
Petugas gabungan dari BNPB, BPBD, Manggala Agni dan TNI/Polri melakukan pemadaman di area TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada hari ke lima operasi kedaruratan kebakaran. ANTARA/Azmi Samsul M
Harianjogja.com, TANGERANG—Upaya pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, terus diintensifkan. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) berencana melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada Minggu (5/7/2026) untuk mempercepat penanganan api.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengatakan langkah ini diambil setelah adanya informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
“Awalnya belum ada potensi awan. Namun berdasarkan konfirmasi BMKG, pada Minggu kemungkinan akan turun hujan ringan. Ini menjadi peluang untuk dilakukan operasi TMC,” ujarnya, Sabtu.
Ia menjelaskan, rekayasa cuaca akan dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG untuk memaksimalkan peluang hujan di lokasi kebakaran. Dengan demikian, proses pemadaman diharapkan bisa lebih cepat dan efektif.
Menurut Diaz, karakteristik kebakaran di TPA Jatiwaringin cukup kompleks dan menyerupai kebakaran lahan gambut. Meski bagian permukaan terlihat padam, titik api di lapisan bawah masih aktif dan berpotensi kembali menyala sewaktu-waktu.
“Di bagian bawah masih ada api. Ini berbahaya karena bisa terus terbakar dan bahkan berpotensi menimbulkan ledakan akibat gas metana (CH4),” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim gabungan menerapkan metode inject, yakni menyuntikkan air langsung ke titik api di bawah permukaan. Teknik ini dinilai lebih efektif dibandingkan penyiraman dari atas semata.
Proses inject dilakukan oleh personel gabungan, termasuk petugas pemadam kebakaran dan Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan yang telah menerjunkan sekitar 30 personel di lokasi.
Selain itu, pemadaman juga diperkuat dengan operasi water bombing menggunakan dua helikopter jenis MI-8AMT. Masing-masing helikopter dilengkapi kantong air berkapasitas 4.000 liter untuk menyiram area yang sulit dijangkau dari darat.
Diaz menegaskan, kombinasi metode darat dan udara menjadi kunci dalam penanganan kebakaran TPA. Penyiraman dari udara saja dinilai kurang efektif jika tidak diimbangi dengan penanganan hingga ke lapisan bawah.
“TPA ini tidak cukup hanya disiram dari atas, karena bagian bawahnya masih terbakar. Oleh karena itu, peran Manggala Agni sangat penting untuk melakukan penanganan hingga ke titik terdalam,” katanya.
Pemerintah berharap, dengan dukungan operasi TMC, metode inject, serta water bombing, kebakaran di TPA Jatiwaringin dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke area sekitar.
Upaya terpadu lintas lembaga ini juga menjadi bagian dari mitigasi risiko lingkungan, mengingat kebakaran TPA berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, pencemaran udara, hingga risiko ledakan gas berbahaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































