Stutter Step di Piala Dunia 2026, Mbappe Sukses, Neymar Pensiun

5 hours ago 2


Harianjogja.com, JOGJA— Setiap edisi Piala Dunia selalu menghadirkan tren yang menarik perhatian, dan pada edisi 2026, salah satu fenomena yang paling mencolok adalah semakin populernya teknik stutter step saat mengeksekusi penalti.

Teknik yang mengandalkan gerakan memperlambat langkah sebelum menendang bola itu membuat para bintang dunia terlihat sangat tenang ketika berhasil, tetapi juga bisa tampak canggung ketika gagal. Bagi masyarakat awam yang mungkin hanya sesekali menyaksikan pertandingan, teknik ini mungkin terlihat seperti gerakan sederhana, namun di baliknya terdapat tekanan mental yang luar biasa yang harus dihadapi para pemain di momen krusial.

Beberapa pemain terbaik dunia seperti Lionel Messi, Kylian Mbappe, Cristiano Ronaldo, Harry Kane, hingga Neymar menjadi pengguna teknik tersebut sepanjang turnamen. Hasilnya pun beragam. Ada yang sukses membawa timnya melaju, ada pula yang harus menanggung kegagalan pada momen krusial. Mbappe, misalnya, berhasil memanfaatkan teknik tersebut untuk membantu Prancis melangkah ke babak berikutnya.


Sebaliknya, kegagalan penalti dengan teknik serupa ikut mewarnai langkah Brasil yang harus tersingkir dari turnamen. Messi bahkan sempat gagal mengenai sasaran saat menggunakan stutter step pada fase grup. Bagi Neymar, penalti dengan teknik tersebut menjadi salah satu momen terakhirnya bersama tim nasional Brasil. Pemain berusia 34 tahun itu sukses mengeksekusi penalti saat menghadapi Norwegia sebelum mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional.

Teknik stutter step atau paradinha, yang dalam bahasa Portugis berarti "berhenti sejenak", diyakini berasal dari Brasil pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an. Pelé menjadi sosok yang mempopulerkannya sebelum diteruskan oleh generasi berikutnya, termasuk Neymar.

Pada 2010, saat masih berusia 18 tahun dan membela Santos, Neymar sempat membuat dunia sepak bola tercengang dengan gaya penalti yang sangat ekstrem. Ia melangkah perlahan, berhenti tepat di samping bola hingga membuat kiper lebih dulu menjatuhkan diri, sebelum akhirnya dengan tenang menendang bola ke gawang. Aksi tersebut memicu perubahan aturan FIFA.

Sejak saat itu, pemain tetap diperbolehkan melakukan tipuan selama masih berada dalam fase ancang-ancang. Namun, mereka dilarang berhenti atau melakukan gerakan tipuan setelah ancang-ancang selesai dan tepat sebelum menendang bola. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat berujung kartu kuning dan gol dianulir.

Inti dari teknik stutter step adalah memancing kiper bergerak lebih dahulu sehingga penendang memiliki ruang yang lebih mudah untuk mengarahkan bola ke sisi gawang yang kosong.

Profesor Geir Jordet dari Norwegian School of Sport Sciences, yang juga penulis buku Pressure: Lessons from the Psychology of the Penalty Shootout, menyebut teknik ini sebagai goalkeeper-dependent technique atau teknik yang bergantung pada reaksi penjaga gawang. "Teknik ini sangat rumit dan sulit dilakukan ketika tekanan benar-benar tinggi. Jika dieksekusi dengan baik, risiko kiper menebak arah bola dapat berkurang secara signifikan," ujar Jordet, dikutip dari AP.

Namun, menurutnya, pemain harus memiliki kejernihan berpikir yang luar biasa agar mampu mengeksekusi teknik tersebut dengan sempurna di bawah tekanan. "Anda membutuhkan ketenangan mental yang sangat tinggi untuk bisa melakukannya," katanya.

Selain stutter step, dunia sepak bola sempat mengenal teknik hop-skip yang pernah dipopulerkan Bruno Fernandes dan Jorginho beberapa tahun lalu. Namun kini, stutter step menjadi teknik yang paling banyak digunakan para eksekutor penalti elite. Messi sempat gagal saat menggunakan teknik tersebut ketika menghadapi Austria pada fase grup.

Pada pertandingan berikutnya melawan Mesir, ia memilih ancang-ancang biasa, tetapi tendangannya justru berhasil ditepis penjaga gawang. Harry Kane juga mengalami pengalaman serupa. Penalti pertamanya saat melawan Kroasia berhasil digagalkan setelah menggunakan stutter step. Namun, karena kiper lebih dahulu meninggalkan garis gawang, tendangan diulang. Pada kesempatan kedua Kane memilih ancang-ancang normal dan sukses mencetak gol.

Sementara itu, Cristiano Ronaldo sukses menggunakan teknik tersebut ketika membawa Portugal mengalahkan Kroasia 2-1 pada babak 16 besar. Mbappe juga berhasil memanfaatkannya saat memastikan kemenangan Prancis atas Paraguai.

Salah satu eksekutor terbaik dengan teknik ini adalah striker Meksiko, Raúl Jiménez. Saat menghadapi Inggris, ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dengan beberapa kali memperlambat langkah sebelum mencetak gol dari titik putih. Jiménez bahkan tercatat sebagai salah satu penendang penalti paling sempurna dalam sejarah Liga Inggris setelah berhasil mencetak gol dari seluruh 14 penalti yang pernah diambilnya. Meski efektif, stutter step kini mulai kehilangan unsur kejut. Para penjaga gawang makin memahami pola tersebut dan tidak lagi mudah terpancing bergerak lebih awal.

Menurut Jordet, banyak kiper mulai mengubah pendekatan mereka dengan tetap bertahan lebih lama di garis gawang, bahkan menggunakan gerakan tubuh tertentu untuk memberikan tekanan psikologis kepada penendang. Akibatnya, kegagalan menggunakan stutter step makin sering terjadi, terutama pada pertandingan dengan tekanan tinggi.

Bruno Guimarães menjadi salah satu contohnya. Gelandang Brasil itu gagal mengeksekusi penalti saat skor masih 0-0 pada babak 16 besar melawan Norwegia. Brasil akhirnya kalah 1-2 dan tersingkir. Nasib serupa dialami Justin Kluivert ketika Belanda menghadapi Maroko dalam adu penalti. Masuk sebagai pemain pengganti khusus untuk menjadi eksekutor, Kluivert justru menendang bola membentur tiang gawang. Fenomena tersebut menunjukkan stutter step tetap menjadi salah satu teknik penalti paling menarik dalam sepak bola modern. Ketika berhasil, teknik itu mampu memperlihatkan kecerdasan dan ketenangan seorang pemain.

Namun, ketika gagal, satu langkah yang terlalu lama atau satu keraguan kecil dapat mengubah seorang pahlawan menjadi sosok yang paling disorot setelah pertandingan berakhir. Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, teknik ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap tendangan penalti, ada drama psikologis yang tak kalah seru dengan pertandingan itu sendiri, dan momen-momen seperti inilah yang membuat sepak bola selalu menghadirkan cerita yang tak terlupakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |