Tren Hamil di Usia 40-an Naik, Teknologi Jadi Kunci

4 hours ago 3

Tren Hamil di Usia 40-an Naik, Teknologi Jadi Kunci

Ibu Hamil, Wanita Hamil, Kehamilan - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Tren kehamilan di usia 40-an semakin meningkat di Amerika Serikat, menandai pergeseran besar dalam cara pandang masyarakat terhadap usia ideal menjadi ibu. Fenomena ini juga terlihat di kalangan selebritas Hollywood seperti Anne Hathaway, Sienna Miller, dan Claire Danes.

Data Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan angka kelahiran pada perempuan usia di atas 40 tahun kini melampaui kehamilan remaja. Kondisi ini sekaligus mematahkan stigma lama bahwa usia 30-an akhir merupakan batas aman untuk memiliki anak.

Aktris Sienna Miller menyoroti adanya standar ganda dalam masyarakat terkait usia orang tua. Ia menyebut perempuan kerap mendapat tekanan sosial berbeda dibandingkan laki-laki dalam hal memiliki anak di usia matang.

"Kita tidak menilai pria yang memiliki anak di usia 80-an, jadi mengapa ada narasi apa pun terkait keputusan perempuan hamil di usia matang?" ujarnya.

Di balik tren tersebut, kemajuan teknologi reproduksi menjadi faktor kunci. Metode seperti bayi tabung (IVF) dan pembekuan sel telur memungkinkan perempuan menunda kehamilan tanpa kehilangan peluang secara biologis.

Dokter spesialis endokrinologi reproduksi sekaligus Chief Clinical Officer Extend Fertility, dr. Joshua Klein, menjelaskan peluang kehamilan tetap terbuka meskipun secara statistik menurun seiring bertambahnya usia.

"Jika peluang pembuahan bulanan adalah lima persen, seseorang tentu bisa — dan pasti akan — berhasil mencapai kehamilan tersebut," kata Klein.

Senada, Direktur Pusat Fertilitas Universitas Columbia, dr. Zev Williams, menegaskan teknologi pembekuan sel telur dapat menjaga kualitas sel telur seiring waktu.

"Jika sel telur atau embrio dibekukan, disimpan, dan dicairkan dengan benar, waktu pada dasarnya berhenti," jelasnya.

Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan adanya risiko medis yang meningkat pada kehamilan usia 40-an, seperti keguguran, kelainan kromosom, dan komplikasi kehamilan.

Faktor kesehatan secara menyeluruh juga menjadi penentu penting. Dokter spesialis fertilitas di CCRM Fertility New York, dr. Sheeva Talebian, menekankan bahwa kondisi tubuh lebih berpengaruh dibanding usia semata.

"Saya lebih memilih seorang wanita berusia 43 tahun yang sehat daripada wanita berusia 30 tahun dengan berbagai kondisi medis," ujarnya.

Perubahan tren ini juga didorong oleh faktor non-medis, seperti kesiapan mental, stabilitas finansial, hingga pilihan hidup individu yang semakin beragam.

Kini, batas usia 35 tahun yang sebelumnya dianggap sebagai titik kritis kesuburan mulai bergeser. Fokus masyarakat beralih pada pendekatan yang lebih holistik dalam perencanaan keluarga.

"Harapan itu penting, namun informasi yang akurat mengenai risiko dan prosedur medis juga sama pentingnya bagi setiap calon ibu," kata Klein.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |