Jumali Selasa, 07 Juli 2026 21:47 WIB

ban tubeles motor/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Ban tubeless motor saat ini menjadi pilihan utama bagi sebagian besar pengendara di Indonesia. Bayangkan, Anda sedang melaju di jalan raya, tiba-tiba ban motor Anda tertusuk paku. Namun, Anda masih bisa melanjutkan perjalanan dengan aman tanpa harus turun di tengah jalan yang padat.
Itulah keunggulan utama ban tubeless, sebab dirancang tanpa ban dalam, dengan lapisan kedap udara yang membuatnya lebih tahan terhadap kebocoran kecil. Bagi Anda yang sering berkendara di perkotaan dengan risiko jalan berlubang dan puing-puing, ban tubeless adalah sahabat setia yang memberikan rasa aman ekstra. Namun, bagaimana jika ban tubeless justru sering bocor? Bisa jadi, ada beberapa faktor yang Anda abaikan.
Pertama, benda tajam adalah musuh utama. Paku, sekrup, pecahan kaca, atau kawat di jalan dapat menembus permukaan ban dan menyebabkan kebocoran. Semakin besar benda yang menusuk, semakin cepat pula udara keluar.
Inilah sebabnya mengapa Anda tidak boleh mengabaikan bunyi "tss..." yang samar saat berkendara; itu bisa jadi pertanda ban Anda sedang terluka.
Kedua, tekanan angin yang tidak sesuai. Tekanan angin yang terlalu rendah membuat ban lebih mudah terjepit dan rusak saat melewati lubang. Sebaliknya, tekanan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko ban retak atau bocor ketika menerima benturan keras. Bayangkan balon yang terlalu ditiup; ia akan mudah meletus saat terkena tekanan. Hal yang sama berlaku pada ban motor Anda. Jadi, cek tekanan angin secara rutin, jangan hanya saat terasa kempes!
Ketiga, usia ban sudah tua. Karet ban akan mengeras dan kehilangan elastisitas seiring waktu. Ban yang sudah tua, seperti kulit manusia yang keriput, lebih rentan mengalami retak-retak halus yang dapat menyebabkan kebocoran udara. Jangan tertipu oleh tapak yang masih terlihat tebal; jika ban sudah berusia lebih dari lima tahun, sebaiknya segera ganti.
Keempat, pentil ban yang sering luput dari perhatian. Komponen kecil ini adalah jalur keluar masuknya udara, namun sering kali luput dari pemeriksaan. Pentil yang longgar, retak, atau karetnya sudah aus dapat menjadi sumber kebocoran yang tersembunyi. Bagi Anda yang suka mengisi angin di pom bensin, perhatikan apakah pentil terasa kendor atau bergetar saat diputar.
Kelima, bibir ban tidak rapat dengan velg. Kotoran, karat, atau velg yang penyok dapat membuat bibir ban tidak menempel sempurna pada velg. Akibatnya, udara perlahan keluar melalui celah yang sangat kecil, seperti air yang menetes dari keran yang tidak tertutup rapat. Membersihkan velg saat mengganti ban bisa menjadi solusi sederhana untuk masalah ini.
Keenam, ban sudah aus. Tapak ban yang tipis membuat ban lebih mudah tertusuk benda tajam. Selain meningkatkan risiko bocor, ban aus juga mengurangi daya cengkeram pada jalan basah, yang jelas membahayakan keselamatan Anda. Jangan tunggu hingga tapak ban gundul; ganti ban saat indikator keausan sudah terlihat.
Ketujuh, velg mengalami kerusakan. Velg yang bengkok atau retak akibat benturan keras dapat mengganggu kerapatan antara ban dan velg. Ini seperti kendi yang retak; meskipun terlihat masih utuh, air akan terus merembes keluar. Periksa kondisi velg secara berkala, terutama setelah melewati jalan berlubang dalam.
Kedelapan, tambalan ban kurang sempurna. Ban tubeless yang pernah bocor tetapi ditambal dengan teknik atau bahan yang kurang tepat berisiko mengalami kebocoran kembali. Tambalan yang mulai terlepas atau rusak akan menjadi titik lemah baru. Jika Anda sering melakukan tambalan di pinggir jalan dengan metode "dempel", pertimbangkan untuk membawa ke bengkel resmi untuk tambalan yang lebih profesional.
Dengan memahami delapan penyebab bocornya ban tubeless, Anda dapat melakukan perawatan yang lebih tepat. Rutin memeriksa tekanan angin, membersihkan velg, mengganti ban yang sudah tua, dan memperhatikan kondisi pentil adalah investasi kecil untuk keselamatan berkendara. Ingat, ban yang sehat adalah kunci perjalanan yang aman dan nyaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































