
Dr. Siti Nur\'aini, S.T, M. T., M.Sc.\r\nDosen Teknik Geologi, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta\r\n\r\n
Dr. Siti Nur'aini, S.T, M. T., M.Sc.
Dosen Teknik Geologi, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta
Batuan dari Formasi Nanggulan di Kulonprogo menyimpan jejak lingkungan laut purba, termasuk indikasi endapan yang terbentuk ketika badai menyerang wilayah pesisir. Keunikan komposisi dan posisi sejumlah penciri batuan membuat studi mengenai endapan badai purba tersebut menarik untuk terus dikembangkan.
Dalam ilmu kebumian, salah satu kajian yang dilakukan adalah mempelajari model lingkungan pengendapan suatu cekungan. Lingkungan pengendapan merupakan wadah tempat terkumpulnya material sedimen, seperti pasir, lempung, kerikil, cangkang, dan material lainnya.
Pembentukan lingkungan pengendapan dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain tipe batuan yang mengisi, proses transportasi material, konfigurasi struktur cekungan, iklim, serta fluktuasi muka laut. Secara garis besar, pembentukan wadah tersebut melibatkan proses eksogenik dan endogenik, sedangkan batuan sedimen sebagai pengisi cekungan sangat dipengaruhi proses fisika, kimia, dan biologi.
Formasi Nanggulan Simpan Jejak Lingkungan Laut
Batuan yang berasal dari Formasi Nanggulan telah diinterpretasikan sebagai batuan yang diendapkan di lingkungan laut tepi, mulai wilayah transisi seperti rawa-rawa atau payau hingga laut paparan.
Interpretasi tersebut didukung oleh penemuan fosil Nummulithes, Conodonta, fosil jejak, dan fosil daun dalam batuan Formasi Nanggulan.
Proses transportasi material sedimen di wilayah tersebut dapat dipengaruhi arus pasang-surut maupun serangan gelombang badai. Penciri batuan sedimen yang mengalami gangguan akibat arus pasang-surut juga dapat ditemukan dalam Formasi Nanggulan, demikian pula batuan yang diendapkan ketika badai menyerang.
Kejadian badai di laut lepas tercetus akibat peningkatan temperatur air laut yang diikuti penurunan tekanan udara. Kondisi tersebut kemudian disusul hembusan angin yang semakin meningkat sehingga menghasilkan gelombang-gelombang di permukaan laut yang bergerak menuju pesisir atau pantai.
Gelombang tersebut mampu menggerakkan sedimen lunak di dasar laut sehingga permukaannya menjadi tidak rata dan membentuk bukit-bukit kecil. Bentukan bergelombang seperti bukit kecil tersebut dinamakan hummock.
Hummock berpasangan dengan swale yang bentuknya seperti mangkuk kecil dan berada di bagian tengah. Namun, hummock dan swale belum tentu hadir secara bersamaan.
Penelitian Endapan Badai Purba Sejak 2021
Penelitian mengenai batuan endapan badai purba di Formasi Nanggulan, Kulonprogo, telah dilakukan sejak 2021. Meski demikian, masih terdapat sejumlah hal yang belum terpecahkan.
Salah satu pertanyaan yang masih dikaji adalah bagaimana sebaran tekstur dan struktur batuan sedimen hasil badai secara vertikal dan lateral. Selain itu, penelitian juga mempertanyakan bagaimana tipe batuan hasil badai ketika pasokan sedimennya berlimpah maupun ketika jumlahnya sedikit.
Batuan hasil bencana badai purba yang ditemukan dalam Formasi Nanggulan memiliki keunikan dibandingkan paket endapan batuan hasil badai berdasarkan model peneliti terdahulu, yakni Myrow dkk. (2002) dan Einsele (1993).
Salah satu keunikan tersebut terdapat pada pengisi lapisan dasarnya. Lapisan itu memiliki komposisi koral soliter, mineral glaukonit, kwarsa, gelas, plagioklas, fragmen batuan kwarsit, andesit, pecahan cangkang moluska, foram bentonik, dan algae.
Komposisi lapisan alas tersebut tidak dijabarkan dalam model awal. Padahal, komposisi lapisan alas dapat menentukan kondisi geografi pantai purbanya.
Oksidasi Besi hingga Posisi Fosil Jejak
Keunikan lain juga terlihat dari tingginya oksidasi besi. Kondisi tersebut berhubungan dengan iklim purba yang ekstrem panas di wilayah pesisir.
Selain itu, terdapat perbedaan posisi fosil jejak dibandingkan model awal. Fosil jejak justru ditemukan pada bagian tengah endapan badai dan bukan di bagian teratasnya seperti pada model awal Bourgeois dan Dott (1982).
Berbagai temuan tersebut menunjukkan masih terdapat aspek yang perlu dipahami lebih jauh dari batuan endapan badai purba di Formasi Nanggulan. Sebaran tekstur dan struktur, variasi pasokan sedimen, komposisi lapisan alas, oksidasi besi, hingga posisi fosil jejak menjadi bagian dari persoalan yang menarik untuk dikaji.
Studi batuan endapan badai purba karena itu menjadi hal yang menarik dan perlu terus diterapkan pada lokasi lainnya. Dengan penelitian di lokasi lain, konsep mengenai endapan badai purba diharapkan semakin berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558829/original/015961100_1776485350-IMG_20260418_120558_524.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399789/original/029438800_1762005007-Dewa_United_vs_Shan_United-8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9156133/original/040188200_1783083936-1000458903.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/9199541/original/061391100_1783105771-ChatGPT_Image_Jul_4__2026__02_06_16_AM.jpg)