Biodiesel B50 Mulai Berlaku 1 Juli, Ini Dampaknya untuk Mesin Diesel

8 hours ago 3

Biodiesel B50 Mulai Berlaku 1 Juli, Ini Dampaknya untuk Mesin Diesel

Foto ilustrasi biodiesel dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah akan memulai implementasi biodiesel B50 pada 1 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Di balik target besar tersebut, muncul pertanyaan yang banyak dibicarakan pemilik kendaraan diesel: apakah biodiesel B50 aman untuk mesin dan bagaimana pengaruhnya terhadap performa kendaraan?

Kebijakan penggunaan biodiesel B50 menjadi tahapan terbaru dalam program pencampuran bahan bakar berbasis minyak sawit yang sebelumnya telah melalui fase B5, B20, B30, hingga B40. Pada skema baru ini, bahan bakar terdiri atas campuran 50% solar dan 50% biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Wahyudi menilai penerapan biodiesel B50 menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat transisi energi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, peningkatan porsi biodiesel dari waktu ke waktu mencerminkan semakin besarnya kontribusi energi terbarukan dalam sektor transportasi nasional.

"Formula B50 ini dirancang khusus bagi kendaraan diesel dengan komposisi 50 persen solar dan 50 persen biodiesel. Perjalanannya cukup panjang dari B5, B20, B30, hingga B40. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan terus ditingkatkan dalam sektor transportasi," ujar Wahyudi, Sabtu (20/6/2026).

Kendaraan Diesel Lama Berpotensi Mengalami Penurunan Performa

Meski dinilai positif dari sisi lingkungan dan kemandirian energi, penerapan biodiesel B50 tetap memerlukan perhatian terhadap kesiapan kendaraan yang beredar di Indonesia.

Wahyudi menjelaskan kendaraan diesel generasi baru umumnya telah dirancang untuk mengakomodasi penggunaan biodiesel dengan kadar campuran yang tinggi. Namun kondisi tersebut belum tentu berlaku pada kendaraan diesel berusia lebih tua.

Menurutnya, mesin diesel lama berpotensi mengalami penurunan performa dan membutuhkan perawatan lebih intensif apabila menggunakan bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang lebih besar.

Secara teknis, biodiesel memiliki karakteristik berbeda dibandingkan solar berbasis fosil. Biodiesel cenderung memiliki tingkat viskositas atau kekentalan yang lebih tinggi serta densitas yang lebih besar. Di sisi lain, nilai kalor yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan solar konvensional.

Perbedaan karakteristik tersebut dapat memengaruhi proses pembakaran di dalam ruang mesin.

"Sifat biodiesel yang lebih kental dibandingkan solar biasa dapat memengaruhi efisiensi pembakaran. Pada kendaraan diesel yang lebih tua, kondisi ini berpotensi menyebabkan tenaga atau performa mesin sedikit menurun dibandingkan saat menggunakan solar murni," katanya.

Risiko Endapan pada Sistem Bahan Bakar

Selain berpengaruh terhadap performa kendaraan, penggunaan biodiesel B50 juga memerlukan perhatian terhadap kualitas bahan bakar yang beredar di pasaran.

Wahyudi menjelaskan biodiesel berpotensi membentuk endapan pada saluran bahan bakar apabila kualitas produk tidak terjaga sesuai standar. Kondisi tersebut dapat menyebabkan filter bahan bakar lebih cepat kotor dan meningkatkan risiko penyumbatan pada sistem distribusi bahan bakar kendaraan.

Karena itu, pemilik kendaraan diesel disarankan melakukan pemeriksaan berkala serta mempercepat jadwal penggantian filter bahan bakar, terutama pada masa awal implementasi B50.

Ia menambahkan penggunaan biodiesel B50 tidak secara langsung menyebabkan kerusakan mesin dalam jangka pendek. Namun, pada kendaraan diesel lama, beberapa komponen berbahan karet pada sistem bahan bakar berpotensi mengalami penurunan kualitas lebih cepat dibandingkan penggunaan solar konvensional.

Selain itu, konsumsi bahan bakar juga diperkirakan sedikit meningkat karena nilai energi biodiesel lebih rendah sehingga diperlukan volume bahan bakar yang lebih besar untuk menghasilkan tenaga yang sama.

Mutu Biodiesel Jadi Faktor Penentu

Menurut Wahyudi, keberhasilan implementasi biodiesel B50 sangat bergantung pada konsistensi kualitas produk yang diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat.

Pemerintah dan produsen memiliki peran penting dalam memastikan biodiesel memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, termasuk menjaga stabilitas bahan bakar selama proses penyimpanan dan distribusi agar tidak mengalami oksidasi yang dapat menurunkan kualitasnya.

"Masyarakat sebenarnya tidak perlu melakukan modifikasi mesin secara khusus. Yang paling penting adalah memastikan bahan bakar yang digunakan memiliki kualitas yang baik dan sesuai standar. Jika kualitas biodiesel terjaga, potensi gangguan pada mesin dapat diminimalkan," ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan teknis tersebut, Wahyudi tetap memandang program biodiesel B50 sebagai langkah strategis untuk mendukung kemandirian energi nasional sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi.

Menurut dia, semakin besar pemanfaatan energi terbarukan dalam bauran energi nasional, semakin kuat pula fondasi ketahanan energi Indonesia pada masa mendatang.

"Tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan yang lebih baik sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Ketika energi terbarukan semakin dominan, ketergantungan terhadap energi fosil dapat berkurang. Karena itu, implementasi B50 patut diapresiasi sebagai bagian dari upaya menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan," kata Wahyudi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |