Jumali Selasa, 07 Juli 2026 23:17 WIB

Lionel Messi/Instagram: Reuterssports
Harianjogja.com, JOGJA—Performa Lionel Messi di Piala Dunia 2026 kembali menjadi sorotan. Pada usia 39 tahun, pemain Argentina tersebut masih mampu bersaing di papan atas daftar pencetak gol terbanyak dengan koleksi tujuh gol, sejajar dengan Kylian Mbappe.
Di tengah persaingan dengan pemain yang lebih muda dan memiliki keunggulan fisik, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa salah satu kekuatan terbesar Messi bukan terletak pada kecepatan atau kekuatan tubuh, melainkan kemampuannya membaca situasi permainan sebelum bola berada di kakinya.
Profesor Ilmu Gerak Manusia dari Australian Catholic University, Gert-Jan Pepping, menjelaskan bahwa banyak orang menganggap pemain elite harus memiliki kecepatan tinggi, postur ideal, atau kekuatan fisik yang dominan.
Menurutnya, Messi menjadi contoh bagaimana kecerdasan dalam memahami permainan dapat memberikan keuntungan yang sama besarnya, bahkan lebih penting dibandingkan keunggulan fisik.
Pandangan tersebut sejalan dengan filosofi yang pernah disampaikan legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff.
"Apa itu kecepatan? Banyak orang mengira kecepatan hanya soal berlari. Padahal jika saya mulai berlari sedikit lebih dulu daripada orang lain, saya akan terlihat lebih cepat," katanya dikutip dari The Independent, Selasa (7/7/2026).
Penelitian yang dibahas dalam The Conversation menyoroti kebiasaan Messi yang hampir tidak pernah berhenti mengamati keadaan di sekelilingnya sebelum menerima umpan.
Saat pertandingan berlangsung, Messi kerap menggerakkan kepala ke berbagai arah untuk memantau posisi lawan, rekan setim, serta ruang kosong yang tersedia di lapangan.
Dalam ilmu olahraga, kebiasaan tersebut dikenal sebagai visual exploration atau scanning, yaitu proses mengumpulkan informasi sebelum pemain menerima bola.
Melalui kebiasaan itu, seorang pemain dapat mengetahui pilihan yang tersedia lebih awal sehingga tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk berpikir ketika bola datang.
Peneliti bahkan memasang sensor gerak pada bagian belakang kepala sejumlah pemain sepak bola, mulai dari level akademi hingga profesional, guna mengukur frekuensi scanning yang dilakukan selama pertandingan.
Hasil penelitian menunjukkan pemain yang lebih sering melakukan scanning cenderung membuat keputusan lebih cepat, lebih berani membawa bola ke area menyerang, dan lebih sering menciptakan peluang bagi timnya.
Penelitian tersebut membagi scanning ke dalam dua tahapan utama.
Tahap pertama disebut orientation, yaitu proses mengamati situasi permainan secara menyeluruh untuk mengenali ancaman maupun peluang yang tersedia di lapangan.
Tahap kedua adalah specification, yakni pengamatan yang lebih spesifik sesaat sebelum pemain melakukan operan, menggiring bola, atau mengambil keputusan lain.
Menurut para peneliti, tahap orientation justru sering diabaikan karena berlangsung ketika pemain belum menguasai bola. Padahal fase tersebut menjadi fondasi penting dalam pengambilan keputusan berikutnya.
Kemampuan membaca permainan lebih awal membuat Messi mampu memperoleh keuntungan waktu dibandingkan pemain lain.
Saat lawan masih berusaha memahami situasi di lapangan, Messi sudah memiliki gambaran mengenai opsi yang akan dipilih. Kondisi itu membuatnya tidak selalu harus mengandalkan sprint panjang atau duel fisik untuk menciptakan peluang.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan scanning bukan semata-mata bakat bawaan. Keterampilan tersebut dapat dilatih melalui pembiasaan, pengalaman bermain, dan pemahaman taktik sejak usia muda.
Di tengah ketatnya persaingan sepak bola modern yang semakin mengutamakan kecepatan dan kekuatan fisik, penelitian ini memperlihatkan bahwa kecerdasan membaca permainan tetap menjadi salah satu faktor yang membedakan pemain elite dari pemain lainnya. Performa Lionel Messi di Piala Dunia 2026 menjadi salah satu contoh bagaimana kemampuan tersebut masih mampu memberikan pengaruh besar meski usia terus bertambah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































