Jumali Minggu, 21 Juni 2026 23:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA— Timnas Tunisia dipastikan gagal melaju ke fase gugur Piala Dunia 2026 setelah menelan kekalahan telak 0-4 dari Jepang pada laga kedua Grup F di Stadion Monterrey, Meksiko, Minggu (21/6/2026) WIB. Hasil tersebut membuat Elang Kartago harus mengakhiri perjuangan lebih cepat setelah sebelumnya juga dihajar Swedia dengan skor 1-5 pada pertandingan pembuka.
Dua kekalahan beruntun membuat Tunisia hanya mengoleksi nol poin, mencetak satu gol, dan kebobolan sembilan kali dalam dua pertandingan. Catatan tersebut sekaligus memastikan mereka kembali gagal menembus fase knockout Piala Dunia.
Kekecewaan mendalam langsung terlihat seusai pertandingan. Salah satu pemain Tunisia, Ali Abdi, tidak mampu menyembunyikan emosinya saat memberikan wawancara kepada media.
Bek kiri yang bermain untuk klub Prancis, OGC Nice, itu tampak menahan tangis ketika menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung yang telah memberikan dukungan sepanjang turnamen.
"Saya meminta maaf kepada para penggemar. Apa yang terjadi pada kami sungguh tak terbayangkan," ujar Ali Abdi dengan suara bergetar.
Namun, pernyataan Abdi tidak berhenti pada permintaan maaf. Ia juga melontarkan kritik terhadap Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) yang dianggap kurang optimal dalam mempersiapkan tim menghadapi ajang terbesar sepak bola dunia tersebut.
Menurutnya, berbagai perubahan yang terjadi menjelang turnamen justru membuat proses pembentukan tim tidak berjalan maksimal.
"Saya memohon maaf kepada para pendukung Tunisia, bukan kepada orang-orang yang asyik menyebarkan rumor ke sana-sini. Ini tidak menguntungkan negara," katanya.
Abdi menilai skuad Tunisia datang ke Piala Dunia tanpa fondasi yang cukup kuat karena banyak pemain yang belum memiliki pengalaman bermain bersama dalam waktu yang panjang.
Situasi tersebut diperparah dengan pergantian pelatih yang dilakukan setelah kekalahan pada laga pertama. Tunisia diketahui mengganti Sabri Lamouchi dengan Hervé Renard dalam upaya menyelamatkan peluang mereka di turnamen. Namun langkah tersebut tidak mampu mengubah keadaan.
"Kami datang untuk bertanding di Piala Dunia dengan pemain-pemain yang belum pernah bermain bersama sebelumnya. Kami menghancurkan segalanya untuk membangun kembali setiap kali, alih-alih memperbaiki kesalahan," ungkap Abdi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah tim nasional tidak bisa dibangun secara instan hanya dalam hitungan minggu atau beberapa pertandingan persahabatan.
Menurutnya, negara-negara yang mampu bersaing di level tertinggi merupakan tim yang telah menjalani proses panjang, memiliki stabilitas pelatih, serta konsistensi dalam membangun skuad.
"Anda tidak bisa mempersiapkan diri untuk Piala Dunia hanya dengan memainkan beberapa pertandingan melawan lawan yang telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun," ujarnya.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 menjadi tamparan keras bagi Tunisia. Selain tersingkir lebih awal, mereka juga harus menghadapi evaluasi besar terkait sistem pembinaan, perencanaan jangka panjang, hingga kebijakan federasi dalam mempersiapkan tim nasional.
Bagi para pendukung Tunisia, hasil ini tentu mengecewakan. Namun kritik yang muncul dari dalam skuad menunjukkan bahwa persoalan tim tidak hanya terjadi di atas lapangan, melainkan juga berkaitan dengan proses persiapan yang dilakukan sebelum turnamen berlangsung.
Dengan tersingkirnya Tunisia dari Grup F, fokus kini akan tertuju pada langkah federasi dalam melakukan evaluasi menyeluruh agar kegagalan serupa tidak kembali terulang pada turnamen besar berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































