Sultan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Perguruan Tinggi

8 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA—Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk perguruan tinggi di Auditorium Pusat Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (20/8/2026). Program ini didorong menjadi cara untuk mendekatkan pendidikan tinggi dengan kehidupan masyarakat sekaligus menempatkan nilai budaya sebagai bagian penting dalam perjalanan ilmu pengetahuan.

Dalam sambutannya, Sultan menggambarkan keseharian mahasiswa yang setiap pagi bergerak dari kos-kosan menuju ruang kuliah. Dalam perjalanan itu, mereka melewati kampung dengan warga yang bergotong royong, pasar dengan pedagang yang menghitung untung-rugi, hingga sanggar tempat para penari berulang kali melatih gerakan.

Menurut Sultan, berbagai aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat sebenarnya berada sangat dekat dengan ruang pendidikan tinggi. Namun, kedekatan secara fisik belum tentu membuat ilmu yang dipelajari di kampus benar-benar berinteraksi dengan kehidupan masyarakat.

Jarak antara ruang kuliah dan kampung, menurut Sultan, mungkin hanya beberapa ratus meter secara fisik. Tetapi secara epistemologis, jaraknya bisa sangat jauh karena ilmu yang dipelajari di kelas sering kali tidak singgah terlebih dahulu di lingkungan yang dilewati mahasiswa.

Ilmu dapat berangkat dari buku teks, menuju ujian, kemudian menuju ijazah, tetapi terkadang tidak benar-benar kembali kepada kehidupan yang menghidupinya.

"PKJ yang hari ini kita luncurkan bersama, adalah ikhtiar untuk mempersingkat jarak itu. Bukan dengan menambah mata kuliah sebagai formalitas, melainkan dengan mengajak ilmu pengetahuan untuk pulang, singgah dahulu pada nilai, sebelum ia bekerja di dunia," ujarnya.

PKJ Bukan Sekadar Muatan Lokal

Sultan menegaskan gagasan PKJ tidak ingin ditempatkan sebagai muatan lokal yang sekadar ditambahkan ke dalam kurikulum perguruan tinggi yang sudah penuh. Lebih dari itu, PKJ diharapkan menjadi cara pandang dalam melihat bagaimana ilmu pengetahuan dipertanyakan dan digunakan.

Ia mengatakan akar pendidikan selalu memuat dua pertanyaan yang kerap dipisahkan, padahal seharusnya berjalan bersama. Pertanyaan pertama berkaitan dengan bagaimana sesuatu bekerja, sedangkan pertanyaan kedua menyangkut untuk apa ilmu tersebut digunakan.

Pertanyaan tentang bagaimana mencakup cara suatu mesin bekerja, bagaimana suatu kebijakan dirancang, bagaimana suatu penyakit didiagnosis, serta bagaimana suatu pasar bergerak.

Sementara pertanyaan tentang untuk apa membawa persoalan mengenai siapa yang dilayani ilmu tersebut, kehidupan siapa yang diperbaiki, dan kesejahteraan siapa yang menjadi tujuan.

Menurut Sultan, Yogyakarta melalui kekhasannya menawarkan jawaban terhadap pertanyaan kedua tersebut melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana. Falsafah ini mengajarkan bahwa keunggulan ilmu perlu diukur dari kemampuannya merawat harmoni.

"Harmoni antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Maha Kuasa. Ilmu yang hebat namun merusak harmoni ini, betapapun canggihnya, telah kehilangan arahnya," jelasnya.

Ukuran Pendidikan Bukan Jumlah Mata Kuliah

Sultan selanjutnya menekankan bahwa ukuran tertinggi pendidikan tidak semata-mata berada pada jumlah mata kuliah yang diselenggarakan maupun jumlah seminar yang diadakan. Ukuran tersebut terletak pada manfaat pendidikan bagi kehidupan.

Ia mengajak melihat apakah pendidikan membuat manusia lebih merdeka dan apakah ilmu mampu memperkecil penderitaan yang sebenarnya dapat dicegah. Kampus juga perlu mempertanyakan apakah pendidikan memperluas kesempatan bagi mereka yang selama ini berada di pinggir.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Sultan, harus terus menyertai perjalanan Pendidikan Khas Kejogjaan jauh melampaui momentum peluncurannya.

Sultan mengajak menjadikan PKJ sebagai gerakan ilmu yang berjiwa budaya. Kebudayaan ditempatkan sebagai sumber nilai, ilmu sebagai alat pemuliaan, dan kesejahteraan manusia sebagai tujuan akhirnya.

"Sebab ilmu yang tidak pernah pulang kepada nilai, cepat atau lambat, akan kehilangan arah untuk apa ia bekerja," lanjutnya.

Menteri Pendidikan Tinggi Apresiasi PKJ

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Dewan Pendidikan DIY, UNY, serta seluruh pihak yang telah menginisiasi Pendidikan Khas Kejogjaan.

Brian mengatakan Jogja memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam perjalanan pendidikan di Indonesia. Dari kota ini telah lahir banyak pemikir, ilmuwan, pemimpin, dan generasi muda yang kemudian memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

"Keistimewaan Yogyakarta juga tumbuh dari nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Filosofi seperti Hamemayu Hayuning Bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, serta semangat golong gilig mengandung pesan tentang harmoni, keteguhan, tanggung jawab, dan kebersamaan," ujarnya.

Peluncuran PKJ untuk perguruan tinggi tersebut menempatkan nilai-nilai kekhasan Jogja sebagai bagian dari upaya mempertemukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |