DIY Hadapi Lonjakan Lansia, Layanan Hospice Dinilai Kian Dibutuhkan

3 hours ago 2

DIY Hadapi Lonjakan Lansia, Layanan Hospice Dinilai Kian Dibutuhkan

Wali Kota Jogja Hasto Waryodo saat menjadi Keynote Speech seminar medis bertajuk Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care yang berlangsung di Auditorium Bethesda, Jumat (10/7/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di DIY mulai memunculkan tantangan baru bagi sektor kesehatan. Di tengah tingginya angka aging population, RS Bethesda Jogja mendorong pengembangan hospice sebagai pelengkap layanan perawatan paliatif agar pasien penyakit kronis yang sudah tidak lagi merespons terapi medis tetap memperoleh pendampingan optimal, baik di rumah sakit maupun ketika kembali ke lingkungan keluarga.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam seminar medis bertajuk Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care yang berlangsung di Auditorium Bethesda, Jumat (10/7/2026). Forum tersebut mengangkat pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menghadapi perubahan struktur penduduk yang semakin didominasi kelompok lanjut usia.

Hospice merupakan bentuk perawatan dan pendampingan khusus bagi pasien dengan penyakit kronis stadium lanjut yang pengobatan medisnya tidak lagi efektif atau sudah tidak mampu menyembuhkan. Berbeda dengan perawatan rumah sakit konvensional yang berfokus pada penyembuhan (kuratif), hospice lebih menitikberatkan pada peningkatan kualitas hidup pasien di sisa usia mereka (paliatif).

Penghubung Rumah Sakit dan Keluarga

Direktur RS Bethesda Jogja, dr. Edy Wibowo, menjelaskan layanan paliatif diberikan ketika pengobatan medis sudah tidak lagi memberikan hasil yang optimal bagi pasien. Pada fase tersebut, fokus pelayanan bergeser menjadi upaya menjaga kualitas hidup melalui pendampingan yang melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar.

"Paliatif itu adalah kondisi di mana pasien untuk mendapatkan obat medis sudah tidak membantu lagi. Oleh karena itu, kita ingin mendorong agar pasien yang bersangkutan juga bisa dapat penanganan di luar rumah sakit, baik di rumah bersama keluarga, atau di masyarakat," ujar Edy saat ditemui di sela-sela acara, Jumat.

Menurut Edy, salah satu kebutuhan yang perlu mulai diwujudkan adalah keberadaan hospice. Fasilitas ini dirancang sebagai tempat transisi yang mempersiapkan pasien beserta keluarganya sebelum menjalani perawatan mandiri di rumah.

Ia menilai konsep tersebut masih relatif baru di Indonesia dan belum banyak tersedia, termasuk di Yogyakarta maupun Jakarta. Padahal, hospice dapat menjadi penghubung antara layanan medis di rumah sakit dengan perawatan berbasis keluarga sehingga kesinambungan pelayanan kepada pasien tetap terjaga. "Hospice ini yang diperlukan kebetulan di Jogja belum ada," ujarnya.

Pengalaman RS Bethesda dalam mendampingi penyandang disabilitas fisik maupun paraplegia melalui pusat rehabilitasi pascabencana akan menjadi pijakan untuk mengembangkan layanan serupa bagi pasien dengan penyakit kronis berat (illness).

"Kasus paliatif ini contohnya kanker stadium lanjut yang sudah dipasang ventilator di ICU, lalu dokter menyatakan sudah tidak ada obat yang bisa menangani. Kami akan mengambil peran di situ, melatih keluarga agar pasien di rumah mendapatkan penanganan sebaik-baiknya. Tempat ini nantinya juga menjadi pusat pelatihan bagi keluarga, bukan hanya untuk yang sakit," imbuhnya.

Selain memperkuat layanan paliatif, RS Bethesda juga berencana mengintegrasikan pengembangan hospice dengan pelayanan kedokteran herbal atau jamu yang saat ini tengah dikembangkan rumah sakit tersebut.

Peningkatan Penduduk Lansia

Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, memaparkan bahwa DIY bersama Jawa Tengah merupakan wilayah dengan laju peningkatan penduduk lanjut usia tercepat di Indonesia.

Saat ini, proporsi lansia di DIY telah mencapai hampir 17,8%, tertinggi secara nasional. Seiring bertambahnya usia penduduk, berbagai penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan, seperti stroke, menopause, hingga gangguan kardiovaskular, juga diperkirakan semakin meningkat. Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Yogyakarta kini mencapai 76 tahun.

"Sejak tahun 2015 sudah terjadi cross-cutting antara jumlah balita dan lansia. Total fertility rate di Yogyakarta berada di angka 1,6. Kita akan mengalami zero growth hingga minus growth, dan dependency ratio [rasio ketergantungan] diproyeksikan mendekati 50 pada periode 2025–2030," jelas Hasto.

Ia mengingatkan perubahan demografi tersebut dapat berdampak pada kondisi ekonomi apabila tidak dibarengi peningkatan produktivitas masyarakat usia kerja.

"Ini masalah serius bagi wilayah yang belum kaya. Kita bisa terjebak dalam middle income trap dan mengalami kondisi growing old before growing rich [menjadi tua sebelum menjadi kaya]. Kebugaran produktivitas serta pemberdayaan perempuan menjadi kunci kunci utama mengurangi beban dependensi," tegasnya.

Pemkot Jogja Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis Komunitas

Menghadapi perubahan komposisi penduduk, Pemerintah Kota Jogja telah menyiapkan berbagai langkah melalui penguatan layanan kesehatan berbasis keluarga dan masyarakat.

Salah satu program Quick Win yang disiapkan adalah penempatan satu bidan atau satu perawat di setiap kelurahan untuk menginisiasi gerakan Hospitality at Home, sehingga pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih dekat.

Hingga Juni 2026, Pemkot Yogyakarta telah melaksanakan skrining kesehatan gratis terhadap 36.428 lansia yang berada di 45 kelurahan. Program tersebut diperkuat melalui pengumpulan data surveilans laboratorium serta pemeriksaan fisik diagnostik oleh Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

"Kami mengadopsi konsep active aging dari WHO yang bertumpu pada pilar kesehatan, keamanan, dan partisipasi. Kesadaran pencegahan dini harus terus disosialisasikan karena penurunan massa tulang (peak bone mass) sebenarnya sudah terjadi sejak usia 32 tahun," tutur Hasto.

Selain skrining kesehatan, Pemkot Jogja juga melakukan pendampingan terhadap lebih dari 900 pasien dengan penyakit kronis, seperti kanker payudara dan kanker serviks.

Pemerintah turut memberi perhatian pada meningkatnya gangguan kesehatan mental (mental disorder) yang berdasarkan data SDKI mengalami kenaikan sebesar 9,8%. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan pendekatan yang menyeluruh melalui mitigasi gejala, dukungan psikologis, serta pendampingan spiritual secara bersamaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |