Rahadian Minta Maaf usai Kenakan Kebaya di Kirab 1 Suro Mangkunegaran

6 hours ago 2

Jumali

Jumali Jum'at, 19 Juni 2026 17:57 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Kontroversi yang muncul dalam pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, akhirnya memasuki babak baru. Rahadian M Saputra, pria yang menjadi sorotan karena mengikuti prosesi sakral tersebut dengan mengenakan kebaya hitam dan sanggul, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada keluarga besar Mangkunegaran dan masyarakat luas.

Permintaan maaf itu disampaikan Rahadian melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Jumat (19/6/2026), setelah beberapa hari terakhir namanya menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Dalam pernyataannya, Rahadian mengakui bahwa keputusan mengenakan busana yang secara tradisional diperuntukkan bagi peserta perempuan merupakan keputusan pribadi yang ia ambil secara sadar tanpa paksaan dari pihak mana pun.

“Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu,” ujar Rahadian dalam video tersebut.

Ia menegaskan seluruh tanggung jawab atas tindakannya berada pada dirinya sendiri dan tidak melibatkan pihak lain.

“Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya,” lanjutnya.

Polemik bermula ketika foto Rahadian mengikuti Kirab Malam 1 Suro dengan mengenakan kebaya hitam, kain batik, dan sanggul beredar luas di media sosial. Penampilannya memicu beragam reaksi karena dinilai tidak sesuai dengan tata busana yang telah diatur dalam tradisi Mangkunegaran.

Dalam prosesi tersebut, peserta laki-laki diwajibkan mengenakan beskap hitam lengkap dengan keris, sedangkan peserta perempuan mengenakan kebaya hitam dan sanggul sebagai bagian dari pakem adat yang telah berlangsung turun-temurun.

Perdebatan semakin meluas setelah muncul tanggapan Rahadian di media sosial yang menyebut bahwa pakaian tidak memiliki jenis kelamin. Pernyataan tersebut memunculkan reaksi beragam dari warganet dan sejumlah pemerhati budaya.

Kontroversi juga sempat menyeret nama aktris dan influencer Paola Serena. Ia mengunggah foto bersama Rahadian dan menyatakan temannya telah memperoleh izin untuk mengenakan kebaya dalam prosesi tersebut.

Namun, pernyataan itu kemudian dibantah oleh pihak Pura Mangkunegaran.

Ketua Panitia Penyelenggara 1 Suro BE 1960 Mangkunegaran, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, menegaskan panitia tidak pernah memberikan dispensasi maupun perlakuan khusus kepada siapa pun terkait aturan busana kirab.

“Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura. Panitia penyelenggara tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun,” tegas Gusti Sura melalui akun Threads pribadinya.

Di tengah kritik yang terus mengalir, Rahadian mengaku telah menggunakan waktu beberapa hari terakhir untuk melakukan refleksi diri dan mendengarkan berbagai masukan dari masyarakat.

Ia menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga besar Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa, serta seluruh pihak yang merasa kecewa maupun tersinggung atas tindakannya.

Menurut Rahadian, kritik yang diterimanya menjadi pelajaran penting agar lebih memahami nilai-nilai budaya dan adat yang berlaku dalam sebuah kegiatan sakral.

“Kritik dan saran yang diberikan akan saya jadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan saya berjanji untuk tidak melakukan dan mengulangi hal ini lagi,” katanya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi, tetapi juga menghormati aturan dan nilai yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Di era media sosial yang memberi ruang luas bagi ekspresi pribadi, pemahaman terhadap konteks budaya lokal dinilai tetap penting, terutama ketika seseorang terlibat dalam kegiatan adat yang memiliki makna sakral bagi masyarakat.

Rahadian menutup pernyataannya dengan harapan agar keluarga besar Mangkunegaran dan masyarakat dapat memaafkan kesalahan yang telah diperbuatnya.

“Sekali lagi saya mohon maaf kepada seluruh keluarga besar Mangkunegaran dan seluruh masyarakat yang terdampak atas tindakan saya ini,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |