ke-83, bahkan berbalik menang setelah Enzo Fernandez mencetak gol penentu kemenangan di waktu tambahan untuk menyelesaikan comeback dramatis 3-2.
Hal ini justru membuat lelucon tersebut semakin menyebar luas. Para penggemar menyalahkan dukungan Essie atas kekalahan Mesir, sementara yang lain bercanda bahwa Messi akhirnya berhasil mengalahkan kutukan itu sendiri.
Dalam unggahan selanjutnya, Essie menulis bahwa dia "dilarang mendukung tim mana pun hari ini," sebelum langsung menambahkan bahwa dia kini mendukung Kolombia. Tragisnya, Kolombia kemudian menjadi "korban" berikutnya dari kutukan Essie setelah tumbang oleh Swiss lewat drama adu penalti. Ini membuat banyak warganet menyebut Essie sebagai "penyihir" yang menebar kutukan pada tim-tim mereka.
Kekalahan Kolombia membuat para pendukung Prancis, tim berikutnya yang didukung Essie, menjadi ketar-ketir. Mereka meyakini tim kesayangannya kini hampir dipastikan akan tersingkir dari Piala Dunia akibat "kutukan" tersebut.
Prancis akan menghadapi Maroko dalam pertandingan pada Jumat (10/7/2026) dini hari. Perlu dilihat apakah Kylian Mbappe dan kawan-kawan akan dapat mematahkan kutukan Essie, sebelum korban berikutnya, yang tampaknya akan menjadi Norwegia, ikut jatuh.
Fenomena ini menjadi salah satu cerita unik yang menyemarakkan Piala Dunia 2026. Para penggemar di media sosial seperti X dan TikTok ramai mengomentari setiap langkah Essie, dengan beberapa di antaranya secara bercanda mengancam akan memblokir akunnya jika ia berani mendukung tim favorit mereka.
Bagaimanapun, rekor kutukan Essie ini dianggap jauh lebih buruk daripada dukun Ghana yang sempat meramalkan Tanjung Verde akan mengalahkan Argentina pada awal babak gugur. Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah ini mungkin terasa akrab karena banyak di antara kita yang juga percaya pada "kutukan" atau "jinx" ketika mendukung tim tertentu. Essie sendiri terlihat menikmati perhatian yang ia terima, bahkan terus mengunggah dukungannya untuk tim-tim besar, seolah penasaran apakah "kutukan" itu benar-benar akan terus berlanjut hingga akhir turnamen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































