Justin Kluivert Di-bully Warganet Indonesia, KNVB Bertindak

9 hours ago 5

Jumali

Jumali Sabtu, 04 Juli 2026 15:17 WIB

Justin Kluivert Di-bully Warganet Indonesia, KNVB Bertindak

Justin Kluivert/ Instagram: justinkluivert

Harianjogja.com, JOGJA— Kegagalan Timnas Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Justin Kluivert, putra dari mantan pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert, menjadi sasaran perundungan massal di media sosial. Ia adalah salah satu dari tiga pemain yang gagal menjalankan tugas adu penalti saat Belanda disingkirkan Maroko.

Pada Selasa (30/6/2026) pagi WIB, pertandingan sengit antara Belanda dan Maroko berakhir imbang 1-1 setelah 120 menit. Di babak adu penalti, Maroko unggul 3-2. Tiga penendang Belanda yang gagal, Justin Kluivert, Crysencio Summerville, dan Quinten Timber, menjadi sasaran hujatan netizen. Namun, perhatian terbesar tertuju pada Kluivert karena sang ayah, Patrick Kluivert.

Patrick Kluivert adalah mantan pelatih Timnas Indonesia yang menjabat sepanjang tahun 2025. Ia dipecat pada Oktober 2025 setelah skuad Garuda dipastikan tersingkir di putaran keempat babak kualifikasi zona Asia. Kegagalan itu masih membekas di benak publik Indonesia. Kini, ketika putranya gagal di momen krusial Piala Dunia, kemarahan itu kembali muncul, menyasar Justin Kluivert.

Perundungan dari Netizen Indonesia dan KNVB Turun Tangan

Media Belanda, NOS, melaporkan bahwa hujatan yang diterima Kluivert secara spesifik berasal dari netizen Indonesia. Banyak komentar yang mengaitkan kegagalan Justin dengan kegagalan ayahnya menangani Timnas Indonesia.

"Dalam kasus Kluivert, yang juga mencolok adalah banyak komentar kebencian tampaknya berasal dari akun-akun Indonesia. Dalam komentar-komentar tersebut, seringkali dikaitkan dengan ayahnya, Patrick Kluivert, yang sebelumnya gagal lolos ke Piala Dunia sebagai pelatih tim nasional Indonesia," demikian laporan NOS, dikutip Sabtu (4/7/2026).

Kluivert dan Summerville bahkan mematikan kolom komentar di Instagram mereka untuk menghentikan serangan. Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) pun turun tangan dengan mengajukan laporan polisi terkait pernyataan diskriminatif dan kebencian di media sosial. "KNVB mengajukan laporan polisi terkait pernyataan diskriminatif di media sosial terhadap para pemain tim nasional Belanda," tulis NOS.

Di Belanda, kasus perundungan siber dianggap serius dan dapat dilacak secara online. Pada 2014, mantan pemain tim nasional Leroy Fer menjadi korban perundungan rasis. Empat orang divonis sebagai tersangka dan didenda 360 euro atau sekitar Rp7,4 juta. Langkah hukum ini menunjukkan bahwa perundungan, terutama yang bernuansa rasis atau diskriminatif, memiliki konsekuensi nyata di negara tersebut.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukanlah ruang tanpa hukum. Perundungan dan komentar kebencian, terutama yang mengarah pada diskriminasi, dapat berujung pada proses hukum. Bagi para penggemar sepak bola di Indonesia, peristiwa ini juga menjadi cermin untuk lebih bijak dalam menyikapi kekalahan dan menghormati atlet dari negara mana pun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |