Harga Telur Anjlok, Peternak Kulonprogo Tombok Berbulan-bulan

1 hour ago 1

Harga Telur Anjlok, Peternak Kulonprogo Tombok Berbulan-bulan

Suasana peternakan ayam petelur di Karangsari, Pengasih pada Selasa (23/8/2022)/Harian Jogja - Catur Dwi Janati

Harianjogja.com, KULONPROGO— Harga telur ayam di tingkat peternak di Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo, terus berada di bawah harga ideal selama berbulan-bulan. Di tengah harga pakan yang terus naik, telur hasil produksi peternak hanya dihargai sekitar Rp18.000 hingga Rp20.700 per kilogram sehingga sebagian peternak harus tombok untuk menutup biaya operasional.

Kondisi tersebut dialami sejumlah peternak ayam petelur di Lendah. Harga telur di kandang paling tinggi hanya sekitar Rp20 ribu per kilogram, sedangkan harga di tingkat pasar konsumen dapat mencapai Rp27 ribu hingga Rp29 ribu per kilogram.

Bagi peternak, selisih harga tersebut tidak otomatis menjadi keuntungan. Biaya pakan dan operasional justru membuat pendapatan dari penjualan telur belum mampu menutup seluruh pengeluaran.

Peternak Tombok Rp3 Juta Sebulan

Aryami, peternak ayam petelur dari Padukuhan Mirisewu, Kalurahan Ngentakrejo, Lendah, mengatakan kondisi harga telur rendah telah dirasakannya selama lebih dari dua bulan terakhir.

Perempuan berusia 60 tahun itu bahkan mengaku pernah mengalami kerugian sekitar Rp3 juta dalam satu bulan untuk menutup biaya pakan dan operasional peternakan.

"Sebulan pernah tombok Rp3 juta untuk biaya pakan dan operasional peternakan karena harus bayar orang kan. Sedangkan pakannya biasanya lima hari sekali harus beli," katanya saat ditemui di peternakannya, Selasa (11/8/2026).

Aryami mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab harga telur di tingkat peternak terus rendah. Selama ini, dia hanya menerima harga yang ditawarkan pengepul yang biasa mengambil telur dari peternakannya.

Dia juga tidak mengetahui mengapa harga di tingkat peternak maksimal hanya Rp20 ribu per kilogram, sementara harga di pasar dapat mencapai Rp27 ribu hingga Rp29 ribu per kilogram. Aryami memilih tidak berspekulasi mengenai penyebab kondisi tersebut.

"Biasanya kalo anjlok itu saat Iduladha atau bulan Muharam itu pun hanya beberapa pekan saja tidak berkepanjangan," lanjut Aryami.

Menurut Aryami, penurunan harga telur saat Iduladha atau Muharam biasanya terjadi karena permintaan masyarakat menurun. Pada Iduladha, sebagian masyarakat pergi haji, sedangkan intensitas hajatan warga berkurang saat Muharam.

Harga Sempat Rp18.500 per Kilogram

Harga telur yang diterima Aryami dari tengkulak atau pedagang di kandang sempat turun hingga Rp18.500 per kilogram. Harga tersebut kemudian naik tipis menjadi Rp19.400 per kilogram.

Meski sempat menyentuh Rp20.100 per kilogram, harga itu masih jauh dari level yang dinilai ideal untuk menjaga keberlangsungan usaha peternakan.

"Dulu harga ideal dari peternak itu bisa Rp25.000 per kilogram. Bahkan kalau lagi bagus bisa sampai Rp26.000 hingga Rp27.000 per kilogram. Sekarang turun drastis, sementara harga pakan naik terus. Tomboknya banyak memang," ucap Aryami.

Kondisi serupa dialami Jaiman, peternak ayam petelur di Padukuhan Mendiro, Kalurahan Gulurejo, Lendah. Pria berusia 40 tahun tersebut menilai harga telur di tingkat peternak seharusnya minimal Rp25 ribu per kilogram.

Menurut Jaiman, harga Rp25 ribu per kilogram pun belum memberikan keuntungan bagi peternak. Dengan harga tersebut, peternak menurutnya baru dapat menutup biaya pembelian pakan.

Telur Laku Setiap Hari, Harga Tak Naik

Jaiman mengatakan ketidakseimbangan antara harga pakan dan harga telur telah dirasakan sekitar empat bulan terakhir. Harga pakan terus meningkat, sedangkan harga telur di tingkat peternak tidak mengikuti kenaikan tersebut.

"Kalau yang dirasakan peternak sekarang ini memang agak pusing, sudah sekitar 4 bulanan ini. Kenapa? Karena harga telur sama harga pakan itu enggak sesuai. Harga pakan naik terus, sedangkan harga telur enggak bisa naik," ungkapnya.

Menurut Jaiman, persoalan tersebut semakin membingungkan karena hasil produksi telur sebenarnya tetap terserap pasar. Telur yang dipanen setiap hari selalu laku terjual, tetapi harga di tingkat peternak tetap tertahan.

Dia menyebut harga yang diterima peternak berada di sekitar Rp20.700 per kilogram. Sementara itu, harga telur di pasar konsumen akhir masih berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

"Telur itu tiap hari laku, peternak terus diserap tapi harganya kok enggak bisa naik. Saya sampai saat ini belum menemukan titik solusinya itu di mana. Kenapa kok bisa telurnya laku terus tapi harganya enggak bisa naik," tanyanya heran.

Peternak Minta Pemerintah Turun Tangan

Tekanan akibat tingginya biaya produksi dan rendahnya harga telur membuat Jaiman bahkan tidak lagi mampu menghitung total kerugian yang telah ditanggungnya.

"Tomboknya mah enggak terhitung. Yang penting pokoknya sudah banyak lah, enggak bisa dihitung. Pokoknya sudah banyak banget," tuturnya.

Para peternak rakyat berharap pemerintah turun tangan menghadapi persoalan tersebut. Mereka meminta intervensi dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta Presiden untuk menjaga keseimbangan antara harga pakan dan harga telur di tingkat peternak.

Jaiman berharap ada kebijakan konkret agar peternak tidak terus mengalami kerugian akibat ketidakseimbangan biaya produksi dengan harga jual.

"Kami memohon solusinya kepada Bapak Menteri atau Bapak Presiden, gimana caranya supaya peternak ini pakan sama telur itu bisa seimbang dan berjalan, biar peternak enggak rugi terus. Mohon beri kami titik terang," jelas Jaiman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |