Air Mata dan Hujatan! Media Portugal Minta Ronaldo Segera Pensiun

5 hours ago 3

Jumali

Jumali Selasa, 07 Juli 2026 21:27 WIB

Air Mata dan Hujatan! Media Portugal Minta Ronaldo Segera Pensiun

Cristiano Ronaldo/Reuters

Harianjogja.com, JOGJA— Bukan kemenangan yang didapat Cristiano Ronaldo usai Portugal tersingkir dari Piala Dunia 2026, melainkan hujan kritik pedas dari media negaranya sendiri. A Bola, Record, dan O Jogo kompak menuntut sang megabintang untuk segera pensiun dari tim nasional.

Kritik paling tajam datang dari A Bola melalui kolom Francisco Vaz de Miranda yang secara blak-blakan menuliskan kalimat menghujam: "Cristiano Ronaldo: kami tidak ingin 'membunuhmu' tetapi sudah cukup." Istilah "membunuh" di sini bukanlah ancaman fisik, melainkan sebuah metafora untuk mengakhiri karier internasionalnya yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Media tersebut dengan tegas menyatakan bahwa dengan usia yang kini menginjak 41 tahun, Ronaldo sudah tidak lagi berada dalam performa terbaiknya. Ia dianggap sudah terlalu lama berada dalam tubuh Selecao das Quinas, dan egonya justru menjadi penghalang bagi regenerasi tim.

"Sudah saatnya Cristiano Ronaldo minggir karena, seperti yang sudah kita sadari, egonya tidak mengizinkannya digantikan oleh pemain yang, saat ini, memberikan performa yang tak tertandingi," tulis A Bola.

Kalimat ini menjadi tamparan keras bagi pemain yang selama ini dikenal sebagai simbol kerja keras dan dedikasi tak terbatas. Bagi para penggemar, ini adalah perpecahan hati: antara cinta pada legenda dan kesadaran bahwa waktu tak bisa diputar kembali.

Ronaldo sendiri telah mengonfirmasi bahwa Piala Dunia 2026 adalah edisi terakhirnya di turnamen empat tahunan itu, namun media-media Portugal menganggap itu belum cukup—mereka ingin pengunduran diri segera, bukan menunggu turnamen berikutnya.

Statistik menjadi saksi betapa beratnya beban yang dipikul Ronaldo di turnamen ini. Dari lima pertandingan yang dilalui Portugal di Piala Dunia 2026, Ronaldo menjadi starter di kelima laga tersebut. Bahkan, ia hanya digantikan sekali saja, yaitu saat melawan Kroasia di babak 32 besar.

Ini berarti pelatih Roberto Martinez nyaris tak pernah menarik sang megabintang meskipun penampilannya di lapangan kerap dianggap di bawah standar. Keputusan ini menuai kritik tajam karena Martinez seolah "mendewakan" Ronaldo sehingga enggan memberikan kesempatan kepada pemain lain seperti Goncalo Ramos yang sebelumnya tampil gemilang sebagai supersub di Piala Dunia 2022.

Pelatih Roberto Martinez pun tak luput dari serangan. Mantan pelatih Belgia itu dianggap terlalu memaksakan keberadaan Ronaldo di starting eleven meskipun bukti di lapangan menunjukkan penurunan performa yang signifikan. Penyiar pertandingan kondang asal Inggris, Chris Sutton, bahkan memberikan komentar yang sangat pedas terkait keputusan Martinez.

"Dia berjalan terhuyung-huyung di lapangan seperti kakek-kakek, itulah sebabnya Portugal tersingkir. Cristiano Ronaldo tidak melakukan apa-apa; dia tidak melakukan apa pun," ujar Sutton dengan nada kecewa.

Pernyataan ini menggambarkan betapa buruknya performa Ronaldo di mata pengamat internasional—seorang legenda yang kini berjalan di lapangan seperti "bayangan" dari dirinya sendiri di masa jaya.

Kekalahan dari Spanyol menjadi puncak dari serangkaian penampilan yang mengecewakan. Gol tunggal Mikel Merino di masa injury time menjadi paku terakhir peti mati perjuangan Portugal di Piala Dunia 2026. Bagi penggemar sepak bola di tanah air, ini adalah pelajaran penting bahwa bahkan legenda sebesar Ronaldo pun harus tahu kapan saatnya berhenti untuk memberi ruang bagi generasi baru.

Media-media Portugal seakan berteriak lantang agar sang kapten sadar diri, sebab sepak bola adalah tentang tim, bukan tentang individu. Kini, tersisa pertanyaan besar di benak para penggemar: akankah Ronaldo mendengarkan kritik pedas ini, atau ia akan bertahan dan berusaha membuktikan bahwa ia masih layak mengenakan seragam kebanggaan negaranya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |