Jumali Jum'at, 10 Juli 2026 21:57 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan besar sedang terjadi di dunia kerja. Jika dulu ijazah menjadi salah satu syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan, kini perusahaan semakin fokus mencari kandidat yang memiliki keterampilan nyata dan siap diterapkan di tempat kerja.
Perubahan tersebut didorong oleh perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), yang mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri. Akibatnya, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi cepat dengan perubahan dan memiliki kemampuan yang relevan dengan kebutuhan pasar.
Bagi mahasiswa maupun pencari kerja, kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa strategi membangun karier juga harus berubah. Gelar pendidikan tetap memiliki nilai penting, tetapi kini harus diperkuat dengan bukti kompetensi yang dapat diukur dan diakui industri.
Laporan Coursera Micro-Credentials Impact Report 2026 menunjukkan tren tersebut telah menjadi praktik umum di berbagai negara. Sebanyak 98 persen perusahaan secara global kini menerapkan sistem rekrutmen berbasis keterampilan atau skills-based hiring untuk posisi entry-level.
Artinya, perusahaan tidak lagi hanya melihat latar belakang pendidikan seseorang, tetapi juga menilai kemampuan yang benar-benar dimiliki calon pekerja. Sertifikasi kompetensi atau micro-credentials menjadi salah satu alat yang digunakan perusahaan untuk memastikan kandidat memiliki keterampilan yang dibutuhkan.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Sebanyak 97 persen perusahaan telah menerapkan pendekatan rekrutmen berbasis keterampilan dalam proses pencarian karyawan baru.
Kondisi ini membuat sertifikasi keahlian memiliki nilai yang semakin penting. Sertifikasi menjadi bukti bahwa seseorang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan yang siap digunakan sejak hari pertama bekerja.
Perubahan kebutuhan industri diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa tahun mendatang. Berdasarkan laporan yang sama, sebanyak 85 persen perusahaan di Indonesia memperkirakan lebih dari 30 persen keterampilan utama yang dibutuhkan saat ini akan berubah sebelum tahun 2030.
Situasi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi. Kampus dituntut mampu menyesuaikan kurikulum agar tidak hanya berisi teori akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh sertifikasi yang relevan dengan kebutuhan industri.
Jika tidak beradaptasi, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh institusi pendidikan. Sebanyak 67 persen pimpinan perguruan tinggi di Indonesia mengakui bahwa keterlambatan menghadirkan program sertifikasi berpotensi menurunkan daya tarik kampus di mata calon mahasiswa.
Di sisi lain, manfaat sertifikasi terlihat cukup signifikan. Sebanyak 97 persen lulusan di Indonesia yang memiliki sertifikasi industri berhasil memperoleh pekerjaan yang sesuai dalam waktu kurang dari satu tahun setelah lulus.
Dari perspektif perusahaan, manfaatnya juga sangat jelas. Sebanyak 96 persen perusahaan di Indonesia menilai karyawan baru yang memiliki sertifikasi menunjukkan kinerja yang lebih baik selama tahun pertama bekerja dibandingkan mereka yang tidak memiliki sertifikasi.
Bahkan secara global, sebanyak 94 persen perusahaan menyatakan bersedia memberikan gaji awal yang lebih tinggi kepada kandidat yang memiliki sertifikasi industri yang relevan.
Tren tersebut menunjukkan bahwa sertifikasi kini bukan lagi sekadar pelengkap dalam curriculum vitae. Bagi banyak perusahaan, sertifikasi telah menjadi indikator kesiapan kerja yang memiliki nilai nyata.
Menariknya, mahasiswa Indonesia juga semakin selektif dalam memilih program sertifikasi. Mereka tidak hanya mencari sertifikat yang populer, tetapi juga mempertimbangkan manfaat akademik dan relevansi terhadap kebutuhan industri.
Sebanyak 88 persen mahasiswa Indonesia lebih tertarik mengikuti sertifikasi yang dapat dikonversi menjadi Satuan Kredit Semester (SKS). Angka ini jauh lebih tinggi dibanding minat terhadap sertifikasi biasa tanpa konversi SKS yang hanya dipilih sekitar 10 persen mahasiswa.
Selain itu, mahasiswa semakin menyukai sertifikasi berbasis praktik langsung. Sebanyak 87 persen responden menilai program yang melibatkan proyek nyata atau dirancang bersama mitra industri lebih efektif dalam mempersiapkan karier dibanding pembelajaran yang hanya berfokus pada teori.
Perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat membuat kemampuan belajar dan meningkatkan keterampilan menjadi kebutuhan utama. Karena itu, mahasiswa, pencari kerja, dan perguruan tinggi perlu bergerak lebih cepat untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan industri yang terus berubah.
Di era AI dan transformasi digital saat ini, kombinasi antara pendidikan formal, pengalaman praktik, dan sertifikasi yang relevan menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































